Showing posts with label mantra. Show all posts
Showing posts with label mantra. Show all posts

12 April 2013

Tragikomedi Rakyat

30 Juli 2004 - 12 April 2013

Yang paling tragis dan menyedihkan menyayat hati, sekaligus konyol dan bersifat ketolol-tololan dari tragikomedi kehidupan sesuatu objek bernama 'rakyat' adalah; mereka suka, gemar, perlu, butuh, cinta, berhasrat, kecanduan, ketergantungan, dan sakau menggelepar-gelepar untuk menipu, membohongi, mempertolol, dan menggobloki dirinya sendiri hingga detak kesadaran yang terakhir.

28 August 2012

Jiwa Merdeka

16 Juni 2006 8:42:45

Segala yang sejati hanya tumbuh dari jiwa yang merdeka.

Jadilah Murtad

22 Juli 2006 0:41:47

Agama, walaupun tidak seluruhnya, benar-benar menggobloki umat manusia. Menggobloki dalam segala hal dan semakin goblok sang manusia, maka semakin ia tertungging-tungging pada agama - yang mana akan semakin dan semakin menggoblokinya lagi.

Kukatakan tidak seluruhnya, karena memang bahkan dalam suatu agama pun, tidak secara keseluruhan agama itu bersifat menggobloki. Dari aliran yang satu ke aliran yang lain memiliki perbedaannya masing-masing, bahkan antara pemuka yang satu dengan pemuka yang lain pun punya tingkat menggobloki yang berbeda-beda.

Yang sulit adalah ketika pengetahuan telah memiliki cap sebagai salah satu sumber dosa berat. Maka sejak saat itu orang akan terseret-seret dalam ketakutannya, menjadi goblok dan sedemikian setia kepada kegoblokannya itu sehingga ia merelakan diri untuk menjadi semakin goblok dari hari ke hari.

Ada yang mendalilkan bahwa mencoba untuk mempelajari agama sebagai dan melalui sudut pandang sejarah adalah suatu dosa - dengan dasar berbagai macam alasan yang bolak-balik bersumber dari buku-buku tua nan usang bau ompol bernama kitab suci. Pengetahuan yang bersarang di dalam kepala seseorang lantas tinggal menjadi monopoli sang agama, dan dengan demikian kebenaran baginya pun sebatas pada batas-batas yang ditentukan oleh sang agama. Hasilnya adalah manusia-manusia yang KERDIL, PENAKUT, GOBLOK, TOLOL, DUNGU, dan sedemikian bangga - dengan disertai ketakutan - atas gelar-gelarnya itu sehingga mereka berlomba-lomba untuk semakin dan semakin KERDIL serta DUNGU. Sejauh yang mereka mampu.

Mereka mengaduk-aduk antara iman dengan sejarah, iman dengan ilmu pengetahuan, iman dengan politik, iman dengan hukum, bahkan mereka gunakan iman mereka sendiri dalam melihat manusia lain dengan iman yang berbeda. Menjadi sebuah pertunjukkan tragikomedi yang berputar-putar dengan cerita masyarakat dengan KEKERDILAN dan KEDUNGUAN kolektif.

Pada seseorang telah kukatakan bahwa sejarah adalah sejarah dan iman adalah iman. Jangan pernah kau melihat sejarah sebagai suatu objek untuk imanmu, dan sebaliknya kau boleh memegang teguh imanmu, tapi jangan pernah kau mengklaim kebenaran sejarah dengan dasar imanmu itu.

Tetapi siapalah aku dengan kata-kataku itu, dibandingkan dengan orang yang telah berhasil mencuci otaknya, mengisinya dengan kebohongan, menggoblokinya, mempertololnya, memperkosa logikanya, memberangus nalarnya, dan memasung keberanian berpikirnya - hingga ia menjadi manusia yang KERDIL lagi DUNGU.

Ia tetap membaca sejarah dengan imannya, dan tetap menganggap imannya adalah sejarah. Ia pun melihat ilmu pengetahuan melalui imannya, dan ia anggap imannya adalah ilmu pengetahuan. Kemudian ia mencari-cari pembenaran bagi KEDUNGUANNYA itu dengan cara yang KERDIL, kemudian ia bela pendiriannya dengan menyelipkan iman ke manapun ia bisa menyelip dengan cara mengambil bocat-bacot dari kitab-kitab omong kosongnya. Setelah itu ia kebingungan sendiri karena logika yang mampet dan nalar yang terpasung, maka ia menutup mata dan menjadi tuli, seraya berdoa meminta ampun karena telah mendengar kata-kata setan bin iblis, terakhir - ia menjadi bangga karena telah sekali lagi berhasil menjaga dirinya supaya tidak keluar dari lingkaran KEKERDILAN dan KEDUNGUAN.

Tinggalkan agama, jadilah murtad dan pendosa, maka matamu kan terbuka.

Manusia

12 April 2006 17:43:47

Ialah mahluk yang dipenuhi dengan kebohongan dan penipuan diri, yang ingkar terhadap nalar dan keyakinannya, yang bermuka-muka dan sarat akan kemunafikan.

Penjilat-penjilat pantat sejati yang hanya mampu mengemisi keselamatan diri seraya menikam siapapun dari belakang ketika kesempatan untuk itu tiba. Jahanam sejati pengkhianat kebenaran, yang menjilat ludahnya sendiri, yang tidak henti-hentinya melacurkan jiwanya, yang tunduk dan takluk kepada ketakutan. Keparat hina-dina penyembah kepalsuan.

Kitalah mahluk terkutuk itu. Kitalah sang lacur.

Orang-orang Kesepian

15 Mei 2006 23:38:06

Seperti bulan yang mengambang sendirian di langit hitam, ada orang-orang yang ditakdirkan untuk menjadi orang yang kesepian. Tak dimengerti dan terasing, berkawan mimpi dan harapan. Tenggelam dalam penantian dan kesunyian.

Aku Ingin Pergi

17 Juni 2006 12:06:22

Aku ingin pergi. Pergi jauh entah ke mana. Melintas jalan-jalan panjang merengkuh jarak, berpayung langit berkawan diri. Menjenguk bintang di atas samudra, membelai mentari membakar bumi, mereguk sayat dingin angin pegunungan.

Aku sungguh ingin pergi. Melarikan diri dari kepalsuan dan kepengecutan ini, tempatku seharusnya bukan di sini. Aku bukan anjing peliharaan, aku bukan hamster yang goblok atau kucing persia yang tolol. Aku adalah tikus liar, aku adalah anjing pengembara, aku adalah camar.

Aku sungguh sangat ingin pergi.

Terbitlah!

21 Juni 2006 2:34:32

Gelap.

Terbitlah! Terbitlah hai matahari. Terangilah segala, perlihatkan pada bola mataku, tunjukkan padaku semuanya. Kenyataan itu, kebenaran, apa yang tersembunyi dalam rahasia kegelapan.

Aku siap! Kuhadapi apapun. Apapun yang kau perlihatkan. Apapun kenyataan itu.

Maka tunjukanlah, bukalah sang tabir, koyaklah malam, berpijarlah engkau, bakarlah sang fajar. Terangi.

Perlihatkan padaku!

Bau Anyir Darah

18 Juni 2006 4:47:44

Jejak-jejak darah yang ditinggalkannya belum lagi hilang. Bau anyirnya pun masih mengambang di udara. Mayat-mayat yang mati penasaran masih berserakan di dalam kuburnya masing-masing, di pojok-pojok kampung, dan di tempat-tempat yang tidak diketahui lagi oleh manusia manapun. Arwahnya berkeliaran di pinggir jalan desa dan kota, di tengah perkebunan dan sawah, di pojokan rumah kumuh, di balik jeruji penjara, di tepi pelabuhan, di tanah negeri ini.

Pembantaian demi pembantaian sejak empat puluh satu tahun yang lalu, yang masih berlumuran darah dan belum terurai menjadi tanah. Lenyapnya jutaan manusia, pemelaratan abadi, penganiayaan demi penganiayaan, penyiksaan, dan perbudakan; atas jasa Yang Terhormat Jenderal Soeharto.

Aceh, Timor, dan Papua, Pulau Buru, Maluku, Tanjung Priok, Bali, dan segala tempat di Nusantara. Di Jakarta dan di setiap kampung-kampung dari kepulauan ini. Darah berceceran, darah membalut tanah, bola-bola mata yang penasaran tersembul dari kepala yang telah menemui ajal.

Ajal yang terjadi karena pembantaian dalam nama kekuasaan dan pembangunan, dalam nama profit dan persatuan dan kesatuan, dalam nama stabilitas nasional. Dalam nama keabadian cengkeraman kuku kekuasaan Haji Muhammad Soeharto!

Dan kini orang berebut bacot tentang maaf untuknya. Orang meminta pertimbangan akan jasa-jasa yang telah dilakukannya. Agar kesalahannya dilupakan, dan ia dibiarkan mati dengan tenang. Anjing-anjing itu memintakan maaf baginya, ketika kita semua masih menginjak genangan darah dan menghirup bau anyir bangkai-bangkai manusia yang pernah dibantainya!

Oo! Biarlah seluruh api neraka tertuang ke dalam surga!!

Tentara memang bertugas untuk menembak dan menghabisi nyawa musuhnya, dan pemimpin memang harus berkepala dingin. Tetapi Jenderal atau pemimpin sekalipun kukira adalah manusia, manusia yang mempunyai kemanusiaan, logika, nalar, nurani, dan hati.

Ternyata justru mereka, Jenderal-jenderal kita yang terhormat, dan pemimpin negeri ini, memiliki hati yang membatu, otak yang membatu, logika dan nalar seekor keledai, nurani yang membusuk, dan kemanusiaan yang telah mati tertindih kuasa dan harta.

Dengan tenang dan dingin, dengan penuh wibawa dan kebapakan, dengan anggunnya mereka meminta, untuk memberi maaf kepada seorang manusia yang demi kekuasaannya telah membasahi setiap jengkal tanah bangsa ini dengan darah!

Apa yang ada di dalam kepala keledai-keledai itu?!

Mungkin karena itulah, langit malam di kota ini selalu memerah. Karena darah masih menguap bersama bau anyir mayat, dan arwah-arwah penasaran masih menunggu keadilan dan kebenaran.

Tetapi Jenderal dan pemimpinku, tenanglah karena aku tau kau takkan mampu dan tak bernyali untuk mengadilinya, karena hal itu akan sama saja dengan mengadili bapakmu sendiri. Tenanglah, karena aku tak akan mengemisi pengadilan baginya kepadamu, aku tak akan menuntut kau menghentikan bacotmu. Biarlah kekuasaanmu memaafkannya, biarlah kau menunaikan baktimu yang terakhir sebelum ia mampus dengan tenang.

Tetapi Jenderal dan pemimpinku, adalah tangan anak-anak bangsa ini sendiri yang akan mengadilinya, merenggutnya dari damai kematian, dan mendudukannya kembali di atas kursi pesakitan abadi.

Dan ingatlah Jenderal, bahwa sejarah tidak pernah mengenal maaf. Maka tunggulah, ketika waktu akan mengadili bapakmu dan kau sendiri, mempertemukan kalian dengan arwah penasaran dari orang-orang yang pernah kalian bantai.

Demi sebuah perhitungan!

Lembah Mandalawangi

02 Juli 2006 ??:??:??

Angin dingin merajam tubuh, lelah mengoyak raga, matahari terik membakar kulit, dan bau badan bagai neraka.

Langit biru, awan mengambang, kabut membelai bumi, cakrawala menggantung jauh, hening yang sakral, hangatnya mentari pagi, mata air jernih sumber kehidupan, jutaan eidelweis, embun membeku, dan milyaran bintang.

Di sini waktu terhenti.

11 August 2012

Politik Perut Lapar

13 April 2005 21:37:51

I
Di mana adanya Allah
Hidup selalu bermasalah
Apa iya ini takdir
Tiap hari semakin getir

II
Kerja dan kerja lagi
Tetap melarat diri ini
Hari ini pehaka
Besok digusur pamong praja

III
Kami emang bukan orang pinter
Tapi kami punya perut
Ini jelas gak bener
Akar masalah harus dicabut!

IV
Kau kulum huruf dan angka
Kau plintir itu fakta
Yang jelas kami tetap lapar
Dan anak kami terkapar

V
Perut kami memang bukan urusanmu, karena dunia ini hanya untuk perutmu dan perut kaummu
Tapi ada batasnya perut kami kau buat lapar, dan kami semakin sadar
Jadi kulum saja sendiri angka-angkamu, nikmati sendiri mimpi-mimpimu
Takdir ini kan kami bongkar, mimpimu kan terbakar! Ini politik perut lapar!

VI
Tenang jangan bingung
Kau tak perlu menghitung
Biar kami yang kerja
Kau tunggu saja!

VII
REVOLUSI!

23 July 2012

Bacaan Sebelum Makan

29 Mei 2005 19:03:56

Maaf malam ini hendak kurampas nafsu makanmu.

Tujuh orang anak telah mati dalam kematian yang begitu sunyi. Tujuh orang anak telah mati karena kelaparan. Angka tujuh bukanlah angka yang luar biasa bagimu? Maka kuberitahu kau, bahwa angka itu hanyalah puncak dari seratus delapan puluh ribu anak-anak yang mati kelaparan di Indonesia setiap tahunnya, dan sebelas juta orang anak di muka dunia ini.

Karena kelaparan: KARENA KELAPARAN!!

***

Malam ini kurampas nafsu makanmu, lain hari akan kurampas seluruh harta kekayaanmu!

Harga Kesadaran

29 Desember 2004 2:38:55

Semakin jauh kau mendekati kesadaran, kau akan semakin larut dalam kenyataan, bahwa proses menyadari adalah sebuah kutukan.

Sesuatu yang sekali kau ungkap dan mulai kau sadari, akan terus bergentayangan di dalam jiwamu, menyiksa dan mempermainkan hidupmu. Merombak hidupmu menjadi sesuatu yang menyakitkan dan hambar. Membuatmu terasing di duniamu sendiri, membuatmu semakin terperosok ke dalam jurang pencarian.

Harga mahal yang harus kau tanggung untuk sepercik kesadaran. Sama sekali bukan anugrah.

Berita Kebenaran (serius!)

19 Desember 2004 9:47:13

Si setan kurap itu; sang taik anjing budug bajingan laknat keparat bangsat psikopat, jancuk terkutuk jahanam haram jadah, si babi biadab kejam keji yang najis menjijikan dan memuakkan, setan-setan penghuni lubang dubur iblis di dasar pelosok neraka paling busuk. Si setan kurap itu bernama 'komunisme'.

Komunisme adalah sumber dari segala sumber masalah di muka bumi. Komunisme itu kejam, keji, brutal, laknat, biadab, alias tak beradab. Liat aja film G/30-S/PKI! Betapa kejam-keji mereka si Partai Komunis Indonesia taik anjing itu. Betapa mereka bertingkah laku layaknya binatang buas tak berkeprikemanusiaan!

Jendral-jendral itu dibunuh sama PKI. Sukarno juga dikudeta sama PKI. Lantas Sesudah itu pembantaian di mana-mana juga karena PKI. Dari taun 1920, 1948, sampe 1965, PKI selalu jadi biang keladi di mana-mana, PKI selalu jadi sumber masalah dan jadi penjahat kemanusiaan.

Sekarang ini juga PKI mulai bangun lagi. Hati-hati! Bapak Soeharto dari dulu sudah mengingatkan tentang BAHAYA LATEN KOMUNIS. Ini sungguhan, ini berbahaya! Kita harus selalu waspada terhadap komunisme. Bau-bau komunisme mulai tercium lagi. Kita harus waspada, kita harus selalu siap untuk mengganyang komunisme.

Coba liat aja tanda-tandanya. Pemerintahan Indonesia susah jalan itu karena komunis, pemberontakan di mana-mana itu karena komunis, demonstrasi juga karena komunis, ekonomi susah bangkit pasti karena komunis.

Di tingkat dunia juga komunis harus diwaspadai. Komunis mulai menyusup di mana-mana. Anti Islam dan anti Arab itu karena komunis, Zionisme itu komunis, Israel itu komunis, Amerika juga komunis, perang-perang belakangan ini karena komunis mau memerangi agama. Pokoknya bahaya munculnya komunis mulai terasa, sungguh, saat ini kita harus siap-siap sekali lagi mengganyang komunis.

Perhatikan tetangga dan teman-teman, jangan lengah, hati-hati dan waspada. Perhatikan tingkah laku orang di rumah seberang atau kamar kos sebelah, termasuk tukang-tukang becak dan tukang ojek di pengkolan jalan. Jangan lupa juga sama orang-orang yang suka nongkrong-nongkrong, termasuk di Masjid, komunis suka menyamar dan menyusup ke mana-mana. Liat tingkah laku mereka, awasi, selalu awas dan jeli, berjaga sepanjang waktu. Hati-hati. Mungkin salah satu dari orang-orang itu, mungkin salah satu dari teman kita sendiri, atau malah keluarga kita adalah komunis!

Ini namanya tindakan prefentif, berjaga-jaga, mencegah - mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?! Mau tidak mau kita harus seperti ini. Karena komunis mengakar di mana-mana dan berbahaya. Lebih dari itu, komunis juga merusak apapun yang dijamahnya, kalau kita terlambat salah-salah bisa jadi korban komunis sekali lagi. Ganyang sebelum diganyang! Ingat, komunis itu bukan mahluk yang bisa dipercaya, sudah banyak sekali yang jadi korban dan dirusak sama komunis.

Panen gagal itu karena komunis, gempa bumi karena komunis, banjir karena komunis, WTC disruduk kapal terbang itu karena komunis, Pentagon juga, dan perang dunia I dan II juga karena komunis. Perang salib itu karena komunis, Munir dibunuh sama komunis, dan Pangeran Diponegoro juga begitu - dibunuh komunis. Yang ngejajah Indonesia itu Belanda komunis dan Jepang komunis, Hitler itu komunis, Mussolini juga komunis, preman-preman Tanah Abang dan Tanjung Priok itu komunis. Kapal terbang jatuh karena komunis, bom-bom di Jakarta dan Bali itu yang masang komunis, yang bikin binatang pada punah itu komunis, yang bikin laut Jawa jadi kotor itu komunis, yang nyebarin ajaran gereja setan itu komunis.

Menyeramkan sekali kan?! Komunis emang setan kurap biang segala masalah di muka bumi!!

Komunis itu yang bunuh Yesus, Fir'aun itu komunis, uler yang nawarin Adam dan Hawa buah terlarang itu komunis, komunis itu penyembah berhala (maka itu diperangi sama Muhammad), komunis juga yang ngebantai Cina-cina di Kali Angke, komunis yang jatuhin bom atom di atas Jepang, dan komunis yang memproduksi film-film porno. Komunis itu yang bikin tempat perjudian dan maksiat di Las Vegas, begitu juga dengan tempat pelacuran di Kali Jodo, komunis itu penyebab TKW diperkosain, komunis yang bikin politik Apartheid, komunis yang ngebantai penduduk kulit hitam di Amerika, komunis yang diskriminasi suku Aborigin di Australia, dan bahkan orang Mongol yang nyerang Islam dulu itu komunis. Suku-suku Indian kuno pada punah itu karena komunis. Perang Dayak-Madura karena komunis. Kerusuhan Mei 1998 karena komunis. Tragedi Tanjung Priok itu karena komunis. Islam Syiah dan Suni perang karena komunis, Klu Klux Klan itu antek komunis, teroris itu komunis, ubur-ubur beracun juga komunis.

Iklim dan musim jadi acak-acakan juga karena komunis. Malah kalo Godzilla beneran ada, itu juga pasti karena komunis!

Lahirnya Sang Dendam

11 Oktober 2004 16:49:15

I. Menyentuh Bumi

Lahir, menemukan hidupnya di dunia, menyentuh bumi.
Tanpa tangis dan tanpa tanda, dalam keheningan dan kekosongan.

Sebuah hirupan nafas, persentuhan darah dengan udara, menjadi hidup;
daging yang menjadi manusia.

Merekah, membuka, melihat dunia, menatap, kosong, dalam, tenang, kelam.

Persatuan dua jiwa;
nafsu kebinasaan dan kekecewaan, gumpalan dari segala rasa sakit dan pedih kehidupan, wujud ekspresi puncak ketertindasan.

Sang Dendam telah lahir.

Dalam dan dari gelap kekosongan terdalam kekecewaan hati.

Sang Dendam telah lahir:
"Kelahiranku - adalah awal dari akhir kehidupanmu."

***

II. Kesadaran
Daging dan darah, yang tumbuh dan hidup;
di dalam dunia di antara kehidupan lain. Dengan nafas kebencian, tenang dan mengancam.

"Akulah Aku.
Sang Dendam yang terlahir ke dunia, dalam darah dan daging ini, dalam tubuh dan wujudku."

"Akulah Dia.
Nafasku adalah kebencian, detak jantungku adalah taluan tambur pembalasan, aliran darahku adalah gelombang kemurkaan."

"Akulah Sang Dendam.
Putra kebinasaan dan kekecewaan. Sakit hati dan kebencian."

"Akulah Sang Pendendam.
Dendam yang terlahir ke dunia untuk sebuah pembalasan, atas nama diriku:
UNTUK SEBUAH PEMBALASAN."

***

III. Pertemuan Besar
"Kau milikku;
jiwamu adalah penawar hidupku. Hidupku adalah kematian kehidupanmu. Kematianmu adalah pemenuhan hidupku."

"Jangan harapkan senyum di wajahmu.
Tak ada tenang bagimu, tak ada keselamatan bagimu, tak ada pengampunan bagimu, tak ada pengecualian bagimu;
tak ada penjinak bagiku."

"Waktu kita baru akan dimulai.
Temukan kekosongan dan kematian di dalam hidupmu - yang kuberkati dengan janji pembalasan."

"Akulah takdirmu.
Mimpi burukmu, penyesalanmu, tangisanmu: Ratap jiwamu. Akulah bunga di dalam hidupmu;
penyesalanmu, penderitaanmu, kepedihan hidupmu, kesepian jiwamu. Akulah pembunuh hidupmu."

"Aku!
Akulah Dendam!
Yang menemukan hidup dalam kesengsaraan dan kehancuranmu!
Pembalasan terhadapmu, kematianmu; adalah alasan hidupku."

***

IV. Dendam Terbalaskan
"Inilah puncak dari segalanya.
Inilah akhir.
Pemenuhan takdirku.
Kematianku."

Menjadi Mantra!

11 Agustus 2004 20:21:14

Kau merintih, kau mengerang.
Sakitkah? Pedihkah?

Kau menangis, kau terisak.
Menangislah: Jangan kau tahan, biarkan lepas.
Menangislah: Menjadi mantra. Menjadi mantra!

Berteriaklah: Murka membakar dan berpijar.
Berteriaklah: Menjadi kutuk, menghujam jantung - mengundang badai.

Biarkanlah dunia tahu; bersaksilah pada dunia: Kau sakit hati.

***

- Untuk semua anak-anak yang dikorbankan demi harta dan kekuasaan.

Kami: Orang-orang yang Kalah

15 Juli 2004 23:05:??

Kami. Adalah orang-orang yang kalah. Yang tersingkirkan menjadi orang-orang pinggiran: Orang buangan tak berguna, sampah masyarakat yang menjijikan; tanpa arti dan tak bernilai, debu jalanan yang mengotori duniamu yang indah penuh keagungan.

Kami. Adalah orang-orang rendahan. Yang terkucil di dasar neraka kehidupan, yang tak mampu menjangkau dunia tanpa cela-Mu; terusir dan terdampar di sini: Di dunia yang penuh kenistaan dan menjijikan sehingga tak layak untuk menyentuh kehidupanmu.

Kami. Adalah orang-orang murahan. Darah dan keringat kami telah kau takdirkan dan kau kutuk menjadi tak berharga. Nyawa kami tak lebih berharga dari kenikmatan yang kau rasakan.

***

Kami: Adalah orang-orang yang kalah. Yang hidup dengan logika dan kesadaran kami sendiri; di dalam dunia kami sendiri. Yang telah meredusir tujuan kehidupan kami menjadi bertahan tetap hidup dan segala tujuan kami yang penuh dengan iri, tamak, dan dengki. Keinginan-keinginan yang hidup di dalam kepala kami, adalah keinginan-keinginan yang jahat dan tanpa moral.

Kami! Adalah jahanam-jahanam yang kalah! Yang suatu hari nanti, akan membongkar dunia dan kehidupan ini!

Ratap Pengangguran

19 Juli 2004 18:01:58

Sebuah sore yang tenang. Perlahan sekali langit mulai redup dan awan-awan menguning indah. Suara adzan meraung-raung pelan, mesin jet pesawat terbang, musik, dan desir daun diterpa angin.

Tapi aku duduk diam di sini, di beranda rumah kecilku ini, di mana anak laki-lakiku tidur lelap di dalamnya. Mungkin ia masih marah padaku karena sepedanya telah kujual tiga hari lalu, untuk uang makan aku dan dia. Maafkan bapakmu, nak.

Sebelumnya segala perhiasan dan jam tangan aku dan istriku yang telah kujual untuk mencoba sebuah usaha yang gagal total. Aku ini hanya anak seorang tani, tanpa pendidikan, dan tanpa kemampuan apapun.

Setelah hartaku, kemudian istriku yang lari meninggalkan aku dan anaknya. Ia masih muda dan cantik, memang. Orang tuanya cukup berada; ia tinggalkan aku untuk mengikuti seorang pengusaha mata keranjang karena kehidupan kami yang semakin hari semakin melarat.

Sekarang perabotan rumahkupun menghilang satu persatu untuk membayar hutang dan mengganjal perut aku dan anakku. Terakhir kujual sepedanya. Dan ia marah sampai hari ini.

***

Beberapa bulan lalu aku dipecat bersama puluhan buruh lain. Rasionalisasi katanya. Sejak hari itu hatiku semakin hancur setiap harinya, semakin kering, dan kini istriku telah pergi meninggalkanku - dan anakkupun marah padaku.

Berulang kali aku mencoba melamar pekerjaan, tidak ada satupun yang diterima. Aku hanya lulusan SD kampung. Dan sekarang bagaimana caranya aku harus menyekolahkan anakku, kelak ia akan seperti aku juga - seorang tak berguna di tengah-tengah dunia yang sama sekali tak bersahabat.

***

Mulutku menagih jatah rokoknya. Tetapi tidak sebatangpun kupunya. Puntung-puntung pun telah habis kuhisap.

Oh dunia.

Cerita di Atas Kursi

05 Januari 2005 0:38:47

Ia, orang tua itu selalu duduk di sana. Di depan pos jaga petugas keamanan, di atas sebuah kursi di samping sebuah pohon yang juga selalu berada di sana. Sejak pagi hingga sore ketika hari mulai gelap ia akan selalu berada di sana, makan dan minum ia lakukan di sana, juga kadang tertidur di kursinya yang juga telah tua. Dulu sewaktu ia masih muda dan kuat ia memang juga anggota petugas keamanan di kotanya, sehari-hari ia habiskan di dalam pos jaga yang hingga kini - lama setelah ia pensiun - masih juga ia tunggui. Tidak ada yang terganggu karena kehadirannya, tidak juga dengan petugas-petugas keamanan yang baru - yang telah berganti generasi beberapa kali. Seperti pohon yang tumbuh di samping pos jaga itu, tidak ada yang aneh dengan kehadirannya di sana, selayaknya ia memang sudah seharusnya berada di sana.

Ketika beberapa orang mulai berkumpul di sekitarnya, biasanya ketika waktu istirahat siang untuk orang-orang yang bekerja di sekitar sana, atau pergantian jam jaga, ia akan menerawang dan menyalakan rokok kreteknya. Maka mulailah ia bercerita. Cerita yang sama dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, hingga tidak ada yang benar-benar tahu pasti sejak kapan ia ceritakan cerita yang selalu sama tersebut. Mungkin hanya kursi tuanya dan pohon di samping pos jaga yang mengetahuinya - walaupun tak ada yang benar-benar ingin mengetahuinya - yang sayang tak dapat memberitahukan hal itu.

Pada waktunya ia bercerita, orang-orang pun akan mendengarkan seperti mereka belum pernah mendengarkan cerita yang pada kenyataannya telah mereka dengarkan setiap hari. Tidak ada merasa bosan, dan tidak ada yang pernah protes dengan ceritanya yang selalu sama, karena layaknya kursi dan pohon di tempatnya masing-masing - yang selalu dan tidak pernah tidak hadir - cerita yang ia sampaikan pun adalah bagian dari tempat itu.

Orang-orang akan meninggalkannya satu per satu ketika ceritanya telah selesai, kembali ke pekerjaannya semula, kembali ke pos jaganya, atau apapun lainnya. Dan ia pun akan kembali meneruskan renungannya, atau tertidur di atas kursi tuanya, untuk kembali akan bercerita ketika orang-orang berkumpul di sekitarnya, entah besok, entah beberapa jam atau beberapa menit kemudian. Dan seperti itu terus sepanjang minggu dan sepanjang tahun.

Ia memang tak punya keluarga, tanpa istri dan anak, orang tuanya telah meninggal sejak ia masih kanak-kanak; sama sekali tanpa keluarga lainnya. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah kecil tak jauh dari pos jaga, hidup dari tanggungan uang pensiun, dan tidak ada apapun yang dikerjakannya setiap hari - selain menceritakan hal yang sama; di atas kursi tuanya, di depan pos jaga, di samping pohon. Hingga suatu ketika, orang tua itu ditemukan telah meninggal ketika sedang tertidur di sore hari yang cerah dan kuning. Tidak ada yang kaget karenanya, pun tidak ada kesedihan yang terasa.

Pemakamannya dihadiri oleh orang-orang yang biasa mendengarkan ceritanya. Salah seorang dari mereka - yang tertua di antara mereka - membacakan sebuah pidato perpisahan, tetapi karena tidak ada apapun yang benar-benar diketahui orang tentang dirinya, maka setelah menceritakan apa yang sedikit diketahuinya tentang orang tua itu, ia lanjutkan dengan bercerita tentang apa yang selama ini selalu mereka dengarkan dari orang tua yang telah mati.

Setelah hari pemakaman, kursi tua di depan pos jaga tidak menjadi kosong. Seseorang telah duduk di sana menggantikan orang tua sebelumnya, seseorang yang membacakan pidato perpisahan di hari sebelumnya di pemakaman. Pohon dan kursi tua tetap di tempatnya, seseorang yang baru pun telah duduk di atasnya. Sejak hari itu, ia, sambil duduk di atas kursi tua itu, akan bercerita tentang seseorang yang telah mati, yang hampir separuh dari masa kehidupannya dihabiskan untuk duduk di atas tempatnya ia sekarang duduk, dan menceritakan hal yang sama setiap hari, setiap minggu, setiap tahun.

Lalu cerita itu; cerita yang sama seperti cerita yang dahulu selalu diceritakan oleh orang tua yang telah mati, terus tetap terdengar setiap hari, setiap minggu, setiap tahun. Dan orang-orang pun tetap mendengarkannya.

Setetes Hujan

20 Januari 2005 10:21:25

Setetes bening dan jernih. Dari ketinggian langit, dari puncak luasnya cakrawala. Melepas diri menggumpal dan meluncur turun. Jatuh melayang bebas, diterpa angin menerobos langit. Dalam hening dan kebisuan, bungkam dalam kesendirian.

Menghujam bumi.

Separuh Sakit Jiwa

20 Januari 2005 20:04:09

http://groups.yahoo.com/group/separuhsakitjiwa

Tempat ini adalah dasar jurang neraka paling jahanam.

Ke tempat inilah seharusnya dibuang segala sampah-sampah peradaban manusia; dari puisi-puisi tolol, analisis tumpul yang bego, bacotan tanpa makna, bualan politik dan ekonomi, gombalan birahi berbalut cinta, dusta dan fitnah, iklan-iklan memuakkan lagi menjijikan, hingga sumpah serapah dan hujat maki dalam artiannya yang paling harafiah.

Siapapun bebas mengusung pribadi, jiwa, jidat, dan pantatnya masing-masing; melankolis-puitis-najis, pendongeng cengeng, propagandis haram jadah, jahanam sarkastis-satiris-ironis, pengiklan bangsat-psikopat, para penganut ajaran agung skizofren, anjing-anjing religius, babi-babi atheis, kafir keparat (apapun labelnya), kapitalis dan komunis ngentot, semua hasil kebudayaan-sakit-jiwa manusia lainnya.

Setiap lubang dubur akan menemukan surga tempatnya bisa memamerkan setiap ketololan dan kegoblokannya dengan leluasa. Setiap ketololan dan kegoblokan akan tumbuh dengan subur, bak bunga berembun di pagi hari yang mekar dengan indah dan segarnya - di atas seonggok tai hangat yang maha-bau dan berlalat.

Binatang-binatang nista yang menyedihkan bebas untuk memuntahkan segala isi perutnya tepat di hadapan binatang-binatang lainnya, tanpa perlu merasa khawatir bahwa bekas muntahannya akan dihapus atau diedit. Setiap binatang laknat bebas untuk membalas muntahan dengan muntahan yang lebih banyak dan lebih kental lagi berlendir.

Tempat berkumpul bajingan-bajingan paling brengsek, hanya mengenal satu jenis hukum tertinggi yang tak terbantahkan oleh siapapun oleh apapun; Bab I pasal 1 ayat 1: HUKUM DIBATALKAN. Tidak ada hukum lain apapun yang berlaku di kubangan lumpur ini.

Tidak ada tempat untuk meletakkan pantat bagi jenis manusia yang merasa diri mulia-terhormat-suci-agung. Tempat ini mempersilahkan, bahkan memohon dan mengemis-ngemis, agar mahluk jenis itu segera pergi dengan sukarela.

Di sini adalah tempat bagi mahluk-mahluk rendah: rendah-serendah-rendahnya.

camarmerah