Showing posts with label proletar. Show all posts
Showing posts with label proletar. Show all posts

12 April 2013

Tragikomedi Rakyat

30 Juli 2004 - 12 April 2013

Yang paling tragis dan menyedihkan menyayat hati, sekaligus konyol dan bersifat ketolol-tololan dari tragikomedi kehidupan sesuatu objek bernama 'rakyat' adalah; mereka suka, gemar, perlu, butuh, cinta, berhasrat, kecanduan, ketergantungan, dan sakau menggelepar-gelepar untuk menipu, membohongi, mempertolol, dan menggobloki dirinya sendiri hingga detak kesadaran yang terakhir.

28 August 2012

Di Sebuah Gang

11 Mei 2006 04:26:03

Dalam gang gelap sempit orang tidur berserakan. Di teras-teras rumah kecil, di emperan, bersama nyamuk dan lembab udara malam. Diselingi tikus-tikus got berlarian.

Di sana orang yang tersingkir mengadukan nasib pada mimpi-mimpinya. Beralas kardus berselimut kain rombeng.

Dua puluh tahun pengabdiannya tak memiliki arti apapun ketika ia berbalik menolak pemiskinan atas nama pembangunan yang sejatinya hanya penumpukan kekayaan di lain tempat. Dua puluh tahun tenaga dan keringat yang dikeluarkannya terlupakan begitu saja, ketika dalam nama efisiensi dan revitalisasi tiga ratus orang tercerabut dari hak hidupnya.

Bahkan kemiskinan telah merenggut tempat tidurnya.

11 August 2012

Politik Perut Lapar

13 April 2005 21:37:51

I
Di mana adanya Allah
Hidup selalu bermasalah
Apa iya ini takdir
Tiap hari semakin getir

II
Kerja dan kerja lagi
Tetap melarat diri ini
Hari ini pehaka
Besok digusur pamong praja

III
Kami emang bukan orang pinter
Tapi kami punya perut
Ini jelas gak bener
Akar masalah harus dicabut!

IV
Kau kulum huruf dan angka
Kau plintir itu fakta
Yang jelas kami tetap lapar
Dan anak kami terkapar

V
Perut kami memang bukan urusanmu, karena dunia ini hanya untuk perutmu dan perut kaummu
Tapi ada batasnya perut kami kau buat lapar, dan kami semakin sadar
Jadi kulum saja sendiri angka-angkamu, nikmati sendiri mimpi-mimpimu
Takdir ini kan kami bongkar, mimpimu kan terbakar! Ini politik perut lapar!

VI
Tenang jangan bingung
Kau tak perlu menghitung
Biar kami yang kerja
Kau tunggu saja!

VII
REVOLUSI!

Berkabung Nasional

28 Januari 2008 15:06:47

PROLOG

Tujuh hari berkabung untuk wafatnya mantan presiden Soeharto, presiden kedua republik ini. Demikian pemerintah mengumumkan. Diinstruksikan juga untuk mengibarkan bendera setengah tiang untuk menyatakan rasa berkabung, memberi penghormatan terakhir untuk kepergian mantan penguasa Orde Baru, sang Bapak Pembangunan, Jenderal Bintang Lima, the Smiling General, Haji Muhammad Soeharto.



1

Sejak dari sebelum kematiannya, ada banyak, banyak sekali pihak, para tokoh-tokoh masyarakat dan para pejabat-pejabat yang terhormat, yang meminta masyarakat untuk memaafkan Soeharto, meminta pemerintah untuk memberikan pengampunan untuknya, apapun bentuknya.

Dari yang jelas memang kacung setianya semacam Wiranto dan Moerdiono, orang-orang yang pernah mendapatkan kenyamanan darinya semacam Muladi, pejabat-pejabat yang entah bagaimana tetap setia kepada majikan dan dewanya itu semacam wakil ketua MPR A. M. Fatwa, tokoh keagaamaan seperti ketua MUI Ma'ruf Amin, tokoh politik Amien Rais, hingga artis-artis "figur publik" dan tokoh-tokoh lainnya.

Dan ya! Memang sebagian masyarakat pun memaafkannya dengan ikhlas, diikuti dengan ungkapan-ungkapan dan kutipan-kutipan religius nan alim berbahasa Arab, masyarakat memaafkan segala dosa-dosa mantan presiden Soeharto.

Lebih dari itu, sebagian masyarakat malah meminta maaf kepadanya, kepada almarhum Soeharto yang mereka cintai. Mereka meminta maaf atas nama masyarakat Indonesia yang hingga akhir hayatnya tak mampu memaafkannya, yang tetap menghujat-hujatnya, yang tidak dapat melupakan keburukannya, dan tidak sudi mengingat segala jasa-jasanya. Mereka meminta maaf kepada Almarhum Bapak Pembangunan Soeharto.

Memang ternyata masyarakat masih mencintainya. Banyak warga yang berusaha melayat ke kediamannya di jalan Cendana, banyak warga yang langsung berangkat ke Solo untuk mengiringi pemakamannya, suasana sendu berputar-putar di televisi, dan ya, memang bendera setengah tiang terlihat di banyak tempat.



2

Bersama istrinya, seorang pedagang bubur ayam gerobakan melihat di televisi aksi Tramtib menertibkan pedagang-pedagang kaki lima di jalan Diponegoro, Salemba; memukul dan menendang-nendang pedagang yang berusaha memunguti dagangannya. Ia menangis, ia geram, "lihat tuh Bu, lihat tuh! Jahat sekali mereka. Pedagang ditendang-tendang!" Tiga minggu sebelumnya gerobaknya sendiri digaruk Tramtib karena berdagang pada tempat yang tidak semestinya. Ia membuat gerobak yang baru, tetapi tetap ketakutan, sangat-sangat ketakutan. "Bagaimana ya Bu kalau nanti dagangan kita diambil lagi," pagi harinya ia telah ditemukan mati gantung diri.

Gadis kecil berumur tiga tahun mati karena sakit muntaber. Satu kali dibawa ke puskesmas, setelah itu ayahnya tidak mampu lagi membayar empat ribu rupiah sebagai biayanya. Duda beranak dua itu memang hanya seorang pemulung botol plastik dan kardus bekas di Jakarta Pusat. Jangankan pemakaman, ia bahkan tak mampu membeli kain kafan. Sambil menuntun anak laki-lakinya yang berusia enam tahun, ia gendong mayat sang gadis dalam sarung kemerahan ke stasiun Tebet, demi harapan bantuan pemakaman yang layak dari kaumnya di Kampung Kramat, Bogor. Ketika ada yang bertanya mengenai anaknya, “saya jawab anak saya sudah mati dan akan dibawa ke Bogor.” Hasilnya, empat jam ia diinterogasi di Polsek Tebet setelah digelandang seperti pesakitan. Tanpa bantuan apapun dari Polsek maupun RSCM tempat di mana tadinya akan dilakukan otopsi, ia gendong lagi mayat gadis kecilnya untuk akhirnya mendapat bantuan dari sesama kaum melarat.

Seorang pencopet tertangkap polisi. "Saya punya dua anak, yang satu meninggal. Yang satunya lagi minum susunya kuat. Saya tidak punya uang untuk beli susu." Lelaki lulusan SMP ini sebenarnya dulu pedagang kaki lima, berjualan pakaian di pinggiran Pasar Baru, sebelumnya juga pernah menjadi pedagang kain keliling, di kampung-kampung dan di kota. Tetapi berkali-kali pula dagangannya digusur Tramtib. "Apa gunanya saya tutup-tutupi. Saya memang salah karena nyopet, tetapi saya lakukan itu karena enggak ada pilihan. Anak saya perlu susu, istri perlu makan, sedangkan jualan saya digusur terus."

Bidik dan sorot kamera menerangi ruangan. Buruh bangunan berusia muda yang berusaha menjambret itu tertangkap pada percobaan pertamanya. Menjadi bulan-bulanan belasan orang, bibir, mata, dan sekujur badannya luka-lebam. Setelah itu diseret ke kantor polisi, diinterogasi dan kembali menjadi bulan-bulanan, untuk selanjutnya masuk ke dalam sel. Ia menjambret demi biaya aborsi sang kekasih yang hamil.

DPRD DKI Jakarta membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) yang berisi larangan memberi uang kepada pengemis dan membeli dari pedagang asongan. Denda seratus ribu hingga dua puluh juta rupiah, atau kurungan sepuluh hari hingga enam puluh hari bagi yang melanggarnya.



3

Kekuasaan Soeharto merentang sepanjang tiga puluh dua tahun. Sepanjang ia berkuasa (sebagian pihak mengatakan bahkan sejak sebelum kekuasaannya), ia adalah pelaku korupsi. Bersama anak-anaknya, cucu-cucunya, keluarganya, bawahannya, pejabat-pejabatnya, sohib-sohibnya, sobat-sobatnya, teman-temannya, kenalan-kenalannya, dan tidak lupa: istrinya.

Yayasan ini dan itu, dana ini dan itu, perusahaan ini dan itu, perkebunan ini dan itu, pertambangan ini dan itu, proyek ini dan itu, penyelundupan ini dan itu, monopoli ini dan itu, perdagangan ini dan itu, mark up ini dan itu, impor ini dan itu, penebangan hutan yang ini dan yang itu, juga reboisasi yang ini dan yang itu; semuanya mesti ditilep, semuanya tidak boleh utuh, tidak ada yang jujur, pasti dikorup, tidak mungkin tidak, sudah niscaya, puji tuhan: ALHAMDULILAH!

Soeharto, sang penguasa Orde Baru itu, bertakhta pada tahun 1966 setelah kejatuhan presiden pertama republik ini, Sukarno. Untuk biaya pendirian Orde Barunya itu dikorbankan sekitar lima ratus ribu hingga dua juta jiwa manusia, yang dibantai tanpa pengadilan, dengan kesalahan utama adalah karena "diduga komunis". Tanpa pengadilan, baru "diduga", dan "diduga komunis"! Beberapa juta lainnya mengalami berbagai macam perlakuan; diperkosa, disekap, dibuang, disiksa, dijadikan pekerja paksa, dan (lagi-lagi) dibantai di berbagai tempat, terutama di pulau Buru. Cerita-cerita seputar penyiksaan para jenderal, tarian Gerwani, dan berbagai macam KEBOHONGAN lainnya disebarkan melalui koran Angkatan Bersenjata. Diskriminasi terhadap keluarga-keluarga korban, secara resmi dan tak resmi berlangsung jauh setelah ia sendiri turun takhta pada 1998.

Biaya lainnya yang sama-sama tak terbayarkan adalah penghancuran penghentian revolusi ketika ia belum lagi selesai, pembunuhan terhadap karakter, jati diri, dan semangat bangsa yang sedang tumbuh. Ratusan juta jiwa yang baru mulai dapat duduk tegak dan belajar berbangga itu dijadikan kembali bermental tempe dan kacung dan budak, menyeretnya kembali ke dalam kolonialisme, yang mesti termanggut-manggut membungkuk di hadapan kekuatan-kekuatan modal asing.

Maka perlahan-lahan ia jual segalanya kepada kekuatan modal-modal asing tersebut. Gas bumi di Aceh, emas di Papua dan di Sulawesi, juga perkebunan di mana-mana, minyak bumi di sini dan di situ, bahkan rakyatnya sendiri ia jual sebagai buruh-buruh murah demi memasok kebutuhan industri, atau dijual sebagai TKI ke luar negeri supaya pulang setelah diperkosa atau bahkan tinggal menjadi mayat. Rakyat, bumi bangsa ini, yang disebut-sebut sebagai "Ibu Pertiwi"; melalui kekuatan militernya ia paksa sang Ibu Pertiwi mengangkang lebar-lebar supaya dapat diperkosa habis-habisan oleh kekuatan modal. Hasilnya sebagian besar kembali kepada pemodal, sebagian kecil kepada pemerintah Jakarta (yang tidak lupa dikorupsi terlebih dahulu), dan secuil kecil untuk daerah asalnya.

Dan jika ada pemberontakan, atau sekadar kata tidak suka dari daerah asal tersebut, bedil yang akan berkata-kata. Darah berceceran nyawa melayang, di Aceh puluhan ribu orang mati, di Papua ribuan orang mati, diikuti pemerkosaan, penyiksaan, kebohongan-kebohongan yang disebar. Kebudayaan dirusak dan alam dihancurkan.

Memang tidak boleh ada yang mengkritik, tidak boleh tidak senang, tidak boleh protes, apalagi terdengar separatis. Aceh dihajar sepuluh tahun, dan Papua dua puluh tahun karena berujar "merdeka". Di Timor Timur sepertiga penduduknya, ratusan ribu jiwa, melayang dikuras bersih.

Setiap konflik kemudian dijawab dengan bedil. Perebutan tanah, penggusuran, pembangunan ini dan itu, keagamaan, semuanya menjadi mudah: Dalam nama Soeharto yang berkuasa atas setiap bedil yang dipegang oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; sawah-sawah disikat, ladang diduduki, tanah diserobot, yang protes dihabisi, yang membela didor, yang mengabarkan diteror.

Penggusuran-penggusuran membahana; Ciuleunyi Bandung, Raci Pasuruan, Grati Pasuruan, Nyamil Blitar, Kunir Lumajang, Pungguk Blitar, Kunir Lumajang, Pungguk Blitar, Nyinyir Blitar, Sunggal Medan, Tanjung Bulan Sumatera Selatan, Martoba Pematang Siantar, Percut Deli Serdang, Tuntungan Sumatera Utara, Kedung Ombo Jawa Tengah, Pulau Bintan, Agra Binta Cianjur Selatan.

Kematian-kematian merajalela; Petrus, Tanjung Priuk, Makassar, Lampung, Riau, Waduk Nipah, 27 Juli, Marsinah, Udin Bernas, Wiji Thukul, hingga akhirnya penembakan mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998.

Semuanya sah-sah saja, semuanya boleh-boleh saja, apapun itu, berapapun biayanya: Demi Tegaknya UUD 1945 dan Pancasila yang Lurus dan Konsekuen, demi Pembangunan Nasional, demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa, demi Tetap Utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, demi Keamanan dan Ketertiban, demi Kestabilan Ekonomi, demi BERDIRI DAN TETAP BERDIRINYA REJIM HAJI MUHAMMAD SOEHARTO!

Tetapi akhirnya jatuh juga, setelah kekacauan besar melanda Indonesia, setelah nyawa mahasiswa melayang, setelah gedung MPR-DPR tempat kacung-kacung dan kawan-kawannya biasa mendekam dikuasai rakyat, ia mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.



4

Sepuluh tahun setelah kekuasaannya diakhiri, ia mati pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, setelah sakit dan terbujur kaku pada perbatasan antara hidup dan mati selama dua puluh empat hari.

Dan ia telah mati: Ketika belum satu kali pun ia masukki jeruji penjara untuk apa yang telah dilakukannya selama berkuasa, ketika ia belum sedikit pun menerima hukuman, ketika harta yang kini dikuasai oleh anak-cucu dan para kroni serta sohib dan sobat-sobatnya belum ada yang dikembalikan kepada rakyat, ketika segala apa yang dirampoknya belum dikembalikan, dan ketika belum ada satupun kejahatannya yang ia pertanggung jawabkan.

Bahkan! Bahkan hingga detik kematiannya tetap belum ada kejelasan resmi apakah ia bersalah atau tidak. Proses pengadilan belum pernah menunjukkan arah yang jelas dan cerah, di mata hukum nama Haji Muhammad Soeharto sang Jenderal Bintang Lima itu tetaplah sebatas "tersangka" yang, berdasarkan asas praduga tak bersalah, tetap saja tidak bersalah. Tidak pernah ada usaha resmi untuk mengungkap kejahatannya di luar urusan korupsi belaka.

Bahkan! Bahkan ia berhasil memenangkan perkara pencemaran nama baik melawan majalah Times!

Bahkan! Bahkan dua puluh empat hari menjelang kematiannya adalah hari-hari di mana ia mendapatkan perawatan yang mungkin adalah perawatan tercanggih yang bisa didapatkan di Indonesia, dengan biaya yang jika dituliskan dalam bentuk angka mungkin akan membuat bingung seorang anak SD! Dua puluh empat hari di mana puluhan dokter mencurahkan segala perhatian dan kemampuan terhadap satu orang tunggal!

Bahkan! Bahkan orang ini mendapatkan upacara militer dan pemakaman resmi kenegaraan!

Bahkan! Bahkan orang ini mendapatkan belasungkawa tujuh hari dari pemerintah!

***

Soeharto belum mempertanggungjawabkan kejahatannya,
belum ada penjelasan dan kejelasan resmi mengenai kasusnya,
belum ada usaha resmi untuk mengungkap "dugaan" kejahatannya yang lain.

Bukan saja hukum tidak mampu menyentuhnya dan dibuat kaku di hadapan senyumannya, bahkan hukum bermain mata dengannya, sementara pemerintah bertekuk lutut, dan sambil sesengukan datang melayat memohon ampun kepada mayat Jenderal Bintang Lima di balik kain putih itu.

Bandingkan apa yang dilakukan hukum dan negara ini kepada rakyat-rakyatnya yang lain!

Berjualan di pinggir jalan digusur!
Karena tidak sesuai dengan perda dan ini dan itu,
karena melawan hukum, karena melanggar undang-undang!
Dan pencopet-penjambret picisan yang mencopet dan menjambret karena kemiskinan ditangkapi!
Dan menggendong mayat gadis kecil karena kemelaratan digelandang seperti penjahat besar!!

Dan kemudian bahkan mereka, para penguasa-penguasa yang terhormat, berpikir untuk membuat peraturan yang melarang memberi uang kepada pengemis dan membeli dari pedagang asongan!

Maka adalah bacot omong kosong murahan bau tengik jika ada yang mengatakan bahwa hukum di negara ini tidak pandang bulu dan netral.

PENJAHAT KEMANUSIAAN ITU!
Diktator militer,
penguasa otoriter,
pembantai jutaan nyawa,
penyengsara jutaan jiwa,

sang tiran!

Ia mati dengan tenang! Setelah dilayani bagai raja, tanpa sedikitpun menyicipi penjara, TANPA pertanggungjawaban apapun atas perbuatan-perbuatannya! Apapun! Tidak satupun!

Hukum di negeri ini mandul!
Pemerintahnya cabul!

Mereka hanya mampu dan mau mengurusi pedagang kaki lima, pencopet, penjambret, dan bapak yang menggendong mayat anaknya!

Dan mereka, dengan tanpa malu-malu dan tanpa ditutup-tutupi baru saja memperlihatkan sebuah pertunjukkan paling memuakkan kepada seisi dunia!

Dan mereka, menyatakan berkabung selama tujuh hari untuk seorang penjahat kemanusiaan!!

Maka mereka, baru saja mempertunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.



EPILOG

Aku menolak untuk berkabung, aku tidak sudi menyediakan belasungkawa untuknya dan keluarganya. Sedikitpun tidak.

Aku mengutuk hukum dan penguasa negara ini yang secara luar biasa vulgar telah memperlakukan rakyatnya secara sangat-sangat-sangat tidak adil.

Aku akan mengingatkan, lagi dan lagi, untuk tidak lupa pada sejarah, untuk sadar dan selalu ingat: Tangan Soeharto sang Bapak Pembangunan itu berlumuran darah berjuta-juta rakyat negeri ini!

23 July 2012

Bacaan Sebelum Makan

29 Mei 2005 19:03:56

Maaf malam ini hendak kurampas nafsu makanmu.

Tujuh orang anak telah mati dalam kematian yang begitu sunyi. Tujuh orang anak telah mati karena kelaparan. Angka tujuh bukanlah angka yang luar biasa bagimu? Maka kuberitahu kau, bahwa angka itu hanyalah puncak dari seratus delapan puluh ribu anak-anak yang mati kelaparan di Indonesia setiap tahunnya, dan sebelas juta orang anak di muka dunia ini.

Karena kelaparan: KARENA KELAPARAN!!

***

Malam ini kurampas nafsu makanmu, lain hari akan kurampas seluruh harta kekayaanmu!

Berita Kebenaran (serius!)

19 Desember 2004 9:47:13

Si setan kurap itu; sang taik anjing budug bajingan laknat keparat bangsat psikopat, jancuk terkutuk jahanam haram jadah, si babi biadab kejam keji yang najis menjijikan dan memuakkan, setan-setan penghuni lubang dubur iblis di dasar pelosok neraka paling busuk. Si setan kurap itu bernama 'komunisme'.

Komunisme adalah sumber dari segala sumber masalah di muka bumi. Komunisme itu kejam, keji, brutal, laknat, biadab, alias tak beradab. Liat aja film G/30-S/PKI! Betapa kejam-keji mereka si Partai Komunis Indonesia taik anjing itu. Betapa mereka bertingkah laku layaknya binatang buas tak berkeprikemanusiaan!

Jendral-jendral itu dibunuh sama PKI. Sukarno juga dikudeta sama PKI. Lantas Sesudah itu pembantaian di mana-mana juga karena PKI. Dari taun 1920, 1948, sampe 1965, PKI selalu jadi biang keladi di mana-mana, PKI selalu jadi sumber masalah dan jadi penjahat kemanusiaan.

Sekarang ini juga PKI mulai bangun lagi. Hati-hati! Bapak Soeharto dari dulu sudah mengingatkan tentang BAHAYA LATEN KOMUNIS. Ini sungguhan, ini berbahaya! Kita harus selalu waspada terhadap komunisme. Bau-bau komunisme mulai tercium lagi. Kita harus waspada, kita harus selalu siap untuk mengganyang komunisme.

Coba liat aja tanda-tandanya. Pemerintahan Indonesia susah jalan itu karena komunis, pemberontakan di mana-mana itu karena komunis, demonstrasi juga karena komunis, ekonomi susah bangkit pasti karena komunis.

Di tingkat dunia juga komunis harus diwaspadai. Komunis mulai menyusup di mana-mana. Anti Islam dan anti Arab itu karena komunis, Zionisme itu komunis, Israel itu komunis, Amerika juga komunis, perang-perang belakangan ini karena komunis mau memerangi agama. Pokoknya bahaya munculnya komunis mulai terasa, sungguh, saat ini kita harus siap-siap sekali lagi mengganyang komunis.

Perhatikan tetangga dan teman-teman, jangan lengah, hati-hati dan waspada. Perhatikan tingkah laku orang di rumah seberang atau kamar kos sebelah, termasuk tukang-tukang becak dan tukang ojek di pengkolan jalan. Jangan lupa juga sama orang-orang yang suka nongkrong-nongkrong, termasuk di Masjid, komunis suka menyamar dan menyusup ke mana-mana. Liat tingkah laku mereka, awasi, selalu awas dan jeli, berjaga sepanjang waktu. Hati-hati. Mungkin salah satu dari orang-orang itu, mungkin salah satu dari teman kita sendiri, atau malah keluarga kita adalah komunis!

Ini namanya tindakan prefentif, berjaga-jaga, mencegah - mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?! Mau tidak mau kita harus seperti ini. Karena komunis mengakar di mana-mana dan berbahaya. Lebih dari itu, komunis juga merusak apapun yang dijamahnya, kalau kita terlambat salah-salah bisa jadi korban komunis sekali lagi. Ganyang sebelum diganyang! Ingat, komunis itu bukan mahluk yang bisa dipercaya, sudah banyak sekali yang jadi korban dan dirusak sama komunis.

Panen gagal itu karena komunis, gempa bumi karena komunis, banjir karena komunis, WTC disruduk kapal terbang itu karena komunis, Pentagon juga, dan perang dunia I dan II juga karena komunis. Perang salib itu karena komunis, Munir dibunuh sama komunis, dan Pangeran Diponegoro juga begitu - dibunuh komunis. Yang ngejajah Indonesia itu Belanda komunis dan Jepang komunis, Hitler itu komunis, Mussolini juga komunis, preman-preman Tanah Abang dan Tanjung Priok itu komunis. Kapal terbang jatuh karena komunis, bom-bom di Jakarta dan Bali itu yang masang komunis, yang bikin binatang pada punah itu komunis, yang bikin laut Jawa jadi kotor itu komunis, yang nyebarin ajaran gereja setan itu komunis.

Menyeramkan sekali kan?! Komunis emang setan kurap biang segala masalah di muka bumi!!

Komunis itu yang bunuh Yesus, Fir'aun itu komunis, uler yang nawarin Adam dan Hawa buah terlarang itu komunis, komunis itu penyembah berhala (maka itu diperangi sama Muhammad), komunis juga yang ngebantai Cina-cina di Kali Angke, komunis yang jatuhin bom atom di atas Jepang, dan komunis yang memproduksi film-film porno. Komunis itu yang bikin tempat perjudian dan maksiat di Las Vegas, begitu juga dengan tempat pelacuran di Kali Jodo, komunis itu penyebab TKW diperkosain, komunis yang bikin politik Apartheid, komunis yang ngebantai penduduk kulit hitam di Amerika, komunis yang diskriminasi suku Aborigin di Australia, dan bahkan orang Mongol yang nyerang Islam dulu itu komunis. Suku-suku Indian kuno pada punah itu karena komunis. Perang Dayak-Madura karena komunis. Kerusuhan Mei 1998 karena komunis. Tragedi Tanjung Priok itu karena komunis. Islam Syiah dan Suni perang karena komunis, Klu Klux Klan itu antek komunis, teroris itu komunis, ubur-ubur beracun juga komunis.

Iklim dan musim jadi acak-acakan juga karena komunis. Malah kalo Godzilla beneran ada, itu juga pasti karena komunis!

Kami: Orang-orang yang Kalah

15 Juli 2004 23:05:??

Kami. Adalah orang-orang yang kalah. Yang tersingkirkan menjadi orang-orang pinggiran: Orang buangan tak berguna, sampah masyarakat yang menjijikan; tanpa arti dan tak bernilai, debu jalanan yang mengotori duniamu yang indah penuh keagungan.

Kami. Adalah orang-orang rendahan. Yang terkucil di dasar neraka kehidupan, yang tak mampu menjangkau dunia tanpa cela-Mu; terusir dan terdampar di sini: Di dunia yang penuh kenistaan dan menjijikan sehingga tak layak untuk menyentuh kehidupanmu.

Kami. Adalah orang-orang murahan. Darah dan keringat kami telah kau takdirkan dan kau kutuk menjadi tak berharga. Nyawa kami tak lebih berharga dari kenikmatan yang kau rasakan.

***

Kami: Adalah orang-orang yang kalah. Yang hidup dengan logika dan kesadaran kami sendiri; di dalam dunia kami sendiri. Yang telah meredusir tujuan kehidupan kami menjadi bertahan tetap hidup dan segala tujuan kami yang penuh dengan iri, tamak, dan dengki. Keinginan-keinginan yang hidup di dalam kepala kami, adalah keinginan-keinginan yang jahat dan tanpa moral.

Kami! Adalah jahanam-jahanam yang kalah! Yang suatu hari nanti, akan membongkar dunia dan kehidupan ini!

Ratap Pengangguran

19 Juli 2004 18:01:58

Sebuah sore yang tenang. Perlahan sekali langit mulai redup dan awan-awan menguning indah. Suara adzan meraung-raung pelan, mesin jet pesawat terbang, musik, dan desir daun diterpa angin.

Tapi aku duduk diam di sini, di beranda rumah kecilku ini, di mana anak laki-lakiku tidur lelap di dalamnya. Mungkin ia masih marah padaku karena sepedanya telah kujual tiga hari lalu, untuk uang makan aku dan dia. Maafkan bapakmu, nak.

Sebelumnya segala perhiasan dan jam tangan aku dan istriku yang telah kujual untuk mencoba sebuah usaha yang gagal total. Aku ini hanya anak seorang tani, tanpa pendidikan, dan tanpa kemampuan apapun.

Setelah hartaku, kemudian istriku yang lari meninggalkan aku dan anaknya. Ia masih muda dan cantik, memang. Orang tuanya cukup berada; ia tinggalkan aku untuk mengikuti seorang pengusaha mata keranjang karena kehidupan kami yang semakin hari semakin melarat.

Sekarang perabotan rumahkupun menghilang satu persatu untuk membayar hutang dan mengganjal perut aku dan anakku. Terakhir kujual sepedanya. Dan ia marah sampai hari ini.

***

Beberapa bulan lalu aku dipecat bersama puluhan buruh lain. Rasionalisasi katanya. Sejak hari itu hatiku semakin hancur setiap harinya, semakin kering, dan kini istriku telah pergi meninggalkanku - dan anakkupun marah padaku.

Berulang kali aku mencoba melamar pekerjaan, tidak ada satupun yang diterima. Aku hanya lulusan SD kampung. Dan sekarang bagaimana caranya aku harus menyekolahkan anakku, kelak ia akan seperti aku juga - seorang tak berguna di tengah-tengah dunia yang sama sekali tak bersahabat.

***

Mulutku menagih jatah rokoknya. Tetapi tidak sebatangpun kupunya. Puntung-puntung pun telah habis kuhisap.

Oh dunia.

Ini Kemiskinan

03 September 2005 15:53:31

Asap di atas kali. Di atas air penuh limbah dan sampah, hijau menebar bau, diramaikan tikus-tikus sebesar kucing. Rumah-rumah berjejer, batu bata hingga papan lapuk dan seng berkarat, berhimpitan bertumpukan menyempil terdesak, kumuh menyerupai kandang kambing. Udara panas menandingi neraka jahanam, keringat menetes mengalir deras, asap rokok dan metromini bersiteru bergulungan. Suara-suara tak sudi berhenti, mobil motor dan bus PPD, kondektur gendeng disambut pedagang kaki lima. Hari demi hari tetap seperti ini, semerbak tinja dan kencing siang malam, mengundang seringai orang-orang hilang ingatan: Hari ini masih menganggur.

Sunyi yang Mengerikan

24 Agustus 2006 03:37:20

Di suatu tempat, tepat di saat ini. Ada yang sedang terbaring menerawang kosong. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa yang dilihatnya, kita tak akan pernah tau karena ia akan segera pergi. Kesakitan mendera tubuhnya, siksa yang tak terperi, lalu sunyi yang mengerikan - ia meregang hidup. Mati. Persis di detik ini. Mati karena kelaparan yang telah mengisi hidupnya selama berbulan-bulan terakhir, mati karena tidak ada lagi yang dimasukkan ke dalam perutnya, mati setelah lima atau enam tahun hidup di muka bumi. Ya, orang, anak-anak yang mati karena kelaparan. Manusia, yang sama seperti aku dan kau.

Kesunyian demi kesunyian, bertumpukkan, berderet. Setiap hari. Setiap jam. Dan saat ini. Ratusan ribu setiap tahun. Teror kenyataan yang enggan dihadapi oleh umat manusia. Lupakan, tak perlu dipikirkan. Terlalu luas, tak realistis, memang seharusnya begitu. Tak ada apapun yang dapat dilakukan, kemudian alam yang disalahkan.

Memang. Kita mungkin baru akan perduli, ketika kitalah yang berada di balik tempurung kepala, menerawang kosong dalam berbulan siksa kesakitan, menatap kesunyian, dan meregang nyawa. Ketika saat itu tiba, jangan kita lupa untuk mengatakan; memang seharusnya begitu.

Jangan Mati Dulu

19 Februari 2006 01:27:20

Sore menjelang, senja kan datang.
Kosong merambat dalam redup,
sebelum langit membeku
dalam merah dan kelam.

Satu hari lagi telah lewat,
satu kesempatan telah terbuang.
Kawan apa lagi yang kita tunggu,
hidup ini singkat, waktu kita berbatas.

***

Sunyi subuh terkoyak.
Gelap menguap, biru berderap di langit.
Dingin embun pagi membasahi fajar.
Langit timur berpijar.

Hari yang baru pasti jadi.
Jangan mati dulu.

Neraka Mana Lagi yang Kau Maksud?

22 April 2007 01:51:32

Setiap tumpuk kerakusan-keserakahan-nafsu-dan-egoisme-mu telah membantu mewujudkan neraka terbrutal dan terkeji: Di muka bumi ini. Hingga tak ada lagi, di pelosok dunia bagian manapun tak ada lagi, yang terbebas dari belitan tentakel-tentakelmu yang penuh racun. Sejak tetes-tetes keringat pertama, luluhan air mata, hingga percik-percik dan genangan-genangan darah merah sepanjang mata memandang, telah kau tumpahkan. Laki-laki, perempuan, anak-anak, dan bayi sekalipun; semuanya terbantai menjadi mayat-mayat membusuk dengan wajah-wajah kosong perlambang kehidupan yang konyol.

Hidup Bukan Cuma Untuk Makan!

06 November 2007 07:45:13

Jangan lah kalian mengeluh dan merengek-rengek terus menuntut ini dan itu dengan cengengnya, kemiskinan kalian gunakan sebagai alasan, dan urusan makan selalu menjadi dalihmu. Hidup bukan cuma untuk makan!

Ya, hidup memang bukan hanya untuk makan, kami tau itu. Kau katakan dunia ini luas, kehidupan ini indah dan penuh dengan hal-hal yang patut direnungkan dan digali. Kita harus menciptakan cita-cita dan harapan untuk dikejar, ada banyak hal lain yang patut dialami dalam hidup selain hanya untuk makan, terlalu sia-sia kalau hidup hanya diukur dengan makan, bukanlah kehidupan kalau hidup hanya diabdikan untuk makan. Segalanya tentang makan, hidup untuk makan, rendah dan hina, seperti binatang.

Kami tau itu.

Bukanlah keinginan kami untuk hidup dalam keadaan seperti itu. Keadaanlah yang menempatkan kami menjadi demikian, dan perut ini harus diisi supaya kehidupan bisa diteruskan. Kalau kami hanya berbicara soal makan, menjadikannya bahan pembicaraan kami, menempatkan makan sebagai salah satu kerewelan kami, dan memiliki hidup yang berputar-putar pada soal makan, makan, makan, dan makan - itu karena memang di sanalah posisi kami.

Kalau kau telah mampu berpikir, berbicara, dan meracau tentang berbagai kenikmatan dunia lain selain makan, tentang segala hal besar dan agung, tentang bagaimana mengisi kehidupan ini, tentang memilih pekerjaan dan jalan hidup, bercita-cita dan merencanakan masa depan, dan menggali makna filosofis tai kucing tai kampret dari kehidupan ini; kalau kau telah mampu menyingkirkan makan menjadi permasalahan urutan kesekian dalam hidupmu, maka kami berada pada posisi memikirkan apa yang dapat kami makan besok atau minggu depan.

Kami harus berpikir, berbicara, dan memutar hidup kami pada persoalan makan. Kami harus menempatkannya sebagai persoalan nomor satu dan terkadang satu-satunya. Kami harus dan tidak-boleh-tidak mengatur hidup kami menyangkut permasalahan makan. Karena begitu kami menggantikannya dengan yang lain maka kami akan terancam kelaparan untuk kemudian dijemput malaikat maut!

Kemudian kau katakan bahwa hidup tidaklah sebegitu menyenangkannya hingga kita bisa mendapatkan apapun yang kita mau. Kau katakan hidup itu keras, hidup adalah urusan bekerja dan berkarya, berusaha untuk tetap hidup, hidup adalah perjuangan, hidup adalah kerja keras tanpa henti. Kami juga tau itu. Bahwa hidup itu terkadang kejam pun kami tau, bahkan aku yakin kami lebih tau bagaimana keras dan kejamnya hidup daripadamu.

Kau dapat merencanakan masa depanmu, memilih tempat belajarmu, mencari pekerjaan yang sesuai untukmu, atau mungkin kau teruskan usaha keluargamu, membangun tempat hidupmu, menabung untuk masa tuamu. Lalu kemudian kau bisa sekolah lagi, mencari pekerjaan yang lebih sesuai untukmu dengan hasil yang memuaskan. Maka kau dapat mengembangkan kehidupanmu, menikmati hidupmu dengan berbagai kegiatan, mengisinya dengan berbagai pengetahuan dan eksplorasi yang sungguh mendalam terhadap kehidupan, yang mana salah satu hasilnya adalah sebuah perkataan yang sungguh bijak: "Hidup bukan cuma untuk makan." Ya, kau memang sungguh bijak!

Tetapi sementara itu kami tidak memilih pekerjaan kami! Kami tidak mampu untuk itu. Kami hanya mencari pekerjaan, kerja, apapun itu, yang menghasilkan uang, berapapun itu. Kami menjadi buruh yang bekerja monoton selama delapan jam sehari di ruang-ruang membosankan, lalu kami ambil pekerjaan tambahan di waktu malam, kami berkubang dalam lumpur demi menumbuhkan padi-padi, atau menjadi kuli bangunan menantang maut di ketinggian puluhan lantai. Kami berjualan dan bermandi sinar matahari dan keringat dan debu jalanan dengan terancam penggusuran setiap hari, atau mendorong gerobak tua di tengah malam untuk mengorek-ngorek tempat sampah, kami juga mengais-ngais beras yang jatuh dari truk di pasar induk, menjadi pembantu rumah tangga dengan jam kerja dan jenis pekerjaan yang tanpa batas. Kami pergi ke luar negeri menjadi kacung yang ketika diperkosa dan disiksa hampir tak ada siapapun yang perduli, kemudian ketika pulang hanya pungli dan perampokan yang kami hadapi. Kami bekerja di jermal-jermal yang penuh dengan kekerasan. Anak-anak kami membuat sepatu di pabrik-pabrik, berjualan koran, atau menjadi tukang semir sepatu. Bahkan perempuan-perempuan kami juga menjual tubuh mereka di pinggir jalan!

Siapakah yang berani mengatakan, satu orang saja yang berani mengatakan bahwa kami bekerja tidak lebih keras daripada kau yang hidup enak sejahtera dan dipenuhi kecukupan dan bahkan kenikmatan dunia!?

Apakah kurang keras kami bekerja?! Apakah kurang habis-habisan membanting tulang kami mencoba untuk tetap hidup? Apakah masih kurang perjuangan kami? Apakah kami pemalas? Apakah risiko kematian, pemerkosaan, kekerasan, cidera, penyakit, keracunan, dan lainnya yang kami hadapi adalah masih kurang menurutmu?!

Maka ketika bagaimanapun kerasnya kami bekerja namun kemelaratan ini tetap berada pada tempatnya dan kehidupan kami tetap berputar pada permasalahan makan, kami tau: JELAS ADA SESUATU YANG SALAH!!