30 Juli 2004 - 12 April 2013
Yang paling tragis dan menyedihkan menyayat hati, sekaligus konyol dan bersifat ketolol-tololan dari tragikomedi kehidupan sesuatu objek bernama 'rakyat' adalah; mereka suka, gemar, perlu, butuh, cinta, berhasrat, kecanduan, ketergantungan, dan sakau menggelepar-gelepar untuk menipu, membohongi, mempertolol, dan menggobloki dirinya sendiri hingga detak kesadaran yang terakhir.
Showing posts with label propaganda. Show all posts
Showing posts with label propaganda. Show all posts
12 April 2013
28 August 2012
Jadilah Murtad
22 Juli 2006 0:41:47
Agama, walaupun tidak seluruhnya, benar-benar menggobloki umat manusia. Menggobloki dalam segala hal dan semakin goblok sang manusia, maka semakin ia tertungging-tungging pada agama - yang mana akan semakin dan semakin menggoblokinya lagi.
Kukatakan tidak seluruhnya, karena memang bahkan dalam suatu agama pun, tidak secara keseluruhan agama itu bersifat menggobloki. Dari aliran yang satu ke aliran yang lain memiliki perbedaannya masing-masing, bahkan antara pemuka yang satu dengan pemuka yang lain pun punya tingkat menggobloki yang berbeda-beda.
Yang sulit adalah ketika pengetahuan telah memiliki cap sebagai salah satu sumber dosa berat. Maka sejak saat itu orang akan terseret-seret dalam ketakutannya, menjadi goblok dan sedemikian setia kepada kegoblokannya itu sehingga ia merelakan diri untuk menjadi semakin goblok dari hari ke hari.
Ada yang mendalilkan bahwa mencoba untuk mempelajari agama sebagai dan melalui sudut pandang sejarah adalah suatu dosa - dengan dasar berbagai macam alasan yang bolak-balik bersumber dari buku-buku tua nan usang bau ompol bernama kitab suci. Pengetahuan yang bersarang di dalam kepala seseorang lantas tinggal menjadi monopoli sang agama, dan dengan demikian kebenaran baginya pun sebatas pada batas-batas yang ditentukan oleh sang agama. Hasilnya adalah manusia-manusia yang KERDIL, PENAKUT, GOBLOK, TOLOL, DUNGU, dan sedemikian bangga - dengan disertai ketakutan - atas gelar-gelarnya itu sehingga mereka berlomba-lomba untuk semakin dan semakin KERDIL serta DUNGU. Sejauh yang mereka mampu.
Mereka mengaduk-aduk antara iman dengan sejarah, iman dengan ilmu pengetahuan, iman dengan politik, iman dengan hukum, bahkan mereka gunakan iman mereka sendiri dalam melihat manusia lain dengan iman yang berbeda. Menjadi sebuah pertunjukkan tragikomedi yang berputar-putar dengan cerita masyarakat dengan KEKERDILAN dan KEDUNGUAN kolektif.
Pada seseorang telah kukatakan bahwa sejarah adalah sejarah dan iman adalah iman. Jangan pernah kau melihat sejarah sebagai suatu objek untuk imanmu, dan sebaliknya kau boleh memegang teguh imanmu, tapi jangan pernah kau mengklaim kebenaran sejarah dengan dasar imanmu itu.
Tetapi siapalah aku dengan kata-kataku itu, dibandingkan dengan orang yang telah berhasil mencuci otaknya, mengisinya dengan kebohongan, menggoblokinya, mempertololnya, memperkosa logikanya, memberangus nalarnya, dan memasung keberanian berpikirnya - hingga ia menjadi manusia yang KERDIL lagi DUNGU.
Ia tetap membaca sejarah dengan imannya, dan tetap menganggap imannya adalah sejarah. Ia pun melihat ilmu pengetahuan melalui imannya, dan ia anggap imannya adalah ilmu pengetahuan. Kemudian ia mencari-cari pembenaran bagi KEDUNGUANNYA itu dengan cara yang KERDIL, kemudian ia bela pendiriannya dengan menyelipkan iman ke manapun ia bisa menyelip dengan cara mengambil bocat-bacot dari kitab-kitab omong kosongnya. Setelah itu ia kebingungan sendiri karena logika yang mampet dan nalar yang terpasung, maka ia menutup mata dan menjadi tuli, seraya berdoa meminta ampun karena telah mendengar kata-kata setan bin iblis, terakhir - ia menjadi bangga karena telah sekali lagi berhasil menjaga dirinya supaya tidak keluar dari lingkaran KEKERDILAN dan KEDUNGUAN.
Tinggalkan agama, jadilah murtad dan pendosa, maka matamu kan terbuka.
Agama, walaupun tidak seluruhnya, benar-benar menggobloki umat manusia. Menggobloki dalam segala hal dan semakin goblok sang manusia, maka semakin ia tertungging-tungging pada agama - yang mana akan semakin dan semakin menggoblokinya lagi.
Kukatakan tidak seluruhnya, karena memang bahkan dalam suatu agama pun, tidak secara keseluruhan agama itu bersifat menggobloki. Dari aliran yang satu ke aliran yang lain memiliki perbedaannya masing-masing, bahkan antara pemuka yang satu dengan pemuka yang lain pun punya tingkat menggobloki yang berbeda-beda.
Yang sulit adalah ketika pengetahuan telah memiliki cap sebagai salah satu sumber dosa berat. Maka sejak saat itu orang akan terseret-seret dalam ketakutannya, menjadi goblok dan sedemikian setia kepada kegoblokannya itu sehingga ia merelakan diri untuk menjadi semakin goblok dari hari ke hari.
Ada yang mendalilkan bahwa mencoba untuk mempelajari agama sebagai dan melalui sudut pandang sejarah adalah suatu dosa - dengan dasar berbagai macam alasan yang bolak-balik bersumber dari buku-buku tua nan usang bau ompol bernama kitab suci. Pengetahuan yang bersarang di dalam kepala seseorang lantas tinggal menjadi monopoli sang agama, dan dengan demikian kebenaran baginya pun sebatas pada batas-batas yang ditentukan oleh sang agama. Hasilnya adalah manusia-manusia yang KERDIL, PENAKUT, GOBLOK, TOLOL, DUNGU, dan sedemikian bangga - dengan disertai ketakutan - atas gelar-gelarnya itu sehingga mereka berlomba-lomba untuk semakin dan semakin KERDIL serta DUNGU. Sejauh yang mereka mampu.
Mereka mengaduk-aduk antara iman dengan sejarah, iman dengan ilmu pengetahuan, iman dengan politik, iman dengan hukum, bahkan mereka gunakan iman mereka sendiri dalam melihat manusia lain dengan iman yang berbeda. Menjadi sebuah pertunjukkan tragikomedi yang berputar-putar dengan cerita masyarakat dengan KEKERDILAN dan KEDUNGUAN kolektif.
Pada seseorang telah kukatakan bahwa sejarah adalah sejarah dan iman adalah iman. Jangan pernah kau melihat sejarah sebagai suatu objek untuk imanmu, dan sebaliknya kau boleh memegang teguh imanmu, tapi jangan pernah kau mengklaim kebenaran sejarah dengan dasar imanmu itu.
Tetapi siapalah aku dengan kata-kataku itu, dibandingkan dengan orang yang telah berhasil mencuci otaknya, mengisinya dengan kebohongan, menggoblokinya, mempertololnya, memperkosa logikanya, memberangus nalarnya, dan memasung keberanian berpikirnya - hingga ia menjadi manusia yang KERDIL lagi DUNGU.
Ia tetap membaca sejarah dengan imannya, dan tetap menganggap imannya adalah sejarah. Ia pun melihat ilmu pengetahuan melalui imannya, dan ia anggap imannya adalah ilmu pengetahuan. Kemudian ia mencari-cari pembenaran bagi KEDUNGUANNYA itu dengan cara yang KERDIL, kemudian ia bela pendiriannya dengan menyelipkan iman ke manapun ia bisa menyelip dengan cara mengambil bocat-bacot dari kitab-kitab omong kosongnya. Setelah itu ia kebingungan sendiri karena logika yang mampet dan nalar yang terpasung, maka ia menutup mata dan menjadi tuli, seraya berdoa meminta ampun karena telah mendengar kata-kata setan bin iblis, terakhir - ia menjadi bangga karena telah sekali lagi berhasil menjaga dirinya supaya tidak keluar dari lingkaran KEKERDILAN dan KEDUNGUAN.
Tinggalkan agama, jadilah murtad dan pendosa, maka matamu kan terbuka.
Di Sebuah Gang
11 Mei 2006 04:26:03
Dalam gang gelap sempit orang tidur berserakan. Di teras-teras rumah kecil, di emperan, bersama nyamuk dan lembab udara malam. Diselingi tikus-tikus got berlarian.
Di sana orang yang tersingkir mengadukan nasib pada mimpi-mimpinya. Beralas kardus berselimut kain rombeng.
Dua puluh tahun pengabdiannya tak memiliki arti apapun ketika ia berbalik menolak pemiskinan atas nama pembangunan yang sejatinya hanya penumpukan kekayaan di lain tempat. Dua puluh tahun tenaga dan keringat yang dikeluarkannya terlupakan begitu saja, ketika dalam nama efisiensi dan revitalisasi tiga ratus orang tercerabut dari hak hidupnya.
Bahkan kemiskinan telah merenggut tempat tidurnya.
Dalam gang gelap sempit orang tidur berserakan. Di teras-teras rumah kecil, di emperan, bersama nyamuk dan lembab udara malam. Diselingi tikus-tikus got berlarian.
Di sana orang yang tersingkir mengadukan nasib pada mimpi-mimpinya. Beralas kardus berselimut kain rombeng.
Dua puluh tahun pengabdiannya tak memiliki arti apapun ketika ia berbalik menolak pemiskinan atas nama pembangunan yang sejatinya hanya penumpukan kekayaan di lain tempat. Dua puluh tahun tenaga dan keringat yang dikeluarkannya terlupakan begitu saja, ketika dalam nama efisiensi dan revitalisasi tiga ratus orang tercerabut dari hak hidupnya.
Bahkan kemiskinan telah merenggut tempat tidurnya.
Bau Anyir Darah
18 Juni 2006 4:47:44
Jejak-jejak darah yang ditinggalkannya belum lagi hilang. Bau anyirnya pun masih mengambang di udara. Mayat-mayat yang mati penasaran masih berserakan di dalam kuburnya masing-masing, di pojok-pojok kampung, dan di tempat-tempat yang tidak diketahui lagi oleh manusia manapun. Arwahnya berkeliaran di pinggir jalan desa dan kota, di tengah perkebunan dan sawah, di pojokan rumah kumuh, di balik jeruji penjara, di tepi pelabuhan, di tanah negeri ini.
Pembantaian demi pembantaian sejak empat puluh satu tahun yang lalu, yang masih berlumuran darah dan belum terurai menjadi tanah. Lenyapnya jutaan manusia, pemelaratan abadi, penganiayaan demi penganiayaan, penyiksaan, dan perbudakan; atas jasa Yang Terhormat Jenderal Soeharto.
Aceh, Timor, dan Papua, Pulau Buru, Maluku, Tanjung Priok, Bali, dan segala tempat di Nusantara. Di Jakarta dan di setiap kampung-kampung dari kepulauan ini. Darah berceceran, darah membalut tanah, bola-bola mata yang penasaran tersembul dari kepala yang telah menemui ajal.
Ajal yang terjadi karena pembantaian dalam nama kekuasaan dan pembangunan, dalam nama profit dan persatuan dan kesatuan, dalam nama stabilitas nasional. Dalam nama keabadian cengkeraman kuku kekuasaan Haji Muhammad Soeharto!
Dan kini orang berebut bacot tentang maaf untuknya. Orang meminta pertimbangan akan jasa-jasa yang telah dilakukannya. Agar kesalahannya dilupakan, dan ia dibiarkan mati dengan tenang. Anjing-anjing itu memintakan maaf baginya, ketika kita semua masih menginjak genangan darah dan menghirup bau anyir bangkai-bangkai manusia yang pernah dibantainya!
Oo! Biarlah seluruh api neraka tertuang ke dalam surga!!
Tentara memang bertugas untuk menembak dan menghabisi nyawa musuhnya, dan pemimpin memang harus berkepala dingin. Tetapi Jenderal atau pemimpin sekalipun kukira adalah manusia, manusia yang mempunyai kemanusiaan, logika, nalar, nurani, dan hati.
Ternyata justru mereka, Jenderal-jenderal kita yang terhormat, dan pemimpin negeri ini, memiliki hati yang membatu, otak yang membatu, logika dan nalar seekor keledai, nurani yang membusuk, dan kemanusiaan yang telah mati tertindih kuasa dan harta.
Dengan tenang dan dingin, dengan penuh wibawa dan kebapakan, dengan anggunnya mereka meminta, untuk memberi maaf kepada seorang manusia yang demi kekuasaannya telah membasahi setiap jengkal tanah bangsa ini dengan darah!
Apa yang ada di dalam kepala keledai-keledai itu?!
Mungkin karena itulah, langit malam di kota ini selalu memerah. Karena darah masih menguap bersama bau anyir mayat, dan arwah-arwah penasaran masih menunggu keadilan dan kebenaran.
Tetapi Jenderal dan pemimpinku, tenanglah karena aku tau kau takkan mampu dan tak bernyali untuk mengadilinya, karena hal itu akan sama saja dengan mengadili bapakmu sendiri. Tenanglah, karena aku tak akan mengemisi pengadilan baginya kepadamu, aku tak akan menuntut kau menghentikan bacotmu. Biarlah kekuasaanmu memaafkannya, biarlah kau menunaikan baktimu yang terakhir sebelum ia mampus dengan tenang.
Tetapi Jenderal dan pemimpinku, adalah tangan anak-anak bangsa ini sendiri yang akan mengadilinya, merenggutnya dari damai kematian, dan mendudukannya kembali di atas kursi pesakitan abadi.
Dan ingatlah Jenderal, bahwa sejarah tidak pernah mengenal maaf. Maka tunggulah, ketika waktu akan mengadili bapakmu dan kau sendiri, mempertemukan kalian dengan arwah penasaran dari orang-orang yang pernah kalian bantai.
Demi sebuah perhitungan!
Jejak-jejak darah yang ditinggalkannya belum lagi hilang. Bau anyirnya pun masih mengambang di udara. Mayat-mayat yang mati penasaran masih berserakan di dalam kuburnya masing-masing, di pojok-pojok kampung, dan di tempat-tempat yang tidak diketahui lagi oleh manusia manapun. Arwahnya berkeliaran di pinggir jalan desa dan kota, di tengah perkebunan dan sawah, di pojokan rumah kumuh, di balik jeruji penjara, di tepi pelabuhan, di tanah negeri ini.
Pembantaian demi pembantaian sejak empat puluh satu tahun yang lalu, yang masih berlumuran darah dan belum terurai menjadi tanah. Lenyapnya jutaan manusia, pemelaratan abadi, penganiayaan demi penganiayaan, penyiksaan, dan perbudakan; atas jasa Yang Terhormat Jenderal Soeharto.
Aceh, Timor, dan Papua, Pulau Buru, Maluku, Tanjung Priok, Bali, dan segala tempat di Nusantara. Di Jakarta dan di setiap kampung-kampung dari kepulauan ini. Darah berceceran, darah membalut tanah, bola-bola mata yang penasaran tersembul dari kepala yang telah menemui ajal.
Ajal yang terjadi karena pembantaian dalam nama kekuasaan dan pembangunan, dalam nama profit dan persatuan dan kesatuan, dalam nama stabilitas nasional. Dalam nama keabadian cengkeraman kuku kekuasaan Haji Muhammad Soeharto!
Dan kini orang berebut bacot tentang maaf untuknya. Orang meminta pertimbangan akan jasa-jasa yang telah dilakukannya. Agar kesalahannya dilupakan, dan ia dibiarkan mati dengan tenang. Anjing-anjing itu memintakan maaf baginya, ketika kita semua masih menginjak genangan darah dan menghirup bau anyir bangkai-bangkai manusia yang pernah dibantainya!
Oo! Biarlah seluruh api neraka tertuang ke dalam surga!!
Tentara memang bertugas untuk menembak dan menghabisi nyawa musuhnya, dan pemimpin memang harus berkepala dingin. Tetapi Jenderal atau pemimpin sekalipun kukira adalah manusia, manusia yang mempunyai kemanusiaan, logika, nalar, nurani, dan hati.
Ternyata justru mereka, Jenderal-jenderal kita yang terhormat, dan pemimpin negeri ini, memiliki hati yang membatu, otak yang membatu, logika dan nalar seekor keledai, nurani yang membusuk, dan kemanusiaan yang telah mati tertindih kuasa dan harta.
Dengan tenang dan dingin, dengan penuh wibawa dan kebapakan, dengan anggunnya mereka meminta, untuk memberi maaf kepada seorang manusia yang demi kekuasaannya telah membasahi setiap jengkal tanah bangsa ini dengan darah!
Apa yang ada di dalam kepala keledai-keledai itu?!
Mungkin karena itulah, langit malam di kota ini selalu memerah. Karena darah masih menguap bersama bau anyir mayat, dan arwah-arwah penasaran masih menunggu keadilan dan kebenaran.
Tetapi Jenderal dan pemimpinku, tenanglah karena aku tau kau takkan mampu dan tak bernyali untuk mengadilinya, karena hal itu akan sama saja dengan mengadili bapakmu sendiri. Tenanglah, karena aku tak akan mengemisi pengadilan baginya kepadamu, aku tak akan menuntut kau menghentikan bacotmu. Biarlah kekuasaanmu memaafkannya, biarlah kau menunaikan baktimu yang terakhir sebelum ia mampus dengan tenang.
Tetapi Jenderal dan pemimpinku, adalah tangan anak-anak bangsa ini sendiri yang akan mengadilinya, merenggutnya dari damai kematian, dan mendudukannya kembali di atas kursi pesakitan abadi.
Dan ingatlah Jenderal, bahwa sejarah tidak pernah mengenal maaf. Maka tunggulah, ketika waktu akan mengadili bapakmu dan kau sendiri, mempertemukan kalian dengan arwah penasaran dari orang-orang yang pernah kalian bantai.
Demi sebuah perhitungan!
11 August 2012
Politik Perut Lapar
13 April 2005 21:37:51
I
Di mana adanya Allah
Hidup selalu bermasalah
Apa iya ini takdir
Tiap hari semakin getir
II
Kerja dan kerja lagi
Tetap melarat diri ini
Hari ini pehaka
Besok digusur pamong praja
III
Kami emang bukan orang pinter
Tapi kami punya perut
Ini jelas gak bener
Akar masalah harus dicabut!
IV
Kau kulum huruf dan angka
Kau plintir itu fakta
Yang jelas kami tetap lapar
Dan anak kami terkapar
V
Perut kami memang bukan urusanmu, karena dunia ini hanya untuk perutmu dan perut kaummu
Tapi ada batasnya perut kami kau buat lapar, dan kami semakin sadar
Jadi kulum saja sendiri angka-angkamu, nikmati sendiri mimpi-mimpimu
Takdir ini kan kami bongkar, mimpimu kan terbakar! Ini politik perut lapar!
VI
Tenang jangan bingung
Kau tak perlu menghitung
Biar kami yang kerja
Kau tunggu saja!
VII
REVOLUSI!
I
Di mana adanya Allah
Hidup selalu bermasalah
Apa iya ini takdir
Tiap hari semakin getir
II
Kerja dan kerja lagi
Tetap melarat diri ini
Hari ini pehaka
Besok digusur pamong praja
III
Kami emang bukan orang pinter
Tapi kami punya perut
Ini jelas gak bener
Akar masalah harus dicabut!
IV
Kau kulum huruf dan angka
Kau plintir itu fakta
Yang jelas kami tetap lapar
Dan anak kami terkapar
V
Perut kami memang bukan urusanmu, karena dunia ini hanya untuk perutmu dan perut kaummu
Tapi ada batasnya perut kami kau buat lapar, dan kami semakin sadar
Jadi kulum saja sendiri angka-angkamu, nikmati sendiri mimpi-mimpimu
Takdir ini kan kami bongkar, mimpimu kan terbakar! Ini politik perut lapar!
VI
Tenang jangan bingung
Kau tak perlu menghitung
Biar kami yang kerja
Kau tunggu saja!
VII
REVOLUSI!
Ahmadiyah
10 Juni 2008 07:20:46
Surat Keputusan Bersama itu, yang ditandatangani oleh tiga menteri berbunyi seperti ini:
1. Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No. 1 PNPS 1965 tentang pencegahan penodaan agama.
2. Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Islam pada umumnya. Seperti pengakuan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
3. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenai sanksi sesuai peraturan perundangan.
4. Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI.
5. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan yang berlaku.
6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah agar melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan keputusan bersama ini.
***
Sementara Undang Undang Dasar Negara ini, pada pasal 29 mengatakan:
"Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu."
Bagaimana bisa, bahwa di sebuah negara muncul sebuah peraturan, sebuah 'surat keputusan bersama', yang mengingkari Undang Undang Dasarnya sendiri. Apa artinya memiliki Undang Undang Dasar yang berslogan 'dasar dari segala dasar hukum' kalau peraturan, undang-undang, dan 'keputusan bersama' yang tercipta kemudian bertentangan dengannya? Atau justru memang tidak lebih cuma sebagai slogan belaka?
Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan dari orang-orang di negeri ini untuk mengangkangi, meludahi, dan menginjak-injak Undang Undang Dasarnya sendiri; menciptakan peraturan, undang-undang, keputusan ini, dan keputusan itu yang bertentangan dengannya.
Supaya tidak tampak terlalu dungu, setidaknya amandemen-lah dulu Undang Undang Dasar itu. Ubah dulu isinya. Buang pasal-pasal yang tidak disukai, ubah yang mengganjal, dan dalam kasus ini hapuskan pasal 29 ayat 2, ganti menjadi: "Negara berhak untuk menentukan agama mana yang benar dan agama mana yang salah." Tambahkan juga ayat ketiga: "Negara dapat melarang warganya menganut kepercayaan tertentu."
Tetapi apakah itu masuk akal? Tidak! Negara tidak mempunyai legitimasi untuk melarang warganya mempercayai sesuatu. Selama kepercayaan itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak membuat orang yang mempercayainya melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, negara tidak mempunyai legitimasi apapun untuk melarang suatu kepercayaan. Terlebih lagi jika kepercayaan itu menyangkut tuhan, ketuhanan, dan segala tetek-bengeknya.
Karena untuk percaya kepada sesuatu, untuk percaya (bahkan untuk tidak percaya) kepada tuhan, adalah merupakan Hak Asasi Manusia yang telah diakui oleh negara-negara beradab di muka bumi. Sehingga dengan demikian tindakan negara ini yang melarang-larang, mempersesat, dan membiarkan kekerasan terhadap orang-orang yang menganut kepercayaan tertentu adalah bukan saja mengingkari Undang Undang Dasarnya sendiri, tetapi lebih dari itu adalah bertentangan dengan Universal Declaration of Human Rights.
Bahkan negara ini tidak mempunyai sedikitpun legitimasi untuk 'mengakui' kepercayaan tertentu sebagai 'benar' atau terlebih lagi 'mengizinkan' suatu kepercayaan!
Karena, pertama, dalam negara hukum seperti Indonesia, 'negara' adalah entitas duniawi yang mengurusi permasalahan manusiawi, 'negara' bukan mengurusi hal-hal sorgawi-tuhan-allah-wi, iblis-hantu-blau-wi, dan antek-anteknya. Negara (semestinya) mengurusi hubungan antara manusia dengan manusia, kehidupan manusia dari kelahirannya hingga kematiannya, dan biarkan hubungan manusia dengan tuhannya diurus oleh masing-masing manusia itu sendiri, secara privat, mandiri, dan pribadi.
Kedua, apa dasar dari 'pengakuan' dan 'pengizinan' yang dilakukan oleh negara terhadap kepercayaan-kepercayaan yang beredar? Apa dasar dari penentuan dan pemilihan itu? Apa yang menjamin bahwa pilihan negara benar adanya?
Bukankah negara ini bukan sebuah negara di mana pemimpin dan pembantu-pembantunya mengklaim memiliki kemampuan untuk berkomunikasi langsung dan menjadi penerjemah tuhan? Bukankah penguasa-penguasa negara ini adalah 'orang-orang biasa' yang pada dasarnya sama-sama buta tentang tuhan seperti seluruh warga negara yang lainnya? Bukankah negara ini dipimpin oleh 'presiden' dan bukan oleh 'nabi'?
Maka dari mana para penguasa dan pejabat negara ini dapat mengetahui kepercayaan mana yang benar dan kepercayaan mana yang salah?!
Sementara yang saat ini telah 'diakui' dan 'diizinkan' adalah enam kepercayaan dengan sumber dan akar ajaran yang mutlak berbeda-beda, nabi-nabi yang tidak sama, nama yang rupa-rupa, hari raya yang aneka-ragam, dan orientasi ketuhanan yang bermacam-macam. Allah, Yesus, hingga Wishnu. Bunda Maria, Buddha Gautama, Shiva, Muhammad, lantas Ta Pe Kong. Jangan lupakan Buddha Maitreya, Brahma, Konfusius, kemudian Manunggaling Kawulo Gusti.
Apa dasarnya?
Sekarang kita dapat melihat. Dasar dari pilihan itu adalah soal politis dan sosial belaka. Rupanya memang negara ini tetap saja bukan sebuah negara yang dipimpin oleh para utusan tuhan-allah. Pilihan-pilihannya, pengakuan dan perizinannya terhadap kepercayaan-kepercayaan bukanlah didasarkan atas 'benar' atau 'salah'-nya kepercayaan itu, melainkan atas dasar pertimbangan-pertimbangan politis dan sosial.
Sehingga, kuulangi, pada dasarnya negara tidak memiliki legitimasi apapun untuk - baik melarang, maupun mengakui kepercayaan-kepercayaan warganya. Sesuai dengan arah kepentingan 'negara' yang duniawi dan manusiawi, semestinya negara yang sehat dan waras tidak akan memiliki permasalahan dan tidak perlu mengambil pusing soal kepercayaan warganya, selama kepercayaan itu tidak menentang atau membuat pengikutnya menentang nilai-nilai kemanusiaan.
***
Jika kita bicara mengenai kepercayaan dalam lingkup antar manusia-manusia biasa bukan sebagai entitas kenegaraan, kelembagaan, atau organisasi entah apa; juga tafsir, interpretasi, cara pandang, pengertian, hal-hal semacam itu dapat menjadi sangat berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lainnya. Perbedaan ini tidak akan pernah dapat dihindari, justru karena manusia mempunyai otaknya masing-masing untuk berpikir.
Dan perbedaan-perbedaan ini, sejauh menyangkut 'kepercayaan', akan tetap dan harus legal. Perbedaan yang menyangkut 'kepercayaan' tidak dapat dipersesat dan diperkafir, apalagi diberantas dengan cara menggebugi yang mempercayainya, persis karena sifat dari 'kepercayaan' itu sendiri:
Bahwa 'kepercayaan' adalah memang cuma didasarkan pada 'percaya' belaka, tidak dapat (atau belum) terbuktikan. Karena kalau dapat dan sudah dibuktikan, tentu namanya bukan lagi 'kepercayaan', melainkan 'fakta' atau 'kenyataan'.
Maka, dengan sifat internal dari sang 'kepercayaan' yang memang tetap saja hanya merupakan 'kepercayaan' sejauh tidak ada klarifikasi dan pembuktian yang memadai, maka sebenarnya tidak ada 'kepercayaan' jenis apapun yang bisa dikatakan sebagai 'benar' atau 'sesat'.
Sederhananya, pihak-pihak yang mempersesat kepercayaan pihak yang lain, bukankah dirinya sendiri pun sebenarnya hanya bersandar pada sepotong kata 'percaya' belaka?
'Percaya' bahwa buku-buku usang yang menjadi panduannya dalam memperkafir adalah valid dan afdol, 'percaya' bahwa apa yang dilakukannya akan dibalas dengan sorga yang cihuy, 'percaya' bahwa perkataan sang nabi memang benar, 'percaya' bahwa dia itu memang seorang nabi, 'percaya' bahwa tuhan memang ada, hanya 'percaya' dan tidak lebih dari 'percaya'.
Cuma 'percaya' saja.
***
Sebenarnya dalam lingkup orang-per-orang, dalam lingkup kehidupan sipil sesama warga manusia yang sederajat, bagaimanapun juga, adalah sah-sah saja jika pihak yang satu menganggap pihak yang lain sebagai 'salah', 'sesat', apapun.
Dialog, diskusi, bahkan perdebatan keras pun sehat-sehat saja - walaupun mungkin lebih tidak berguna dan akan tampak dungu-ketolol-tololan jika dilakukan untuk meributkan 'kepercayaan' (sekali lagi, yang dasarnya memang cuma 'percaya' itu).
Tetapi itu sah-sah saja.
Dalam kasus yang cukup besar, justru semestinya di sana muncul peran negara. Bukannya untuk memberi cap 'benar' dan 'mujarab' kepada pihak yang satu dan ikut-ikutan menegaskan cap 'sesat' kepada pihak yang lain, dan sama sekali bukan malah menerbitkan surat larangan dan surat ancaman untuk pihak yang dipersesat.
Melainkan untuk menjamin kebebasan setiap pihak untuk mempercayai apapun yang menjadi kepercayaannya. Untuk mengontrol berbagai macam pihak dengan kepercayaannya masing-masing agar tidak melampaui batas-batas tertentu, karena sesuai dengan prinsip kebebasan yang "terbatasi oleh kebebasan orang lain", maka ketika 'kepercayaan' pihak yang satu telah mempersesat 'kepercayaan' pihak yang lain dan lebih dari itu mengganggu, bersifat ofensif, dan secara aktif mengganggu, maka negara semestinya berperan di sana, untuk menghentikannya. Secara manusiawi dan duniawi, agar tetap netral di antara kepercayaan-kepercayaan sorgawi.
Yang akan menjadi masalah, adalah jika tindakan mempersesat, mempermurtad, memperkafir, dan memperiblis dilakukan oleh alat dari penguasa. Atau oleh entitas yang rajin bermesra-mesraan dengan penguasa. Atau oleh pihak yang memiliki kepentingan yang sama dengan penguasa. Atau oleh lembaga yang isinya kurang-lebih sedikit-banyak adalah komponen-komponen yang berkuasa juga. Atau oleh pihak yang, secara resmi ataupun tidak resmi, memang berkuasa.
Jika penguasa memiliki hak untuk mempersesat, jika penguasa memiliki alat yang dapat digunakan untuk mempersesat suatu pihak, maka yang akan terjadi adalah penindasan struktural. Penindasan yang sistematis.
Karena penindasan bukan lagi dilakukan oleh sesama manusia sederajat yang memiliki kemampuan yang (kurang lebih) sama dalam mempertahankan dirinya, melainkan oleh pihak yang memiliki sumber daya, kemampuan, kekuasaan, alat, dana, dan yang terpenting legitimasi untuk melakukan penindasan tersebut. Walaupun legitimasi itu terbentuk dalam kerangka berpikir yang tidak logis, tidak rasional, dan seperti kita tau, bertentangan dengan Undang Undang Dasarnya sendiri.
Berikutnya, penindasan semacam itu, yang tampaknya dilakukan dalam nama kesesatan dan kebenaran, belum tentu benar-benar terjadi dalam nama kesesatan dan kebenaran belaka. Penguasa akan (dapat) dengan mudah mempermainkan dan mengaduk-aduk antara urusan duniawi-manusiawi dengan urusan surgawi-roh-kudus-setan-iblis-tuhan-allah-wi. Penguasa akan (dapat) menggunakan yang satu untuk menunjang yang lain.
Penguasa akan (melalui jalan dan pihak-pihak tertentu) mempersesat suatu pihak, menyebar propaganda, menuangkan bahan bakar kebencian dan fanatisme, dan kemudian percikkan sedikit bunga api agitasi. Maka jadilah si sesat menjadi yang tersesat dan tidak ada lagi orang yang ingat soal perut dan minyak tanah dan PHK dan korupsi dan plesiran DPR dan penggundulan pohon dan dosa-dosa Soeharto dan kemelaratan yang mematikan dan lain-lain.
Contohnya adalah yang dilakukan terhadap Ahmadiyah di Indonesia.
Di sana bukan cuma Front Pembela Islam saja yang terlibat. Di sana ada Majelis Ulama Indonesia. Berbeda dengan FPI yang lebih menyerupai eksekutor dan pelaku lapangan, Majelis Ulama Indonesia adalah pihak yang berkuasa atas 'kepercayaan', makhluk ini memiliki kekuasaan untuk mempersesat setiap pemikiran yang ia kehendaki mendapatkan cap sesat, dia menguasai permasalahan penafsiran dan interpretasi, dia berkuasa atas banyak hal - dari stempel Halal hingga (kalau mau dapat saja) mengeluarkan fatwa bahwa ngentot dengan gaya tertentu adalah sesat. Dia rajin bermesraan dengan penguasa politik, di dalam tubuhnya terkandung elemen-elemen penguasa senjata, dan tentu saja dirinya saling libat-melibat dengan kekuasaan ekonomi.
MUI berkata. FPI mengeksekusi. Kelihatannya ricuh. Masyarakat terbengong-bengong. Semakin terbengong-bengong. Kelihatannya semakin ricuh. TV dan koran penuh dengan berita sejenis. Masyarakat lupa segalanya. Lantas tinggal beri teken 'sesat' oleh tiga menteri. Selesai: Pemerintah girang bukan kepalang.
Masalah dapat diselesaikan dengan cara mempersesat orang lain. Yang artinya satu lagi penindasan terhadap orang lain. Dan mempertolol bangsa. Dan menipu rakyat. Dan menumbuhkan kedunguan sesubur-suburnya. Membuat orang lupa pada perutnya sendiri. Membiarkan kemelaratan terus merajalela. Memelihara setan-setan bersorban untuk dimanfaatkan dalam kesempatan yang kesempitan.
***
Jadi kalau belakangan ini sering dikatakan bahwa FPI harus dibubarkan:
Kukatakan negara ini pun sesungguhnya sudah mesti dibubarkan!
Karena penguasa negara ini telah berdiri dengan struktur yang menindas rakyatnya sendiri!
Karena mereka, anjing-anjing penguasa, seluruh pemeran Trias Politica di negeri ini, eksekutif-legislatif-dan-bahkan-yudikatif, dengan TNI-nya, dengan seluruh komponennya, dengan semua sahabat-sahabat penguasa ekonominya, mereka semua beramai-ramai merampok, menjarah, membunuh, dan memperkosa rakyatnya sendiri!
Dan jangan lupakan yang berkuasa atas langit-bumi-tuhan-beserta-nabi-nabinya. Jangan lupa untuk membubarkan MUI: Majelis Ulama Indonesia. Sang setan fasis.
Fasis.
FASIS!!
Surat Keputusan Bersama itu, yang ditandatangani oleh tiga menteri berbunyi seperti ini:
1. Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No. 1 PNPS 1965 tentang pencegahan penodaan agama.
2. Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Islam pada umumnya. Seperti pengakuan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
3. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenai sanksi sesuai peraturan perundangan.
4. Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI.
5. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan yang berlaku.
6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah agar melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan keputusan bersama ini.
***
Sementara Undang Undang Dasar Negara ini, pada pasal 29 mengatakan:
"Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu."
Bagaimana bisa, bahwa di sebuah negara muncul sebuah peraturan, sebuah 'surat keputusan bersama', yang mengingkari Undang Undang Dasarnya sendiri. Apa artinya memiliki Undang Undang Dasar yang berslogan 'dasar dari segala dasar hukum' kalau peraturan, undang-undang, dan 'keputusan bersama' yang tercipta kemudian bertentangan dengannya? Atau justru memang tidak lebih cuma sebagai slogan belaka?
Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan dari orang-orang di negeri ini untuk mengangkangi, meludahi, dan menginjak-injak Undang Undang Dasarnya sendiri; menciptakan peraturan, undang-undang, keputusan ini, dan keputusan itu yang bertentangan dengannya.
Supaya tidak tampak terlalu dungu, setidaknya amandemen-lah dulu Undang Undang Dasar itu. Ubah dulu isinya. Buang pasal-pasal yang tidak disukai, ubah yang mengganjal, dan dalam kasus ini hapuskan pasal 29 ayat 2, ganti menjadi: "Negara berhak untuk menentukan agama mana yang benar dan agama mana yang salah." Tambahkan juga ayat ketiga: "Negara dapat melarang warganya menganut kepercayaan tertentu."
Tetapi apakah itu masuk akal? Tidak! Negara tidak mempunyai legitimasi untuk melarang warganya mempercayai sesuatu. Selama kepercayaan itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak membuat orang yang mempercayainya melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, negara tidak mempunyai legitimasi apapun untuk melarang suatu kepercayaan. Terlebih lagi jika kepercayaan itu menyangkut tuhan, ketuhanan, dan segala tetek-bengeknya.
Karena untuk percaya kepada sesuatu, untuk percaya (bahkan untuk tidak percaya) kepada tuhan, adalah merupakan Hak Asasi Manusia yang telah diakui oleh negara-negara beradab di muka bumi. Sehingga dengan demikian tindakan negara ini yang melarang-larang, mempersesat, dan membiarkan kekerasan terhadap orang-orang yang menganut kepercayaan tertentu adalah bukan saja mengingkari Undang Undang Dasarnya sendiri, tetapi lebih dari itu adalah bertentangan dengan Universal Declaration of Human Rights.
Bahkan negara ini tidak mempunyai sedikitpun legitimasi untuk 'mengakui' kepercayaan tertentu sebagai 'benar' atau terlebih lagi 'mengizinkan' suatu kepercayaan!
Karena, pertama, dalam negara hukum seperti Indonesia, 'negara' adalah entitas duniawi yang mengurusi permasalahan manusiawi, 'negara' bukan mengurusi hal-hal sorgawi-tuhan-allah-wi, iblis-hantu-blau-wi, dan antek-anteknya. Negara (semestinya) mengurusi hubungan antara manusia dengan manusia, kehidupan manusia dari kelahirannya hingga kematiannya, dan biarkan hubungan manusia dengan tuhannya diurus oleh masing-masing manusia itu sendiri, secara privat, mandiri, dan pribadi.
Kedua, apa dasar dari 'pengakuan' dan 'pengizinan' yang dilakukan oleh negara terhadap kepercayaan-kepercayaan yang beredar? Apa dasar dari penentuan dan pemilihan itu? Apa yang menjamin bahwa pilihan negara benar adanya?
Bukankah negara ini bukan sebuah negara di mana pemimpin dan pembantu-pembantunya mengklaim memiliki kemampuan untuk berkomunikasi langsung dan menjadi penerjemah tuhan? Bukankah penguasa-penguasa negara ini adalah 'orang-orang biasa' yang pada dasarnya sama-sama buta tentang tuhan seperti seluruh warga negara yang lainnya? Bukankah negara ini dipimpin oleh 'presiden' dan bukan oleh 'nabi'?
Maka dari mana para penguasa dan pejabat negara ini dapat mengetahui kepercayaan mana yang benar dan kepercayaan mana yang salah?!
Sementara yang saat ini telah 'diakui' dan 'diizinkan' adalah enam kepercayaan dengan sumber dan akar ajaran yang mutlak berbeda-beda, nabi-nabi yang tidak sama, nama yang rupa-rupa, hari raya yang aneka-ragam, dan orientasi ketuhanan yang bermacam-macam. Allah, Yesus, hingga Wishnu. Bunda Maria, Buddha Gautama, Shiva, Muhammad, lantas Ta Pe Kong. Jangan lupakan Buddha Maitreya, Brahma, Konfusius, kemudian Manunggaling Kawulo Gusti.
Apa dasarnya?
Sekarang kita dapat melihat. Dasar dari pilihan itu adalah soal politis dan sosial belaka. Rupanya memang negara ini tetap saja bukan sebuah negara yang dipimpin oleh para utusan tuhan-allah. Pilihan-pilihannya, pengakuan dan perizinannya terhadap kepercayaan-kepercayaan bukanlah didasarkan atas 'benar' atau 'salah'-nya kepercayaan itu, melainkan atas dasar pertimbangan-pertimbangan politis dan sosial.
Sehingga, kuulangi, pada dasarnya negara tidak memiliki legitimasi apapun untuk - baik melarang, maupun mengakui kepercayaan-kepercayaan warganya. Sesuai dengan arah kepentingan 'negara' yang duniawi dan manusiawi, semestinya negara yang sehat dan waras tidak akan memiliki permasalahan dan tidak perlu mengambil pusing soal kepercayaan warganya, selama kepercayaan itu tidak menentang atau membuat pengikutnya menentang nilai-nilai kemanusiaan.
***
Jika kita bicara mengenai kepercayaan dalam lingkup antar manusia-manusia biasa bukan sebagai entitas kenegaraan, kelembagaan, atau organisasi entah apa; juga tafsir, interpretasi, cara pandang, pengertian, hal-hal semacam itu dapat menjadi sangat berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang yang lainnya. Perbedaan ini tidak akan pernah dapat dihindari, justru karena manusia mempunyai otaknya masing-masing untuk berpikir.
Dan perbedaan-perbedaan ini, sejauh menyangkut 'kepercayaan', akan tetap dan harus legal. Perbedaan yang menyangkut 'kepercayaan' tidak dapat dipersesat dan diperkafir, apalagi diberantas dengan cara menggebugi yang mempercayainya, persis karena sifat dari 'kepercayaan' itu sendiri:
Bahwa 'kepercayaan' adalah memang cuma didasarkan pada 'percaya' belaka, tidak dapat (atau belum) terbuktikan. Karena kalau dapat dan sudah dibuktikan, tentu namanya bukan lagi 'kepercayaan', melainkan 'fakta' atau 'kenyataan'.
Maka, dengan sifat internal dari sang 'kepercayaan' yang memang tetap saja hanya merupakan 'kepercayaan' sejauh tidak ada klarifikasi dan pembuktian yang memadai, maka sebenarnya tidak ada 'kepercayaan' jenis apapun yang bisa dikatakan sebagai 'benar' atau 'sesat'.
Sederhananya, pihak-pihak yang mempersesat kepercayaan pihak yang lain, bukankah dirinya sendiri pun sebenarnya hanya bersandar pada sepotong kata 'percaya' belaka?
'Percaya' bahwa buku-buku usang yang menjadi panduannya dalam memperkafir adalah valid dan afdol, 'percaya' bahwa apa yang dilakukannya akan dibalas dengan sorga yang cihuy, 'percaya' bahwa perkataan sang nabi memang benar, 'percaya' bahwa dia itu memang seorang nabi, 'percaya' bahwa tuhan memang ada, hanya 'percaya' dan tidak lebih dari 'percaya'.
Cuma 'percaya' saja.
***
Sebenarnya dalam lingkup orang-per-orang, dalam lingkup kehidupan sipil sesama warga manusia yang sederajat, bagaimanapun juga, adalah sah-sah saja jika pihak yang satu menganggap pihak yang lain sebagai 'salah', 'sesat', apapun.
Dialog, diskusi, bahkan perdebatan keras pun sehat-sehat saja - walaupun mungkin lebih tidak berguna dan akan tampak dungu-ketolol-tololan jika dilakukan untuk meributkan 'kepercayaan' (sekali lagi, yang dasarnya memang cuma 'percaya' itu).
Tetapi itu sah-sah saja.
Dalam kasus yang cukup besar, justru semestinya di sana muncul peran negara. Bukannya untuk memberi cap 'benar' dan 'mujarab' kepada pihak yang satu dan ikut-ikutan menegaskan cap 'sesat' kepada pihak yang lain, dan sama sekali bukan malah menerbitkan surat larangan dan surat ancaman untuk pihak yang dipersesat.
Melainkan untuk menjamin kebebasan setiap pihak untuk mempercayai apapun yang menjadi kepercayaannya. Untuk mengontrol berbagai macam pihak dengan kepercayaannya masing-masing agar tidak melampaui batas-batas tertentu, karena sesuai dengan prinsip kebebasan yang "terbatasi oleh kebebasan orang lain", maka ketika 'kepercayaan' pihak yang satu telah mempersesat 'kepercayaan' pihak yang lain dan lebih dari itu mengganggu, bersifat ofensif, dan secara aktif mengganggu, maka negara semestinya berperan di sana, untuk menghentikannya. Secara manusiawi dan duniawi, agar tetap netral di antara kepercayaan-kepercayaan sorgawi.
Yang akan menjadi masalah, adalah jika tindakan mempersesat, mempermurtad, memperkafir, dan memperiblis dilakukan oleh alat dari penguasa. Atau oleh entitas yang rajin bermesra-mesraan dengan penguasa. Atau oleh pihak yang memiliki kepentingan yang sama dengan penguasa. Atau oleh lembaga yang isinya kurang-lebih sedikit-banyak adalah komponen-komponen yang berkuasa juga. Atau oleh pihak yang, secara resmi ataupun tidak resmi, memang berkuasa.
Jika penguasa memiliki hak untuk mempersesat, jika penguasa memiliki alat yang dapat digunakan untuk mempersesat suatu pihak, maka yang akan terjadi adalah penindasan struktural. Penindasan yang sistematis.
Karena penindasan bukan lagi dilakukan oleh sesama manusia sederajat yang memiliki kemampuan yang (kurang lebih) sama dalam mempertahankan dirinya, melainkan oleh pihak yang memiliki sumber daya, kemampuan, kekuasaan, alat, dana, dan yang terpenting legitimasi untuk melakukan penindasan tersebut. Walaupun legitimasi itu terbentuk dalam kerangka berpikir yang tidak logis, tidak rasional, dan seperti kita tau, bertentangan dengan Undang Undang Dasarnya sendiri.
Berikutnya, penindasan semacam itu, yang tampaknya dilakukan dalam nama kesesatan dan kebenaran, belum tentu benar-benar terjadi dalam nama kesesatan dan kebenaran belaka. Penguasa akan (dapat) dengan mudah mempermainkan dan mengaduk-aduk antara urusan duniawi-manusiawi dengan urusan surgawi-roh-kudus-setan-iblis-tuhan-allah-wi. Penguasa akan (dapat) menggunakan yang satu untuk menunjang yang lain.
Penguasa akan (melalui jalan dan pihak-pihak tertentu) mempersesat suatu pihak, menyebar propaganda, menuangkan bahan bakar kebencian dan fanatisme, dan kemudian percikkan sedikit bunga api agitasi. Maka jadilah si sesat menjadi yang tersesat dan tidak ada lagi orang yang ingat soal perut dan minyak tanah dan PHK dan korupsi dan plesiran DPR dan penggundulan pohon dan dosa-dosa Soeharto dan kemelaratan yang mematikan dan lain-lain.
Contohnya adalah yang dilakukan terhadap Ahmadiyah di Indonesia.
Di sana bukan cuma Front Pembela Islam saja yang terlibat. Di sana ada Majelis Ulama Indonesia. Berbeda dengan FPI yang lebih menyerupai eksekutor dan pelaku lapangan, Majelis Ulama Indonesia adalah pihak yang berkuasa atas 'kepercayaan', makhluk ini memiliki kekuasaan untuk mempersesat setiap pemikiran yang ia kehendaki mendapatkan cap sesat, dia menguasai permasalahan penafsiran dan interpretasi, dia berkuasa atas banyak hal - dari stempel Halal hingga (kalau mau dapat saja) mengeluarkan fatwa bahwa ngentot dengan gaya tertentu adalah sesat. Dia rajin bermesraan dengan penguasa politik, di dalam tubuhnya terkandung elemen-elemen penguasa senjata, dan tentu saja dirinya saling libat-melibat dengan kekuasaan ekonomi.
MUI berkata. FPI mengeksekusi. Kelihatannya ricuh. Masyarakat terbengong-bengong. Semakin terbengong-bengong. Kelihatannya semakin ricuh. TV dan koran penuh dengan berita sejenis. Masyarakat lupa segalanya. Lantas tinggal beri teken 'sesat' oleh tiga menteri. Selesai: Pemerintah girang bukan kepalang.
Masalah dapat diselesaikan dengan cara mempersesat orang lain. Yang artinya satu lagi penindasan terhadap orang lain. Dan mempertolol bangsa. Dan menipu rakyat. Dan menumbuhkan kedunguan sesubur-suburnya. Membuat orang lupa pada perutnya sendiri. Membiarkan kemelaratan terus merajalela. Memelihara setan-setan bersorban untuk dimanfaatkan dalam kesempatan yang kesempitan.
***
Jadi kalau belakangan ini sering dikatakan bahwa FPI harus dibubarkan:
Kukatakan negara ini pun sesungguhnya sudah mesti dibubarkan!
Karena penguasa negara ini telah berdiri dengan struktur yang menindas rakyatnya sendiri!
Karena mereka, anjing-anjing penguasa, seluruh pemeran Trias Politica di negeri ini, eksekutif-legislatif-dan-bahkan-yudikatif, dengan TNI-nya, dengan seluruh komponennya, dengan semua sahabat-sahabat penguasa ekonominya, mereka semua beramai-ramai merampok, menjarah, membunuh, dan memperkosa rakyatnya sendiri!
Dan jangan lupakan yang berkuasa atas langit-bumi-tuhan-beserta-nabi-nabinya. Jangan lupa untuk membubarkan MUI: Majelis Ulama Indonesia. Sang setan fasis.
Fasis.
FASIS!!
Karadzic dan Soeharto
4 Agustus 2008 17:39:01
1
Radovan Karadzic (63) adalah seorang penulis puisi, seorang psikiater, bekas politisi Bosnia Serbia, salah satu pendiri Serbian Democratic Party, dan sempat menjadi presiden Republik Srpska pada tahun 1992-1996.
Setelah 13 tahun menghilang, Karadzic ditangkap pada 18 Juli 2008 di Belgrad, dan tanggal 31 bulan dan tahun yang sama dihadapkan Pengadilan Internasional di Den Haag (ICTY, International Court Tribunal for the former Yugoslavia) dengan tuduhan pelaku kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, dan genosida.
Karadzic dituntut hukuman penjara seumur hidup.
Apa yang telah dilakukannya sehingga dia mendapat tuduhan-tuduhan itu? Apa yang menyebabkan dia sempat dijadikan salah satu most-wanted-man oleh Interpol?
Membunuh delapan ribu orang (Muslim) Bosnia.
Pembunuhan itu dilakukan selama perang Bosnia-Herzegovina pada tahun 1992-1995 yang disertai dengan pengepungan kota Sarajevo selama 43 bulan.
Begini selengkapnya apa yang dituduhkan kepada Karadzic:
- Genocide
- Complicity in genocide
- Crime against humanity (extermination; murder; persecutions of political, racial, and religious grounds; deportation; forcible transfer)
- Violations of the laws or customs of war (unlawfully inflicting terror upon civilians; taking hostages)
- Grave breach of the geneva conventions of 1949 (wilful killing)
***
2
Proses pengadilan terhadap Karadzic untuk pembunuhan-pembunuhan yang telah dilakukannya, yang sejumlah 'delapan ribu orang' (saja) itu. Bukan untuk menyepelekan apa yang telah terjadi di Bosnia dan apa yang telah dia perbuat, tetapi coba bandingkan dengan mendiang Soeharto, Bapak Pembangunan tersayang, mantan Presiden Republik Indonesia yang terhormat itu.
Apa yang telah dilakukan Soeharto?
Kalau Karadzic mengepung Sarajevo selama 43 bulan, maka Indonesia di bawah kepemimpinan Haji Muhammad Soeharto menjajah Timor Timur selama 23 TAHUN; selama itu 18.600 orang dibunuh atau hilang, diikuti dengan kematian antara 84.000 hingga 183.000 orang sebagai akibat langsung dari tindakan Indonesia. Yang mana berarti pembunuhan terhadap sepertiga dari populasi Timor Timur.
Kalau selama 43 bulan Karadzic "hanya berhasil" membantai 8.000 orang, Soeharto telah menghilangkan antara 500.000 hingga 1.000.000 orang dalam kurun waktu beberapa tahun saja sejak ia memulai kampanye pembasmian PKI pada tahun 1965.
Diikuti pemenjaraan sekitar 200.000 orang tanpa pengadilan, termasuk sekitar 13.000 orang yang dibuang ke pulau Buru hingga sebagian (besar?) dari mereka mati di sana. Diteruskan dengan teror, diskriminasi, penganiayaan secara mental, dan penindasan terhadap (bahkan) keturunan-keturunan dari para terjagal dan terbuang itu. Dilengkapi dengan pembodohan dan penggoblokan bangsa selama puluhan tahun kemudian yang efeknya masih sangat terasa hingga hari ini.
Catat juga penyiksaan, pemerkosaan, dan pemutarbalikkan fakta yang dilakukan atas izin, atau bahkan atas perintah, atau setidaknya atas sepengetahuan Jenderal Soeharto.
Berkat diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) pada tahun 1989-1998, Soeharto telah berhasil mengubah Aceh, "Tanoh Meutuah", Tanah Terberkahi, menjadi tanah yang berdarah-darah. Lima belas ribu (15.000) orang sipil terbunuh.
Dengan pembekalan kesaktian otak militaristik, Dwi Fungsi ABRI, dan DOM warisan Eyang Soeharto sang Guru Bangsa, Megawati meneruskan perjuangan menambah pasukan jagal hingga 35.000 orang di Aceh, lebih dari 100.000 orang menjadi pengungsi, dan pembunuhan menjadi hal biasa.
Tangan Bapak Soeharto bahkan telah berlumuran darah rakyat Papua bahkan sejak sebelum ia resmi menjadi presiden Republik ini. Minimal 100.000 orang, ratusan ribu orang telah dibantai, disiksa, ditangkap, difitnah, dan diteror demi menyerahkan tambang emas raksasa di tanah itu kepada Freeport.
Daftar pembunuhan-pembunuhan yang telah dilakukan sang Jenderal masih dapat diperpanjang lagi. Tanjung Priok, Lampung, Petrus, pembunuhan petani dan buruh perkebunan di berbagai tempat, aktivis mahasiswa, aktivis buruh, kerusuhan 1998, penggusuran di sini dan di sana, dan lain-lain.
***
3
Pada dasarnya, dibandingkan Soeharto, apa yang telah dilakukan oleh Karadzic tampak tidak ada apa-apanya (sekali lagi, bukan untuk menyepelekan apa yang telah terjadi di Bosnia dan apa yang telah dilakukan Karadzic).
Walaupun memang, jelas ada sangkut-paut politis dan ekonomis dalam menentukan siapa yang layak didudukan sebagai pesakitan dan siapa yang layak untuk dibiarkan terlupakan bersama waktu saja. Ini akan terlihat jelas (terutama) jika membandingkan apa yang dilakukan dunia internasional terhadap Pol Pot dengan Soeharto.
Pol Pot yang komunis telah menjadi pesakitan sejati di muka dunia. Sementara Soeharto yang anti-komunis menerima lampu hijau, dukungan, bantuan, dan bahkan kiriman persenjataan untuk meneruskan misinya mengamankan daerah-daerah kekuasaan (misalnya) Exxon dan Freeport. Dan Soeharto jelas sangat berjasa dalam mengamankan kumpulan pulau-pulau ini dari bahaya komunis, dia yang telah memberantas ratusan ribu hingga jutaan orang komunis di sana.
***
4
Tetapi kemudian di mana martabat bangsa ini?!
Darah telah ditumpahkan di setiap jengkal tanah negeri ini
Darah saudara-saudaranya sendiri!
Dalam nama Bapak Pembangunan, beratus-ratus ribu berjuta-juta manusia dibunuh, dilenyapkan dari muka bumi.
Ditangkap, dirampok, dipenjara, disiksa, dibuang, dibunuh, dibantai.
DIBANTAI!
DIBANTAI atas sepengetahuan, atas izin, atas perintah, atas kehendak Jenderal Soeharto yang terhormat.
Di balik senyumnya yang manis adalah seorang jagal yang telah mencabut nyawa berjuta-juta nyawa manusia.
Di balik sosoknya yang lemah lembut kebapakan adalah seorang manusia yang telah menyirami tanah negeri ini dengan darah berjuta-juta saudaranya sendiri, bangsanya sendiri: Anak-anaknya sendiri!
Dalam nama keagungan dan kedigdayaan kekuasaan Haji Muhammad Soeharto:
SANG TIRAN!
Dan ia telah mati dalam layanan bagai kaisar. Dan ia dikuburkan dengan upacara militer. Dan bendera setengah tiang berkibaran di mana-mana. Dan pemimpin bangsa ini datang merangkak sesengukan ke hadapan mayatnya.
Dan bangsa ini mengusulkan gelar pahlawan untuknya.
Kalau bangsa ini tidak memberikan label pesakitan kepada Soeharto, artinya bangsa ini menyepakati dan mendukung apa yang telah dilakukannya.
Maka itu adalah tanda yang sangat jelas:
Bahwa bangsa biadab dan hina dan terkutuk ini sudah tidak layak lagi untuk tetap ada di muka bumi!
Catatan:
1
http://www.un.org/icty/indictment/english/kar-ai000428e.htm
http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/876084.stm
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/01/00573799/karadzic.hadapi.sidang
http://en.wikipedia.org/wiki/Radovan_Karadzic
http://en.wikipedia.org/wiki/Bosnian_Serb
2
http://tapol.gn.apc.org/news/files/Suharto%20Obituary.htm
http://tapol.gn.apc.org/reports/r050430.htm
http://www.newint.org/issue344/madness.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Irian_Jaya
http://acehnet.tripod.com/begin.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Free_Aceh_Movement
3
http://insideindonesia.org/content/view/757/29/
http://www.converge.org.nz/abc/prsp25.htm
http://www.fair.org/extra/9809/suharto.html
1
Radovan Karadzic (63) adalah seorang penulis puisi, seorang psikiater, bekas politisi Bosnia Serbia, salah satu pendiri Serbian Democratic Party, dan sempat menjadi presiden Republik Srpska pada tahun 1992-1996.
Setelah 13 tahun menghilang, Karadzic ditangkap pada 18 Juli 2008 di Belgrad, dan tanggal 31 bulan dan tahun yang sama dihadapkan Pengadilan Internasional di Den Haag (ICTY, International Court Tribunal for the former Yugoslavia) dengan tuduhan pelaku kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, dan genosida.
Karadzic dituntut hukuman penjara seumur hidup.
Apa yang telah dilakukannya sehingga dia mendapat tuduhan-tuduhan itu? Apa yang menyebabkan dia sempat dijadikan salah satu most-wanted-man oleh Interpol?
Membunuh delapan ribu orang (Muslim) Bosnia.
Pembunuhan itu dilakukan selama perang Bosnia-Herzegovina pada tahun 1992-1995 yang disertai dengan pengepungan kota Sarajevo selama 43 bulan.
Begini selengkapnya apa yang dituduhkan kepada Karadzic:
- Genocide
- Complicity in genocide
- Crime against humanity (extermination; murder; persecutions of political, racial, and religious grounds; deportation; forcible transfer)
- Violations of the laws or customs of war (unlawfully inflicting terror upon civilians; taking hostages)
- Grave breach of the geneva conventions of 1949 (wilful killing)
***
2
Proses pengadilan terhadap Karadzic untuk pembunuhan-pembunuhan yang telah dilakukannya, yang sejumlah 'delapan ribu orang' (saja) itu. Bukan untuk menyepelekan apa yang telah terjadi di Bosnia dan apa yang telah dia perbuat, tetapi coba bandingkan dengan mendiang Soeharto, Bapak Pembangunan tersayang, mantan Presiden Republik Indonesia yang terhormat itu.
Apa yang telah dilakukan Soeharto?
Kalau Karadzic mengepung Sarajevo selama 43 bulan, maka Indonesia di bawah kepemimpinan Haji Muhammad Soeharto menjajah Timor Timur selama 23 TAHUN; selama itu 18.600 orang dibunuh atau hilang, diikuti dengan kematian antara 84.000 hingga 183.000 orang sebagai akibat langsung dari tindakan Indonesia. Yang mana berarti pembunuhan terhadap sepertiga dari populasi Timor Timur.
Kalau selama 43 bulan Karadzic "hanya berhasil" membantai 8.000 orang, Soeharto telah menghilangkan antara 500.000 hingga 1.000.000 orang dalam kurun waktu beberapa tahun saja sejak ia memulai kampanye pembasmian PKI pada tahun 1965.
Diikuti pemenjaraan sekitar 200.000 orang tanpa pengadilan, termasuk sekitar 13.000 orang yang dibuang ke pulau Buru hingga sebagian (besar?) dari mereka mati di sana. Diteruskan dengan teror, diskriminasi, penganiayaan secara mental, dan penindasan terhadap (bahkan) keturunan-keturunan dari para terjagal dan terbuang itu. Dilengkapi dengan pembodohan dan penggoblokan bangsa selama puluhan tahun kemudian yang efeknya masih sangat terasa hingga hari ini.
Catat juga penyiksaan, pemerkosaan, dan pemutarbalikkan fakta yang dilakukan atas izin, atau bahkan atas perintah, atau setidaknya atas sepengetahuan Jenderal Soeharto.
Berkat diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) pada tahun 1989-1998, Soeharto telah berhasil mengubah Aceh, "Tanoh Meutuah", Tanah Terberkahi, menjadi tanah yang berdarah-darah. Lima belas ribu (15.000) orang sipil terbunuh.
Dengan pembekalan kesaktian otak militaristik, Dwi Fungsi ABRI, dan DOM warisan Eyang Soeharto sang Guru Bangsa, Megawati meneruskan perjuangan menambah pasukan jagal hingga 35.000 orang di Aceh, lebih dari 100.000 orang menjadi pengungsi, dan pembunuhan menjadi hal biasa.
Tangan Bapak Soeharto bahkan telah berlumuran darah rakyat Papua bahkan sejak sebelum ia resmi menjadi presiden Republik ini. Minimal 100.000 orang, ratusan ribu orang telah dibantai, disiksa, ditangkap, difitnah, dan diteror demi menyerahkan tambang emas raksasa di tanah itu kepada Freeport.
Daftar pembunuhan-pembunuhan yang telah dilakukan sang Jenderal masih dapat diperpanjang lagi. Tanjung Priok, Lampung, Petrus, pembunuhan petani dan buruh perkebunan di berbagai tempat, aktivis mahasiswa, aktivis buruh, kerusuhan 1998, penggusuran di sini dan di sana, dan lain-lain.
***
3
Pada dasarnya, dibandingkan Soeharto, apa yang telah dilakukan oleh Karadzic tampak tidak ada apa-apanya (sekali lagi, bukan untuk menyepelekan apa yang telah terjadi di Bosnia dan apa yang telah dilakukan Karadzic).
Walaupun memang, jelas ada sangkut-paut politis dan ekonomis dalam menentukan siapa yang layak didudukan sebagai pesakitan dan siapa yang layak untuk dibiarkan terlupakan bersama waktu saja. Ini akan terlihat jelas (terutama) jika membandingkan apa yang dilakukan dunia internasional terhadap Pol Pot dengan Soeharto.
Pol Pot yang komunis telah menjadi pesakitan sejati di muka dunia. Sementara Soeharto yang anti-komunis menerima lampu hijau, dukungan, bantuan, dan bahkan kiriman persenjataan untuk meneruskan misinya mengamankan daerah-daerah kekuasaan (misalnya) Exxon dan Freeport. Dan Soeharto jelas sangat berjasa dalam mengamankan kumpulan pulau-pulau ini dari bahaya komunis, dia yang telah memberantas ratusan ribu hingga jutaan orang komunis di sana.
***
4
Tetapi kemudian di mana martabat bangsa ini?!
Darah telah ditumpahkan di setiap jengkal tanah negeri ini
Darah saudara-saudaranya sendiri!
Dalam nama Bapak Pembangunan, beratus-ratus ribu berjuta-juta manusia dibunuh, dilenyapkan dari muka bumi.
Ditangkap, dirampok, dipenjara, disiksa, dibuang, dibunuh, dibantai.
DIBANTAI!
DIBANTAI atas sepengetahuan, atas izin, atas perintah, atas kehendak Jenderal Soeharto yang terhormat.
Di balik senyumnya yang manis adalah seorang jagal yang telah mencabut nyawa berjuta-juta nyawa manusia.
Di balik sosoknya yang lemah lembut kebapakan adalah seorang manusia yang telah menyirami tanah negeri ini dengan darah berjuta-juta saudaranya sendiri, bangsanya sendiri: Anak-anaknya sendiri!
Dalam nama keagungan dan kedigdayaan kekuasaan Haji Muhammad Soeharto:
SANG TIRAN!
Dan ia telah mati dalam layanan bagai kaisar. Dan ia dikuburkan dengan upacara militer. Dan bendera setengah tiang berkibaran di mana-mana. Dan pemimpin bangsa ini datang merangkak sesengukan ke hadapan mayatnya.
Dan bangsa ini mengusulkan gelar pahlawan untuknya.
Kalau bangsa ini tidak memberikan label pesakitan kepada Soeharto, artinya bangsa ini menyepakati dan mendukung apa yang telah dilakukannya.
Maka itu adalah tanda yang sangat jelas:
Bahwa bangsa biadab dan hina dan terkutuk ini sudah tidak layak lagi untuk tetap ada di muka bumi!
Catatan:
1
http://www.un.org/icty/indictment/english/kar-ai000428e.htm
http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/876084.stm
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/01/00573799/karadzic.hadapi.sidang
http://en.wikipedia.org/wiki/Radovan_Karadzic
http://en.wikipedia.org/wiki/Bosnian_Serb
2
http://tapol.gn.apc.org/news/files/Suharto%20Obituary.htm
http://tapol.gn.apc.org/reports/r050430.htm
http://www.newint.org/issue344/madness.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Irian_Jaya
http://acehnet.tripod.com/begin.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Free_Aceh_Movement
3
http://insideindonesia.org/content/view/757/29/
http://www.converge.org.nz/abc/prsp25.htm
http://www.fair.org/extra/9809/suharto.html
Soeharto Juga Manusia
2 Februari 2008 18:53:26
Ada orang-orang yang dengan arif bijaksana mengatakan bahwa "Soeharto itu juga manusia," seperti kita semua pun manusia, yang mana sebagai manusia tak akan luput dari kesalahan. Dan bahkan ada orang-orang lainnya, dengan disertai aroma kemarahan dan ketidaksukaan, mengatakan hal yang pada dasarnya senada - bahwa "Soeharto juga manusia! Wajar kalau melakukan kesalahan! Kan kau pun melakukan kesalahan?! Jangan sok suci! Urus saja urusanmu sendiri!"
Sebelum yang lainnya, kenapa aku sedemikian urusannya soal Soeharto? Jawaban pertama adalah karena aku melihat bahwa sejak ia sakit dan terlebih lagi sejak ia mati, sebagian masyarakat mulai melupakan sejarah dan larut dalam melankoli duka dan haru kepergian sang Bapak Pembangunan. Ini berkaitan dengan jawaban kedua, bahwa sudah merupakan hak dan kewajibanku - sebagai bagian dari rakyat negeri - untuk ikut mencemplungkan diri dalam urusan per-Soeharto-an ini, sejak pekerjaan (tanggung jawab dan kewajiban) Soeharto pada masa lalu adalah mengurusi rakyatnya.
Dan jawaban ketiga, adalah karena aku seorang manusia. Dan merupakan kewenangan seorang manusia untuk menyuarakan pikirannya, terlebih lagi ketika itu dilakukan untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang sangat penting yang telah kita lupakan.
***
Lalu soal bahwa Soeharto itu juga manusia.
Itu benar, Soeharto memang manusia, yang imut-imut dan sungguh kharismatik serta kebapakan. Dan manusia bernama Soeharto itu, selayaknya manusia manapun, jelas dapat dan sewajarnya melakukan kesalahan.
Hanya saja:
Kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh manusia tidak dapat dipukul rata dan disamakan begitu saja satu dengan yang lainnya sebagai sekadar "kesalahan" atau "kekhilafan".
Ketika kau ditodong di jalanan, lalu kau lawan karena ia mulai mengancam hidupmu, dan ternyata sang penodong mati akibat perlawananmu, secara hukum kau tidak dianggap bersalah karena kau membunuh orang itu dalam rangka membela kehidupanmu sendiri.
Seandainya kau saling meledek dengan kawanmu, yang kemudian menjadi memanas, menjadi perkelahian, dan tanpa sengaja kau bunuh kawanmu itu, kau bersalah karena kau telah menghilangkan nyawa seseorang.
Atau bisa jadi kau merampok sebuah rumah gedongan, pemilik rumah yang dirampok melawanmu, dan kau bunuh dia, kau buat dia mati. Kau bersalah, karena merampok, dan terutama karena membunuh - walaupun kau pada awalnya hanya berniat untuk merampok, bukan membunuh.
***
Kembali ke Soeharto, kita harus ingat bahwa apa yang dilakukannya bukanlah "sekadar" korupsi, dan kolusi, dan nepotisme, dan hutang-hutang bertumpuk, dan sebagainya. Korupsi masih bisa diberantas, harta-harta pelakunya masih bisa disita, hutang masih bisa dibayar, atau bahkan masih bisa ditangguhkan, tetapi yang dilakukan Soeharto jauh melampaui kejahatan korupsi belaka.
Berbeda dengan pembunuhan-pembunuhan yang disebutkan di atas tadi; Soeharto, sejak ia menjelang kekuasaannya sebagai presiden negara ini, sebagai biaya untuk mendirikan dan mempertahankan rejimnya, telah melakukan pembunuhan-pembunuhan yang bukan bertujuan untuk membela diri. Bahkan banyak orang-orang yang ia bunuh berada dalam keadaan tak berdaya.
Ia jelas menyadari tindakan-tindakannya itu, yang ia lakukan adalah suatu pembunuhan terencana, dalam arti bahwa pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya memang diniatkan - sejak awalnya - untuk membunuh, untuk membuat mati orang-orang tertentu. Dan bukan sekadar terencana, ia juga melakukan pembunuhan-pembunuhan itu secara sistematis.
Walaupun aku tak perduli pada "bangsa" dan nasionalisme, Soeharto telah banyak sekali menghabiskan peluru-peluru milik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk membantai saudara-saudaranya sendiri, menumpahkan darah rakyatnya sendiri, yang seharusnya menjadi anak-anaknya di negeri ini.
Pernahkah kau melihat seribu orang berkumpul bersama di satu tempat? Bagaimana dengan seribu kalinya - sejuta orang? Bisakah kau membayangkannya? Tentu banyak sekali. Dan tahukah kau, orang-orang yang telah dibunuh oleh Soeharto berjumlah berjuta-juta orang!
Berjuta-juta manusia!
Ber-ju-ta-ju-ta!!
***
Lalu mungkin kau akan katakan, "kan tentu Soeharto tidak melakukan itu semua sendirian, kan itu karena bawahan-bawahannya juga, kan banyak bawahannya yang brengsek."
Justru!
Bahwa Soeharto tidak melakukannya sendirian - berbeda dengan perkelahian satu lawan satu, berbeda dengan tawuran antara pelajar dengan pelajar, bahkan berbeda dengan pertempuran antar suku - Soeharto menggunakan militer! Menggunakan sebuah organisasi besar militer sebuah negara, menggunakan sebuah ANGKATAN BERSENJATA untuk membunuhi rakyat sipil yang seringkali tidak bersenjata!!
Dan kita tau bahwa ia, presiden, adalah panglima tertinggi dari angkatan bersenjata, bahwa seandainya pun (S-E-A-N-D-A-I-N-Y-A!) ia tidak memerintahkan pembunuhan-pembunuhan itu, ia tau dan ia pasti tau bahwa semua itu terjadi, tepat di depan matanya. Dan dia, Jenderal Bintang Lima Haji Muhammad Soeharto, sebagai seorang panglima tertinggi, yang mampu, pasti mampu, dan harus mampu untuk menghentikannya, diam saja dan membiarkan berjuta-juta nyawa bertumbangan dalam rentang waktu puluhan tahun!
Ia menggunakan Angkatan Bersenjata sebuah negeri, dibantu oleh organisasi-organisasi para-militer dan preman-preman di sekelilingnya - dengan penuh kesadaran, secara terencana dan sistematis - ia merampok, memenjarakan, mengasingkan, menindas, memperbudak, memperkosa, dan membunuhi rakyat sipil yang mana adalah rakyatnya anak-anaknya sendiri!!
***
Jelas ada perbedaan yang sangat mendasar pada pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Soeharto. Jelas apa yang ia lakukan tidak dapat diterima sebagai sekadar "kesalahan" belaka yang sewajarnya dilakukan oleh manusia.
Karena jika demikian cara berpikirnya, maka kita juga mesti berhenti meletakkan Hitler dan Pol Pot pada panggung pesakitan dunia, melabelinya "hanya manusia biasa" dan memaafkan segala "kesalahannya"!
Lantas bebaskan para pembunuh dari penjara, batalkan hukuman mati mereka, dan rehabilitasi nama baik mereka - termasuk Amrozi, Iwan Samudra dan para peledak bom lainnya!
Juga jangan pernah lagi berkata-kata tentang kekejaman kolonialisme Belanda atau Jepang, jangan bicara lagi tentang kekejaman Israel terhadap Palestina, dan tutup bacotmu soal kebiadaban Amerika Serikat di Vietnam, Kuba, Afghanistan, Irak, dan lain-lain!
Karena berdasarkan logikamu yang sungguh arif bijaksana, semua pelaku-pelaku kekejaman itu pada dasarnya memang manusia biasa yang sepatutnya melakukan kesalahan, dan sebesar apapun kesalahan mereka, sebiadab apapun mereka, dalam nama Bapak Pembangunan mantan presiden Soeharto yang tercinta, mesti dimaafkan dan tidak boleh diungkap-ungkap.
Dan jadilah bangsa ini sebuah bangsa yang yang munafik!
Hipokrit.
Nista.
Terkutuk dan menjijikan!!
***
Setelah segala apa yang dilakukan oleh Soeharto, seharusnya ia bukan mendapatkan penghormatan militer pada pemakamannya, seharusnya bukan tujuh hari berkabung baginya, bukan pula usulan-usulan MAHA-BANGSAT untuk menjadikannya pahlawan nasional yang muncul.
Seharusnya yang muncul adalah sepotong label:
"penjahat kemanusiaan".
http://en.wikipedia.org/wiki/Crime_against_humanity
http://en.wikipedia.org/wiki/Mass_murder
http://en.wikipedia.org/wiki/Command_responsibility
http://en.wikipedia.org/wiki/Genocide
Ada orang-orang yang dengan arif bijaksana mengatakan bahwa "Soeharto itu juga manusia," seperti kita semua pun manusia, yang mana sebagai manusia tak akan luput dari kesalahan. Dan bahkan ada orang-orang lainnya, dengan disertai aroma kemarahan dan ketidaksukaan, mengatakan hal yang pada dasarnya senada - bahwa "Soeharto juga manusia! Wajar kalau melakukan kesalahan! Kan kau pun melakukan kesalahan?! Jangan sok suci! Urus saja urusanmu sendiri!"
Sebelum yang lainnya, kenapa aku sedemikian urusannya soal Soeharto? Jawaban pertama adalah karena aku melihat bahwa sejak ia sakit dan terlebih lagi sejak ia mati, sebagian masyarakat mulai melupakan sejarah dan larut dalam melankoli duka dan haru kepergian sang Bapak Pembangunan. Ini berkaitan dengan jawaban kedua, bahwa sudah merupakan hak dan kewajibanku - sebagai bagian dari rakyat negeri - untuk ikut mencemplungkan diri dalam urusan per-Soeharto-an ini, sejak pekerjaan (tanggung jawab dan kewajiban) Soeharto pada masa lalu adalah mengurusi rakyatnya.
Dan jawaban ketiga, adalah karena aku seorang manusia. Dan merupakan kewenangan seorang manusia untuk menyuarakan pikirannya, terlebih lagi ketika itu dilakukan untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang sangat penting yang telah kita lupakan.
***
Lalu soal bahwa Soeharto itu juga manusia.
Itu benar, Soeharto memang manusia, yang imut-imut dan sungguh kharismatik serta kebapakan. Dan manusia bernama Soeharto itu, selayaknya manusia manapun, jelas dapat dan sewajarnya melakukan kesalahan.
Hanya saja:
Kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh manusia tidak dapat dipukul rata dan disamakan begitu saja satu dengan yang lainnya sebagai sekadar "kesalahan" atau "kekhilafan".
Ketika kau ditodong di jalanan, lalu kau lawan karena ia mulai mengancam hidupmu, dan ternyata sang penodong mati akibat perlawananmu, secara hukum kau tidak dianggap bersalah karena kau membunuh orang itu dalam rangka membela kehidupanmu sendiri.
Seandainya kau saling meledek dengan kawanmu, yang kemudian menjadi memanas, menjadi perkelahian, dan tanpa sengaja kau bunuh kawanmu itu, kau bersalah karena kau telah menghilangkan nyawa seseorang.
Atau bisa jadi kau merampok sebuah rumah gedongan, pemilik rumah yang dirampok melawanmu, dan kau bunuh dia, kau buat dia mati. Kau bersalah, karena merampok, dan terutama karena membunuh - walaupun kau pada awalnya hanya berniat untuk merampok, bukan membunuh.
***
Kembali ke Soeharto, kita harus ingat bahwa apa yang dilakukannya bukanlah "sekadar" korupsi, dan kolusi, dan nepotisme, dan hutang-hutang bertumpuk, dan sebagainya. Korupsi masih bisa diberantas, harta-harta pelakunya masih bisa disita, hutang masih bisa dibayar, atau bahkan masih bisa ditangguhkan, tetapi yang dilakukan Soeharto jauh melampaui kejahatan korupsi belaka.
Berbeda dengan pembunuhan-pembunuhan yang disebutkan di atas tadi; Soeharto, sejak ia menjelang kekuasaannya sebagai presiden negara ini, sebagai biaya untuk mendirikan dan mempertahankan rejimnya, telah melakukan pembunuhan-pembunuhan yang bukan bertujuan untuk membela diri. Bahkan banyak orang-orang yang ia bunuh berada dalam keadaan tak berdaya.
Ia jelas menyadari tindakan-tindakannya itu, yang ia lakukan adalah suatu pembunuhan terencana, dalam arti bahwa pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya memang diniatkan - sejak awalnya - untuk membunuh, untuk membuat mati orang-orang tertentu. Dan bukan sekadar terencana, ia juga melakukan pembunuhan-pembunuhan itu secara sistematis.
Walaupun aku tak perduli pada "bangsa" dan nasionalisme, Soeharto telah banyak sekali menghabiskan peluru-peluru milik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk membantai saudara-saudaranya sendiri, menumpahkan darah rakyatnya sendiri, yang seharusnya menjadi anak-anaknya di negeri ini.
Pernahkah kau melihat seribu orang berkumpul bersama di satu tempat? Bagaimana dengan seribu kalinya - sejuta orang? Bisakah kau membayangkannya? Tentu banyak sekali. Dan tahukah kau, orang-orang yang telah dibunuh oleh Soeharto berjumlah berjuta-juta orang!
Berjuta-juta manusia!
Ber-ju-ta-ju-ta!!
***
Lalu mungkin kau akan katakan, "kan tentu Soeharto tidak melakukan itu semua sendirian, kan itu karena bawahan-bawahannya juga, kan banyak bawahannya yang brengsek."
Justru!
Bahwa Soeharto tidak melakukannya sendirian - berbeda dengan perkelahian satu lawan satu, berbeda dengan tawuran antara pelajar dengan pelajar, bahkan berbeda dengan pertempuran antar suku - Soeharto menggunakan militer! Menggunakan sebuah organisasi besar militer sebuah negara, menggunakan sebuah ANGKATAN BERSENJATA untuk membunuhi rakyat sipil yang seringkali tidak bersenjata!!
Dan kita tau bahwa ia, presiden, adalah panglima tertinggi dari angkatan bersenjata, bahwa seandainya pun (S-E-A-N-D-A-I-N-Y-A!) ia tidak memerintahkan pembunuhan-pembunuhan itu, ia tau dan ia pasti tau bahwa semua itu terjadi, tepat di depan matanya. Dan dia, Jenderal Bintang Lima Haji Muhammad Soeharto, sebagai seorang panglima tertinggi, yang mampu, pasti mampu, dan harus mampu untuk menghentikannya, diam saja dan membiarkan berjuta-juta nyawa bertumbangan dalam rentang waktu puluhan tahun!
Ia menggunakan Angkatan Bersenjata sebuah negeri, dibantu oleh organisasi-organisasi para-militer dan preman-preman di sekelilingnya - dengan penuh kesadaran, secara terencana dan sistematis - ia merampok, memenjarakan, mengasingkan, menindas, memperbudak, memperkosa, dan membunuhi rakyat sipil yang mana adalah rakyatnya anak-anaknya sendiri!!
***
Jelas ada perbedaan yang sangat mendasar pada pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Soeharto. Jelas apa yang ia lakukan tidak dapat diterima sebagai sekadar "kesalahan" belaka yang sewajarnya dilakukan oleh manusia.
Karena jika demikian cara berpikirnya, maka kita juga mesti berhenti meletakkan Hitler dan Pol Pot pada panggung pesakitan dunia, melabelinya "hanya manusia biasa" dan memaafkan segala "kesalahannya"!
Lantas bebaskan para pembunuh dari penjara, batalkan hukuman mati mereka, dan rehabilitasi nama baik mereka - termasuk Amrozi, Iwan Samudra dan para peledak bom lainnya!
Juga jangan pernah lagi berkata-kata tentang kekejaman kolonialisme Belanda atau Jepang, jangan bicara lagi tentang kekejaman Israel terhadap Palestina, dan tutup bacotmu soal kebiadaban Amerika Serikat di Vietnam, Kuba, Afghanistan, Irak, dan lain-lain!
Karena berdasarkan logikamu yang sungguh arif bijaksana, semua pelaku-pelaku kekejaman itu pada dasarnya memang manusia biasa yang sepatutnya melakukan kesalahan, dan sebesar apapun kesalahan mereka, sebiadab apapun mereka, dalam nama Bapak Pembangunan mantan presiden Soeharto yang tercinta, mesti dimaafkan dan tidak boleh diungkap-ungkap.
Dan jadilah bangsa ini sebuah bangsa yang yang munafik!
Hipokrit.
Nista.
Terkutuk dan menjijikan!!
***
Setelah segala apa yang dilakukan oleh Soeharto, seharusnya ia bukan mendapatkan penghormatan militer pada pemakamannya, seharusnya bukan tujuh hari berkabung baginya, bukan pula usulan-usulan MAHA-BANGSAT untuk menjadikannya pahlawan nasional yang muncul.
Seharusnya yang muncul adalah sepotong label:
"penjahat kemanusiaan".
http://en.wikipedia.org/wiki/Crime_against_humanity
http://en.wikipedia.org/wiki/Mass_murder
http://en.wikipedia.org/wiki/Command_responsibility
http://en.wikipedia.org/wiki/Genocide
Berkabung Nasional
28 Januari 2008 15:06:47
PROLOG
Tujuh hari berkabung untuk wafatnya mantan presiden Soeharto, presiden kedua republik ini. Demikian pemerintah mengumumkan. Diinstruksikan juga untuk mengibarkan bendera setengah tiang untuk menyatakan rasa berkabung, memberi penghormatan terakhir untuk kepergian mantan penguasa Orde Baru, sang Bapak Pembangunan, Jenderal Bintang Lima, the Smiling General, Haji Muhammad Soeharto.
1
Sejak dari sebelum kematiannya, ada banyak, banyak sekali pihak, para tokoh-tokoh masyarakat dan para pejabat-pejabat yang terhormat, yang meminta masyarakat untuk memaafkan Soeharto, meminta pemerintah untuk memberikan pengampunan untuknya, apapun bentuknya.
Dari yang jelas memang kacung setianya semacam Wiranto dan Moerdiono, orang-orang yang pernah mendapatkan kenyamanan darinya semacam Muladi, pejabat-pejabat yang entah bagaimana tetap setia kepada majikan dan dewanya itu semacam wakil ketua MPR A. M. Fatwa, tokoh keagaamaan seperti ketua MUI Ma'ruf Amin, tokoh politik Amien Rais, hingga artis-artis "figur publik" dan tokoh-tokoh lainnya.
Dan ya! Memang sebagian masyarakat pun memaafkannya dengan ikhlas, diikuti dengan ungkapan-ungkapan dan kutipan-kutipan religius nan alim berbahasa Arab, masyarakat memaafkan segala dosa-dosa mantan presiden Soeharto.
Lebih dari itu, sebagian masyarakat malah meminta maaf kepadanya, kepada almarhum Soeharto yang mereka cintai. Mereka meminta maaf atas nama masyarakat Indonesia yang hingga akhir hayatnya tak mampu memaafkannya, yang tetap menghujat-hujatnya, yang tidak dapat melupakan keburukannya, dan tidak sudi mengingat segala jasa-jasanya. Mereka meminta maaf kepada Almarhum Bapak Pembangunan Soeharto.
Memang ternyata masyarakat masih mencintainya. Banyak warga yang berusaha melayat ke kediamannya di jalan Cendana, banyak warga yang langsung berangkat ke Solo untuk mengiringi pemakamannya, suasana sendu berputar-putar di televisi, dan ya, memang bendera setengah tiang terlihat di banyak tempat.
2
Bersama istrinya, seorang pedagang bubur ayam gerobakan melihat di televisi aksi Tramtib menertibkan pedagang-pedagang kaki lima di jalan Diponegoro, Salemba; memukul dan menendang-nendang pedagang yang berusaha memunguti dagangannya. Ia menangis, ia geram, "lihat tuh Bu, lihat tuh! Jahat sekali mereka. Pedagang ditendang-tendang!" Tiga minggu sebelumnya gerobaknya sendiri digaruk Tramtib karena berdagang pada tempat yang tidak semestinya. Ia membuat gerobak yang baru, tetapi tetap ketakutan, sangat-sangat ketakutan. "Bagaimana ya Bu kalau nanti dagangan kita diambil lagi," pagi harinya ia telah ditemukan mati gantung diri.
Gadis kecil berumur tiga tahun mati karena sakit muntaber. Satu kali dibawa ke puskesmas, setelah itu ayahnya tidak mampu lagi membayar empat ribu rupiah sebagai biayanya. Duda beranak dua itu memang hanya seorang pemulung botol plastik dan kardus bekas di Jakarta Pusat. Jangankan pemakaman, ia bahkan tak mampu membeli kain kafan. Sambil menuntun anak laki-lakinya yang berusia enam tahun, ia gendong mayat sang gadis dalam sarung kemerahan ke stasiun Tebet, demi harapan bantuan pemakaman yang layak dari kaumnya di Kampung Kramat, Bogor. Ketika ada yang bertanya mengenai anaknya, “saya jawab anak saya sudah mati dan akan dibawa ke Bogor.” Hasilnya, empat jam ia diinterogasi di Polsek Tebet setelah digelandang seperti pesakitan. Tanpa bantuan apapun dari Polsek maupun RSCM tempat di mana tadinya akan dilakukan otopsi, ia gendong lagi mayat gadis kecilnya untuk akhirnya mendapat bantuan dari sesama kaum melarat.
Seorang pencopet tertangkap polisi. "Saya punya dua anak, yang satu meninggal. Yang satunya lagi minum susunya kuat. Saya tidak punya uang untuk beli susu." Lelaki lulusan SMP ini sebenarnya dulu pedagang kaki lima, berjualan pakaian di pinggiran Pasar Baru, sebelumnya juga pernah menjadi pedagang kain keliling, di kampung-kampung dan di kota. Tetapi berkali-kali pula dagangannya digusur Tramtib. "Apa gunanya saya tutup-tutupi. Saya memang salah karena nyopet, tetapi saya lakukan itu karena enggak ada pilihan. Anak saya perlu susu, istri perlu makan, sedangkan jualan saya digusur terus."
Bidik dan sorot kamera menerangi ruangan. Buruh bangunan berusia muda yang berusaha menjambret itu tertangkap pada percobaan pertamanya. Menjadi bulan-bulanan belasan orang, bibir, mata, dan sekujur badannya luka-lebam. Setelah itu diseret ke kantor polisi, diinterogasi dan kembali menjadi bulan-bulanan, untuk selanjutnya masuk ke dalam sel. Ia menjambret demi biaya aborsi sang kekasih yang hamil.
DPRD DKI Jakarta membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) yang berisi larangan memberi uang kepada pengemis dan membeli dari pedagang asongan. Denda seratus ribu hingga dua puluh juta rupiah, atau kurungan sepuluh hari hingga enam puluh hari bagi yang melanggarnya.
3
Kekuasaan Soeharto merentang sepanjang tiga puluh dua tahun. Sepanjang ia berkuasa (sebagian pihak mengatakan bahkan sejak sebelum kekuasaannya), ia adalah pelaku korupsi. Bersama anak-anaknya, cucu-cucunya, keluarganya, bawahannya, pejabat-pejabatnya, sohib-sohibnya, sobat-sobatnya, teman-temannya, kenalan-kenalannya, dan tidak lupa: istrinya.
Yayasan ini dan itu, dana ini dan itu, perusahaan ini dan itu, perkebunan ini dan itu, pertambangan ini dan itu, proyek ini dan itu, penyelundupan ini dan itu, monopoli ini dan itu, perdagangan ini dan itu, mark up ini dan itu, impor ini dan itu, penebangan hutan yang ini dan yang itu, juga reboisasi yang ini dan yang itu; semuanya mesti ditilep, semuanya tidak boleh utuh, tidak ada yang jujur, pasti dikorup, tidak mungkin tidak, sudah niscaya, puji tuhan: ALHAMDULILAH!
Soeharto, sang penguasa Orde Baru itu, bertakhta pada tahun 1966 setelah kejatuhan presiden pertama republik ini, Sukarno. Untuk biaya pendirian Orde Barunya itu dikorbankan sekitar lima ratus ribu hingga dua juta jiwa manusia, yang dibantai tanpa pengadilan, dengan kesalahan utama adalah karena "diduga komunis". Tanpa pengadilan, baru "diduga", dan "diduga komunis"! Beberapa juta lainnya mengalami berbagai macam perlakuan; diperkosa, disekap, dibuang, disiksa, dijadikan pekerja paksa, dan (lagi-lagi) dibantai di berbagai tempat, terutama di pulau Buru. Cerita-cerita seputar penyiksaan para jenderal, tarian Gerwani, dan berbagai macam KEBOHONGAN lainnya disebarkan melalui koran Angkatan Bersenjata. Diskriminasi terhadap keluarga-keluarga korban, secara resmi dan tak resmi berlangsung jauh setelah ia sendiri turun takhta pada 1998.
Biaya lainnya yang sama-sama tak terbayarkan adalah penghancuran penghentian revolusi ketika ia belum lagi selesai, pembunuhan terhadap karakter, jati diri, dan semangat bangsa yang sedang tumbuh. Ratusan juta jiwa yang baru mulai dapat duduk tegak dan belajar berbangga itu dijadikan kembali bermental tempe dan kacung dan budak, menyeretnya kembali ke dalam kolonialisme, yang mesti termanggut-manggut membungkuk di hadapan kekuatan-kekuatan modal asing.
Maka perlahan-lahan ia jual segalanya kepada kekuatan modal-modal asing tersebut. Gas bumi di Aceh, emas di Papua dan di Sulawesi, juga perkebunan di mana-mana, minyak bumi di sini dan di situ, bahkan rakyatnya sendiri ia jual sebagai buruh-buruh murah demi memasok kebutuhan industri, atau dijual sebagai TKI ke luar negeri supaya pulang setelah diperkosa atau bahkan tinggal menjadi mayat. Rakyat, bumi bangsa ini, yang disebut-sebut sebagai "Ibu Pertiwi"; melalui kekuatan militernya ia paksa sang Ibu Pertiwi mengangkang lebar-lebar supaya dapat diperkosa habis-habisan oleh kekuatan modal. Hasilnya sebagian besar kembali kepada pemodal, sebagian kecil kepada pemerintah Jakarta (yang tidak lupa dikorupsi terlebih dahulu), dan secuil kecil untuk daerah asalnya.
Dan jika ada pemberontakan, atau sekadar kata tidak suka dari daerah asal tersebut, bedil yang akan berkata-kata. Darah berceceran nyawa melayang, di Aceh puluhan ribu orang mati, di Papua ribuan orang mati, diikuti pemerkosaan, penyiksaan, kebohongan-kebohongan yang disebar. Kebudayaan dirusak dan alam dihancurkan.
Memang tidak boleh ada yang mengkritik, tidak boleh tidak senang, tidak boleh protes, apalagi terdengar separatis. Aceh dihajar sepuluh tahun, dan Papua dua puluh tahun karena berujar "merdeka". Di Timor Timur sepertiga penduduknya, ratusan ribu jiwa, melayang dikuras bersih.
Setiap konflik kemudian dijawab dengan bedil. Perebutan tanah, penggusuran, pembangunan ini dan itu, keagamaan, semuanya menjadi mudah: Dalam nama Soeharto yang berkuasa atas setiap bedil yang dipegang oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; sawah-sawah disikat, ladang diduduki, tanah diserobot, yang protes dihabisi, yang membela didor, yang mengabarkan diteror.
Penggusuran-penggusuran membahana; Ciuleunyi Bandung, Raci Pasuruan, Grati Pasuruan, Nyamil Blitar, Kunir Lumajang, Pungguk Blitar, Kunir Lumajang, Pungguk Blitar, Nyinyir Blitar, Sunggal Medan, Tanjung Bulan Sumatera Selatan, Martoba Pematang Siantar, Percut Deli Serdang, Tuntungan Sumatera Utara, Kedung Ombo Jawa Tengah, Pulau Bintan, Agra Binta Cianjur Selatan.
Kematian-kematian merajalela; Petrus, Tanjung Priuk, Makassar, Lampung, Riau, Waduk Nipah, 27 Juli, Marsinah, Udin Bernas, Wiji Thukul, hingga akhirnya penembakan mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998.
Semuanya sah-sah saja, semuanya boleh-boleh saja, apapun itu, berapapun biayanya: Demi Tegaknya UUD 1945 dan Pancasila yang Lurus dan Konsekuen, demi Pembangunan Nasional, demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa, demi Tetap Utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, demi Keamanan dan Ketertiban, demi Kestabilan Ekonomi, demi BERDIRI DAN TETAP BERDIRINYA REJIM HAJI MUHAMMAD SOEHARTO!
Tetapi akhirnya jatuh juga, setelah kekacauan besar melanda Indonesia, setelah nyawa mahasiswa melayang, setelah gedung MPR-DPR tempat kacung-kacung dan kawan-kawannya biasa mendekam dikuasai rakyat, ia mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.
4
Sepuluh tahun setelah kekuasaannya diakhiri, ia mati pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, setelah sakit dan terbujur kaku pada perbatasan antara hidup dan mati selama dua puluh empat hari.
Dan ia telah mati: Ketika belum satu kali pun ia masukki jeruji penjara untuk apa yang telah dilakukannya selama berkuasa, ketika ia belum sedikit pun menerima hukuman, ketika harta yang kini dikuasai oleh anak-cucu dan para kroni serta sohib dan sobat-sobatnya belum ada yang dikembalikan kepada rakyat, ketika segala apa yang dirampoknya belum dikembalikan, dan ketika belum ada satupun kejahatannya yang ia pertanggung jawabkan.
Bahkan! Bahkan hingga detik kematiannya tetap belum ada kejelasan resmi apakah ia bersalah atau tidak. Proses pengadilan belum pernah menunjukkan arah yang jelas dan cerah, di mata hukum nama Haji Muhammad Soeharto sang Jenderal Bintang Lima itu tetaplah sebatas "tersangka" yang, berdasarkan asas praduga tak bersalah, tetap saja tidak bersalah. Tidak pernah ada usaha resmi untuk mengungkap kejahatannya di luar urusan korupsi belaka.
Bahkan! Bahkan ia berhasil memenangkan perkara pencemaran nama baik melawan majalah Times!
Bahkan! Bahkan dua puluh empat hari menjelang kematiannya adalah hari-hari di mana ia mendapatkan perawatan yang mungkin adalah perawatan tercanggih yang bisa didapatkan di Indonesia, dengan biaya yang jika dituliskan dalam bentuk angka mungkin akan membuat bingung seorang anak SD! Dua puluh empat hari di mana puluhan dokter mencurahkan segala perhatian dan kemampuan terhadap satu orang tunggal!
Bahkan! Bahkan orang ini mendapatkan upacara militer dan pemakaman resmi kenegaraan!
Bahkan! Bahkan orang ini mendapatkan belasungkawa tujuh hari dari pemerintah!
***
Soeharto belum mempertanggungjawabkan kejahatannya,
belum ada penjelasan dan kejelasan resmi mengenai kasusnya,
belum ada usaha resmi untuk mengungkap "dugaan" kejahatannya yang lain.
Bukan saja hukum tidak mampu menyentuhnya dan dibuat kaku di hadapan senyumannya, bahkan hukum bermain mata dengannya, sementara pemerintah bertekuk lutut, dan sambil sesengukan datang melayat memohon ampun kepada mayat Jenderal Bintang Lima di balik kain putih itu.
Bandingkan apa yang dilakukan hukum dan negara ini kepada rakyat-rakyatnya yang lain!
Berjualan di pinggir jalan digusur!
Karena tidak sesuai dengan perda dan ini dan itu,
karena melawan hukum, karena melanggar undang-undang!
Dan pencopet-penjambret picisan yang mencopet dan menjambret karena kemiskinan ditangkapi!
Dan menggendong mayat gadis kecil karena kemelaratan digelandang seperti penjahat besar!!
Dan kemudian bahkan mereka, para penguasa-penguasa yang terhormat, berpikir untuk membuat peraturan yang melarang memberi uang kepada pengemis dan membeli dari pedagang asongan!
Maka adalah bacot omong kosong murahan bau tengik jika ada yang mengatakan bahwa hukum di negara ini tidak pandang bulu dan netral.
PENJAHAT KEMANUSIAAN ITU!
Diktator militer,
penguasa otoriter,
pembantai jutaan nyawa,
penyengsara jutaan jiwa,
sang tiran!
Ia mati dengan tenang! Setelah dilayani bagai raja, tanpa sedikitpun menyicipi penjara, TANPA pertanggungjawaban apapun atas perbuatan-perbuatannya! Apapun! Tidak satupun!
Hukum di negeri ini mandul!
Pemerintahnya cabul!
Mereka hanya mampu dan mau mengurusi pedagang kaki lima, pencopet, penjambret, dan bapak yang menggendong mayat anaknya!
Dan mereka, dengan tanpa malu-malu dan tanpa ditutup-tutupi baru saja memperlihatkan sebuah pertunjukkan paling memuakkan kepada seisi dunia!
Dan mereka, menyatakan berkabung selama tujuh hari untuk seorang penjahat kemanusiaan!!
Maka mereka, baru saja mempertunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.
EPILOG
Aku menolak untuk berkabung, aku tidak sudi menyediakan belasungkawa untuknya dan keluarganya. Sedikitpun tidak.
Aku mengutuk hukum dan penguasa negara ini yang secara luar biasa vulgar telah memperlakukan rakyatnya secara sangat-sangat-sangat tidak adil.
Aku akan mengingatkan, lagi dan lagi, untuk tidak lupa pada sejarah, untuk sadar dan selalu ingat: Tangan Soeharto sang Bapak Pembangunan itu berlumuran darah berjuta-juta rakyat negeri ini!
PROLOG
Tujuh hari berkabung untuk wafatnya mantan presiden Soeharto, presiden kedua republik ini. Demikian pemerintah mengumumkan. Diinstruksikan juga untuk mengibarkan bendera setengah tiang untuk menyatakan rasa berkabung, memberi penghormatan terakhir untuk kepergian mantan penguasa Orde Baru, sang Bapak Pembangunan, Jenderal Bintang Lima, the Smiling General, Haji Muhammad Soeharto.
1
Sejak dari sebelum kematiannya, ada banyak, banyak sekali pihak, para tokoh-tokoh masyarakat dan para pejabat-pejabat yang terhormat, yang meminta masyarakat untuk memaafkan Soeharto, meminta pemerintah untuk memberikan pengampunan untuknya, apapun bentuknya.
Dari yang jelas memang kacung setianya semacam Wiranto dan Moerdiono, orang-orang yang pernah mendapatkan kenyamanan darinya semacam Muladi, pejabat-pejabat yang entah bagaimana tetap setia kepada majikan dan dewanya itu semacam wakil ketua MPR A. M. Fatwa, tokoh keagaamaan seperti ketua MUI Ma'ruf Amin, tokoh politik Amien Rais, hingga artis-artis "figur publik" dan tokoh-tokoh lainnya.
Dan ya! Memang sebagian masyarakat pun memaafkannya dengan ikhlas, diikuti dengan ungkapan-ungkapan dan kutipan-kutipan religius nan alim berbahasa Arab, masyarakat memaafkan segala dosa-dosa mantan presiden Soeharto.
Lebih dari itu, sebagian masyarakat malah meminta maaf kepadanya, kepada almarhum Soeharto yang mereka cintai. Mereka meminta maaf atas nama masyarakat Indonesia yang hingga akhir hayatnya tak mampu memaafkannya, yang tetap menghujat-hujatnya, yang tidak dapat melupakan keburukannya, dan tidak sudi mengingat segala jasa-jasanya. Mereka meminta maaf kepada Almarhum Bapak Pembangunan Soeharto.
Memang ternyata masyarakat masih mencintainya. Banyak warga yang berusaha melayat ke kediamannya di jalan Cendana, banyak warga yang langsung berangkat ke Solo untuk mengiringi pemakamannya, suasana sendu berputar-putar di televisi, dan ya, memang bendera setengah tiang terlihat di banyak tempat.
2
Bersama istrinya, seorang pedagang bubur ayam gerobakan melihat di televisi aksi Tramtib menertibkan pedagang-pedagang kaki lima di jalan Diponegoro, Salemba; memukul dan menendang-nendang pedagang yang berusaha memunguti dagangannya. Ia menangis, ia geram, "lihat tuh Bu, lihat tuh! Jahat sekali mereka. Pedagang ditendang-tendang!" Tiga minggu sebelumnya gerobaknya sendiri digaruk Tramtib karena berdagang pada tempat yang tidak semestinya. Ia membuat gerobak yang baru, tetapi tetap ketakutan, sangat-sangat ketakutan. "Bagaimana ya Bu kalau nanti dagangan kita diambil lagi," pagi harinya ia telah ditemukan mati gantung diri.
Gadis kecil berumur tiga tahun mati karena sakit muntaber. Satu kali dibawa ke puskesmas, setelah itu ayahnya tidak mampu lagi membayar empat ribu rupiah sebagai biayanya. Duda beranak dua itu memang hanya seorang pemulung botol plastik dan kardus bekas di Jakarta Pusat. Jangankan pemakaman, ia bahkan tak mampu membeli kain kafan. Sambil menuntun anak laki-lakinya yang berusia enam tahun, ia gendong mayat sang gadis dalam sarung kemerahan ke stasiun Tebet, demi harapan bantuan pemakaman yang layak dari kaumnya di Kampung Kramat, Bogor. Ketika ada yang bertanya mengenai anaknya, “saya jawab anak saya sudah mati dan akan dibawa ke Bogor.” Hasilnya, empat jam ia diinterogasi di Polsek Tebet setelah digelandang seperti pesakitan. Tanpa bantuan apapun dari Polsek maupun RSCM tempat di mana tadinya akan dilakukan otopsi, ia gendong lagi mayat gadis kecilnya untuk akhirnya mendapat bantuan dari sesama kaum melarat.
Seorang pencopet tertangkap polisi. "Saya punya dua anak, yang satu meninggal. Yang satunya lagi minum susunya kuat. Saya tidak punya uang untuk beli susu." Lelaki lulusan SMP ini sebenarnya dulu pedagang kaki lima, berjualan pakaian di pinggiran Pasar Baru, sebelumnya juga pernah menjadi pedagang kain keliling, di kampung-kampung dan di kota. Tetapi berkali-kali pula dagangannya digusur Tramtib. "Apa gunanya saya tutup-tutupi. Saya memang salah karena nyopet, tetapi saya lakukan itu karena enggak ada pilihan. Anak saya perlu susu, istri perlu makan, sedangkan jualan saya digusur terus."
Bidik dan sorot kamera menerangi ruangan. Buruh bangunan berusia muda yang berusaha menjambret itu tertangkap pada percobaan pertamanya. Menjadi bulan-bulanan belasan orang, bibir, mata, dan sekujur badannya luka-lebam. Setelah itu diseret ke kantor polisi, diinterogasi dan kembali menjadi bulan-bulanan, untuk selanjutnya masuk ke dalam sel. Ia menjambret demi biaya aborsi sang kekasih yang hamil.
DPRD DKI Jakarta membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) yang berisi larangan memberi uang kepada pengemis dan membeli dari pedagang asongan. Denda seratus ribu hingga dua puluh juta rupiah, atau kurungan sepuluh hari hingga enam puluh hari bagi yang melanggarnya.
3
Kekuasaan Soeharto merentang sepanjang tiga puluh dua tahun. Sepanjang ia berkuasa (sebagian pihak mengatakan bahkan sejak sebelum kekuasaannya), ia adalah pelaku korupsi. Bersama anak-anaknya, cucu-cucunya, keluarganya, bawahannya, pejabat-pejabatnya, sohib-sohibnya, sobat-sobatnya, teman-temannya, kenalan-kenalannya, dan tidak lupa: istrinya.
Yayasan ini dan itu, dana ini dan itu, perusahaan ini dan itu, perkebunan ini dan itu, pertambangan ini dan itu, proyek ini dan itu, penyelundupan ini dan itu, monopoli ini dan itu, perdagangan ini dan itu, mark up ini dan itu, impor ini dan itu, penebangan hutan yang ini dan yang itu, juga reboisasi yang ini dan yang itu; semuanya mesti ditilep, semuanya tidak boleh utuh, tidak ada yang jujur, pasti dikorup, tidak mungkin tidak, sudah niscaya, puji tuhan: ALHAMDULILAH!
Soeharto, sang penguasa Orde Baru itu, bertakhta pada tahun 1966 setelah kejatuhan presiden pertama republik ini, Sukarno. Untuk biaya pendirian Orde Barunya itu dikorbankan sekitar lima ratus ribu hingga dua juta jiwa manusia, yang dibantai tanpa pengadilan, dengan kesalahan utama adalah karena "diduga komunis". Tanpa pengadilan, baru "diduga", dan "diduga komunis"! Beberapa juta lainnya mengalami berbagai macam perlakuan; diperkosa, disekap, dibuang, disiksa, dijadikan pekerja paksa, dan (lagi-lagi) dibantai di berbagai tempat, terutama di pulau Buru. Cerita-cerita seputar penyiksaan para jenderal, tarian Gerwani, dan berbagai macam KEBOHONGAN lainnya disebarkan melalui koran Angkatan Bersenjata. Diskriminasi terhadap keluarga-keluarga korban, secara resmi dan tak resmi berlangsung jauh setelah ia sendiri turun takhta pada 1998.
Biaya lainnya yang sama-sama tak terbayarkan adalah penghancuran penghentian revolusi ketika ia belum lagi selesai, pembunuhan terhadap karakter, jati diri, dan semangat bangsa yang sedang tumbuh. Ratusan juta jiwa yang baru mulai dapat duduk tegak dan belajar berbangga itu dijadikan kembali bermental tempe dan kacung dan budak, menyeretnya kembali ke dalam kolonialisme, yang mesti termanggut-manggut membungkuk di hadapan kekuatan-kekuatan modal asing.
Maka perlahan-lahan ia jual segalanya kepada kekuatan modal-modal asing tersebut. Gas bumi di Aceh, emas di Papua dan di Sulawesi, juga perkebunan di mana-mana, minyak bumi di sini dan di situ, bahkan rakyatnya sendiri ia jual sebagai buruh-buruh murah demi memasok kebutuhan industri, atau dijual sebagai TKI ke luar negeri supaya pulang setelah diperkosa atau bahkan tinggal menjadi mayat. Rakyat, bumi bangsa ini, yang disebut-sebut sebagai "Ibu Pertiwi"; melalui kekuatan militernya ia paksa sang Ibu Pertiwi mengangkang lebar-lebar supaya dapat diperkosa habis-habisan oleh kekuatan modal. Hasilnya sebagian besar kembali kepada pemodal, sebagian kecil kepada pemerintah Jakarta (yang tidak lupa dikorupsi terlebih dahulu), dan secuil kecil untuk daerah asalnya.
Dan jika ada pemberontakan, atau sekadar kata tidak suka dari daerah asal tersebut, bedil yang akan berkata-kata. Darah berceceran nyawa melayang, di Aceh puluhan ribu orang mati, di Papua ribuan orang mati, diikuti pemerkosaan, penyiksaan, kebohongan-kebohongan yang disebar. Kebudayaan dirusak dan alam dihancurkan.
Memang tidak boleh ada yang mengkritik, tidak boleh tidak senang, tidak boleh protes, apalagi terdengar separatis. Aceh dihajar sepuluh tahun, dan Papua dua puluh tahun karena berujar "merdeka". Di Timor Timur sepertiga penduduknya, ratusan ribu jiwa, melayang dikuras bersih.
Setiap konflik kemudian dijawab dengan bedil. Perebutan tanah, penggusuran, pembangunan ini dan itu, keagamaan, semuanya menjadi mudah: Dalam nama Soeharto yang berkuasa atas setiap bedil yang dipegang oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; sawah-sawah disikat, ladang diduduki, tanah diserobot, yang protes dihabisi, yang membela didor, yang mengabarkan diteror.
Penggusuran-penggusuran membahana; Ciuleunyi Bandung, Raci Pasuruan, Grati Pasuruan, Nyamil Blitar, Kunir Lumajang, Pungguk Blitar, Kunir Lumajang, Pungguk Blitar, Nyinyir Blitar, Sunggal Medan, Tanjung Bulan Sumatera Selatan, Martoba Pematang Siantar, Percut Deli Serdang, Tuntungan Sumatera Utara, Kedung Ombo Jawa Tengah, Pulau Bintan, Agra Binta Cianjur Selatan.
Kematian-kematian merajalela; Petrus, Tanjung Priuk, Makassar, Lampung, Riau, Waduk Nipah, 27 Juli, Marsinah, Udin Bernas, Wiji Thukul, hingga akhirnya penembakan mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998.
Semuanya sah-sah saja, semuanya boleh-boleh saja, apapun itu, berapapun biayanya: Demi Tegaknya UUD 1945 dan Pancasila yang Lurus dan Konsekuen, demi Pembangunan Nasional, demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa, demi Tetap Utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, demi Keamanan dan Ketertiban, demi Kestabilan Ekonomi, demi BERDIRI DAN TETAP BERDIRINYA REJIM HAJI MUHAMMAD SOEHARTO!
Tetapi akhirnya jatuh juga, setelah kekacauan besar melanda Indonesia, setelah nyawa mahasiswa melayang, setelah gedung MPR-DPR tempat kacung-kacung dan kawan-kawannya biasa mendekam dikuasai rakyat, ia mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.
4
Sepuluh tahun setelah kekuasaannya diakhiri, ia mati pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, setelah sakit dan terbujur kaku pada perbatasan antara hidup dan mati selama dua puluh empat hari.
Dan ia telah mati: Ketika belum satu kali pun ia masukki jeruji penjara untuk apa yang telah dilakukannya selama berkuasa, ketika ia belum sedikit pun menerima hukuman, ketika harta yang kini dikuasai oleh anak-cucu dan para kroni serta sohib dan sobat-sobatnya belum ada yang dikembalikan kepada rakyat, ketika segala apa yang dirampoknya belum dikembalikan, dan ketika belum ada satupun kejahatannya yang ia pertanggung jawabkan.
Bahkan! Bahkan hingga detik kematiannya tetap belum ada kejelasan resmi apakah ia bersalah atau tidak. Proses pengadilan belum pernah menunjukkan arah yang jelas dan cerah, di mata hukum nama Haji Muhammad Soeharto sang Jenderal Bintang Lima itu tetaplah sebatas "tersangka" yang, berdasarkan asas praduga tak bersalah, tetap saja tidak bersalah. Tidak pernah ada usaha resmi untuk mengungkap kejahatannya di luar urusan korupsi belaka.
Bahkan! Bahkan ia berhasil memenangkan perkara pencemaran nama baik melawan majalah Times!
Bahkan! Bahkan dua puluh empat hari menjelang kematiannya adalah hari-hari di mana ia mendapatkan perawatan yang mungkin adalah perawatan tercanggih yang bisa didapatkan di Indonesia, dengan biaya yang jika dituliskan dalam bentuk angka mungkin akan membuat bingung seorang anak SD! Dua puluh empat hari di mana puluhan dokter mencurahkan segala perhatian dan kemampuan terhadap satu orang tunggal!
Bahkan! Bahkan orang ini mendapatkan upacara militer dan pemakaman resmi kenegaraan!
Bahkan! Bahkan orang ini mendapatkan belasungkawa tujuh hari dari pemerintah!
***
Soeharto belum mempertanggungjawabkan kejahatannya,
belum ada penjelasan dan kejelasan resmi mengenai kasusnya,
belum ada usaha resmi untuk mengungkap "dugaan" kejahatannya yang lain.
Bukan saja hukum tidak mampu menyentuhnya dan dibuat kaku di hadapan senyumannya, bahkan hukum bermain mata dengannya, sementara pemerintah bertekuk lutut, dan sambil sesengukan datang melayat memohon ampun kepada mayat Jenderal Bintang Lima di balik kain putih itu.
Bandingkan apa yang dilakukan hukum dan negara ini kepada rakyat-rakyatnya yang lain!
Berjualan di pinggir jalan digusur!
Karena tidak sesuai dengan perda dan ini dan itu,
karena melawan hukum, karena melanggar undang-undang!
Dan pencopet-penjambret picisan yang mencopet dan menjambret karena kemiskinan ditangkapi!
Dan menggendong mayat gadis kecil karena kemelaratan digelandang seperti penjahat besar!!
Dan kemudian bahkan mereka, para penguasa-penguasa yang terhormat, berpikir untuk membuat peraturan yang melarang memberi uang kepada pengemis dan membeli dari pedagang asongan!
Maka adalah bacot omong kosong murahan bau tengik jika ada yang mengatakan bahwa hukum di negara ini tidak pandang bulu dan netral.
PENJAHAT KEMANUSIAAN ITU!
Diktator militer,
penguasa otoriter,
pembantai jutaan nyawa,
penyengsara jutaan jiwa,
sang tiran!
Ia mati dengan tenang! Setelah dilayani bagai raja, tanpa sedikitpun menyicipi penjara, TANPA pertanggungjawaban apapun atas perbuatan-perbuatannya! Apapun! Tidak satupun!
Hukum di negeri ini mandul!
Pemerintahnya cabul!
Mereka hanya mampu dan mau mengurusi pedagang kaki lima, pencopet, penjambret, dan bapak yang menggendong mayat anaknya!
Dan mereka, dengan tanpa malu-malu dan tanpa ditutup-tutupi baru saja memperlihatkan sebuah pertunjukkan paling memuakkan kepada seisi dunia!
Dan mereka, menyatakan berkabung selama tujuh hari untuk seorang penjahat kemanusiaan!!
Maka mereka, baru saja mempertunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.
EPILOG
Aku menolak untuk berkabung, aku tidak sudi menyediakan belasungkawa untuknya dan keluarganya. Sedikitpun tidak.
Aku mengutuk hukum dan penguasa negara ini yang secara luar biasa vulgar telah memperlakukan rakyatnya secara sangat-sangat-sangat tidak adil.
Aku akan mengingatkan, lagi dan lagi, untuk tidak lupa pada sejarah, untuk sadar dan selalu ingat: Tangan Soeharto sang Bapak Pembangunan itu berlumuran darah berjuta-juta rakyat negeri ini!
Mari Kita Maafkan Soeharto
12 Januari 2008 02:10:30
Walaupun entah kali ini akan jadi mampus atau tidak, seiring mendekatnya hari kemodharan Jenderal Soeharto kian banyak suara-suara yang meminta dia dimaafkan saja. Ada yang meminta masyarakat memaafkan, ada yang meminta negara memaafkan, ada yang kedua-duanya, ada yang mendesak presiden sendiri untuk mengeluarkan amnesti bagi biangkerok yang tengah sekarat itu.
Katanya jasa-jasanya besar bagi Indonesia, seperti kata Muladi ketua Golkar dan mantan pejabat Orde Baru itu, Soeharto itu berjasa besar dalam perebutan Irian Barat dan penumpasan pemberontakan G 30SPKI. Dan kukira tentu akan ada banyak juga yang menyebutkan jasa-jasanya dalam pembangunan, seperti label yang ditempel di kantung pelir Jenderal satu itu: "Bapak Pembangunan".
Memang banyak yang bilang jasanya Soeharto itu sungguh besar untuk Indonesia, seperti juga A. M. Fatwa wakil ketua MPR itu. Jika Soeharto sempat sekali-dua-kali melakukan kesalahan, itu kan karena khilaf belaka: "Apapun kekhilafannya, beliau sebagai manusia dan pemimpin sangat besar jasa-jasanya."
Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui ketuanya Ma'ruf Amin mengatakan bahwa proses pengadilan bagi mantan presiden itu mesti dihentikan. Walaupun dia juga berpendapat bahwa proses hukum perdatanya tetap mesti dilanjutkan, dan setuju jika pemerintah melakukan penyitaan terhadap seluruh aset kekayaan milik Soeharto dan anak cucu serta sohib-sohibnya.
Lain lagi dengan orang-orang yang tiba-tiba ingin memaafkan Soeharto itu, ada juga orang yang sedari awalnya selalu membelanya dengan segenap kontol dan bedilnya, seperti Jenderal Wiranto misalnya. Sejak awalnya dia konsisten membela Jenderal Besar Bintang Lima (mantan) Presiden Bapak Pembangunan Penumpas G30SPKI Pembebas Timor Timur Penyelamat Bangsa Penjaga Kestabilan dan Persatuan serta Kesatuan yang Ganteng lagi Keren juga Cihuy Haji Muhammad Soeharto.
Lagipula, kita juga orang beragama yang percaya bahwa hukum dan pengadilan tertinggi kelak akan dilakukan nanti setelah mati. Lagipula kan wajar-wajar saja kalau seseorang dapat khilaf sewaktu-waktu, kita pun suka khilaf, siapa sih yang tidak suka dan hobi melakukan kekhilafan, kan khilaf itu asik.
Di atas itu semua, banyak yang bilang, kita ini kan orang timur yang santun, yang ramah, dan yang terpenting, orang timur itu pemaaf. Jadi kita lupakan saja kesalahannya, kita ingat jasa-jasa baiknya, mari maafkanlah Soeharto, mumpung dia belum mampus.
***
MAAFKAN GUNDULMU!!
Seandainyapun (seandainyapun!) telah dikembalikan semua hartanya sejak dari dirinya, hingga anak-cucu-cicitnya, telah dirampas semua harta kekayaan kroni-kroninya, mereka semua dibuat melarat selama delapan belas keturunan, telah dibeberkan segala apa yang pernah dia korupsi dan dia tilep dari negara dan rakyat, telah dibongkar segala rekening dan bukti pencurian yang dia dan sohib-sohibnya perbuat; seandainya itu semua telah dilakukan, maka tetap! Tetap masih ada urusan yang jauh dari selesai antara nilai-nilai kemanusiaan dengan manusia bangkotan yang sudah hampir mampus itu!
Bahwa Jenderal Soeharto itu korupsi dan mencuri dari negara dan rakyat, bahwa anak-anak serta hopeng-hopengnya pun ikut merampok di mana-mana, bahwa pencurian dan perampokan yang dilakukannya merugikan negara dan ratusan juta rakyat, bahwa nilai korupsinya mencapai jumlah angka yang tidak cukup lagi di layar kalkulator toko klontongan, adalah hanya salah satu permasalahan dibandingkan dengan urusan lain yang pada dasarnya jauh-jauh lebih penting dan sama sekali tidak boleh dilupakan.
Walaupun sayangnya justru permasalahan penting itulah yang pada umumnya secara sadar atau tak sadar telah dilupakan oleh kita, dan kita hanya ingat satu kata "korupsi" belaka. Yang mana dengan begitu Pak Harto akan sungguh senang luar biasa sumringah, menelan ludah dengan lega, bahkan mungkin langsung loncat bangkit dari ranjang kematiannya untuk segera joging pagi supaya sehat dan bugar kembali. Karena kita lupa hal lain yang telah dilakukannya selain "sekadar" korupsi.
Yaitu bahwa Jenderal Soeharto adalah seorang manusia dengan tangan yang berdarah-darah!
Jenderal Besar yang berdiri di atas genangan darah dan tumpukan mayat korban-korbannya, yang bau anyir dan busuknya masih mengawang-awang hingga malam ini di tiap pelosok negeri ini!
Dari Aceh, Riau, Lampung, Tanjung Priuk, Timor Timur, hingga Papua, dan di tempat-tempat lainnya darah berceceran di mana-mana, pembantaian demi pembantaian yang dilakukan dalam nama perampokkan, pembangunan, kestabilan ekonomi, serta persatuan dan kesatuan nasional.
Peluru-peluru ditembakkan ke arah rakyat dan saudara-saudaranya sendiri, yang dikerjakan oleh tentara kebanggaan bangsa - Tentara Nasional Indonesia, yang bertugas memegangi tangan dan kaki Ibu Pertiwi supaya dengan lancar dapat diperkosa secara bergilir oleh modal-modal asing.
Nyawa-nyawa tercerabut dari badannya, agar Exxon dan Freeport dapat datang dengan sambutan paling manis yang dapat diberikan, yang diikuti dengan kerusakan budaya lokal, kehancuran alam, dan sisanya tinggal air mata yang tak kunjung kering.
Hutan dibabat, perkebunan didirikan, perampokan diteruskan, pembantaian yang kembali menjadi penyelesaian, peluru selalu menjadi jalan keluar yang paling cepat dan tok cer. Tanah mereka dirampok, petani-petani dibunuh, agar mayat-mayatnya menyuburkan perkebunan kelapa sawit.
Dan siapapun yang melawan ikut terbantai. Preman-preman adalah jawaban untuk protes buruh, penculikan berikutnya, tidak lupa penyiksaan, dan Marsinah telah mati secara mengenaskan. Mahasiswa ditembaki karena kebanyakan bicara, aktivis-aktivis menghilang menjadi arwah gentayangan, dan Wiji Thukul tak pernah terdengar lagi kabarnya.
Ketika keadaan menjadi kalut dan perlu dilakukan tindakan pencegahan secara kilat, kambing hitam paling sempurna dihadirkan dalam wujud orang-orang etnis Cina. Penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan dalam nama tetap berkuasanya sang Jenderal.
Bahkan lima ratus ribu hingga dua juta nyawa yang dituduh komunis telah dibantai pada awal kekuasaannya! Pembantaian itu dilakukan setelah penyiksaan demi penyiksaan, demi penyiksaan, demi penyiksaan. Pemerkosaan, pentungan, cambuk, listrik, bayonet, silet, penggantungan, penyekapan dalam ruang-ruang sesak, dan entah apa lagi yang telah dilakukan - hingga rumah-rumah tahanan yang digunakan untuk acara rutin ini kemudian dikenal sebagai tempat-tempat horor.
Berapa banyak anggota Gerwani yang disiksa, diperkosa, dan dilabeli cerita palsu penyiksaan para Jenderal Pahlawan Revolusi Kacung Imperialis. Ribuan orang mendekam di Pulau Buru hingga sebagian mampus di sana. Entah berapa banyak keturunannya yang sengsara hingga hari ini.
Semua itu terjadi sejak awal kekuasaannya, semua itu terjadi dalam lindungan dan sepengetahuannya, demi kekuasaannya yang merentang tiga puluh dua tahun, demi mimpi-mimpi pembangunannya, demi hartanya. Bahkan ratusan ribu nyawa dicabut atas perintah sang Jenderal, dalam nama pemulihan keamanan dan ketertiban nasional.
Dan jangan lupakan bahwa Jenderal ini juga yang telah membunuh proses kelahiran sebuah bangsa, mematikan api revolusi yang tengah mulai menyala, menghentikan pertumbuhan karakter dan jati diri, mengembalikannya menjadi bermental kacung dan budak, membuatnya kembali bermental tempe, diinjak-injak modal dan kekuasaan imperialis asing, menyeretnya kembali ke zaman kolonial.
***
Pak Harto memang sekarang ini tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang yang mungkin saja adalah ranjang kematiannya. Selang-selang udara dan infus bergantungan, kepalanya sudah mulai botak dan beruban, bibirnya lunglai, ia lemas tak berdaya. Ia tampak begitu tua.
Tetapi kejahatannya bukanlah hanya "korupsi" belaka. Jangan lupakan. Karena kejahatannya yang utama adalah kejahatan terhadap kemanusiaan! Karena Jenderal Soeharto adalah PENJAHAT KEMANUSIAAN!!
***
Darah
itu
merah,
Jenderal!
Walaupun entah kali ini akan jadi mampus atau tidak, seiring mendekatnya hari kemodharan Jenderal Soeharto kian banyak suara-suara yang meminta dia dimaafkan saja. Ada yang meminta masyarakat memaafkan, ada yang meminta negara memaafkan, ada yang kedua-duanya, ada yang mendesak presiden sendiri untuk mengeluarkan amnesti bagi biangkerok yang tengah sekarat itu.
Katanya jasa-jasanya besar bagi Indonesia, seperti kata Muladi ketua Golkar dan mantan pejabat Orde Baru itu, Soeharto itu berjasa besar dalam perebutan Irian Barat dan penumpasan pemberontakan G 30SPKI. Dan kukira tentu akan ada banyak juga yang menyebutkan jasa-jasanya dalam pembangunan, seperti label yang ditempel di kantung pelir Jenderal satu itu: "Bapak Pembangunan".
Memang banyak yang bilang jasanya Soeharto itu sungguh besar untuk Indonesia, seperti juga A. M. Fatwa wakil ketua MPR itu. Jika Soeharto sempat sekali-dua-kali melakukan kesalahan, itu kan karena khilaf belaka: "Apapun kekhilafannya, beliau sebagai manusia dan pemimpin sangat besar jasa-jasanya."
Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui ketuanya Ma'ruf Amin mengatakan bahwa proses pengadilan bagi mantan presiden itu mesti dihentikan. Walaupun dia juga berpendapat bahwa proses hukum perdatanya tetap mesti dilanjutkan, dan setuju jika pemerintah melakukan penyitaan terhadap seluruh aset kekayaan milik Soeharto dan anak cucu serta sohib-sohibnya.
Lain lagi dengan orang-orang yang tiba-tiba ingin memaafkan Soeharto itu, ada juga orang yang sedari awalnya selalu membelanya dengan segenap kontol dan bedilnya, seperti Jenderal Wiranto misalnya. Sejak awalnya dia konsisten membela Jenderal Besar Bintang Lima (mantan) Presiden Bapak Pembangunan Penumpas G30SPKI Pembebas Timor Timur Penyelamat Bangsa Penjaga Kestabilan dan Persatuan serta Kesatuan yang Ganteng lagi Keren juga Cihuy Haji Muhammad Soeharto.
Lagipula, kita juga orang beragama yang percaya bahwa hukum dan pengadilan tertinggi kelak akan dilakukan nanti setelah mati. Lagipula kan wajar-wajar saja kalau seseorang dapat khilaf sewaktu-waktu, kita pun suka khilaf, siapa sih yang tidak suka dan hobi melakukan kekhilafan, kan khilaf itu asik.
Di atas itu semua, banyak yang bilang, kita ini kan orang timur yang santun, yang ramah, dan yang terpenting, orang timur itu pemaaf. Jadi kita lupakan saja kesalahannya, kita ingat jasa-jasa baiknya, mari maafkanlah Soeharto, mumpung dia belum mampus.
***
MAAFKAN GUNDULMU!!
Seandainyapun (seandainyapun!) telah dikembalikan semua hartanya sejak dari dirinya, hingga anak-cucu-cicitnya, telah dirampas semua harta kekayaan kroni-kroninya, mereka semua dibuat melarat selama delapan belas keturunan, telah dibeberkan segala apa yang pernah dia korupsi dan dia tilep dari negara dan rakyat, telah dibongkar segala rekening dan bukti pencurian yang dia dan sohib-sohibnya perbuat; seandainya itu semua telah dilakukan, maka tetap! Tetap masih ada urusan yang jauh dari selesai antara nilai-nilai kemanusiaan dengan manusia bangkotan yang sudah hampir mampus itu!
Bahwa Jenderal Soeharto itu korupsi dan mencuri dari negara dan rakyat, bahwa anak-anak serta hopeng-hopengnya pun ikut merampok di mana-mana, bahwa pencurian dan perampokan yang dilakukannya merugikan negara dan ratusan juta rakyat, bahwa nilai korupsinya mencapai jumlah angka yang tidak cukup lagi di layar kalkulator toko klontongan, adalah hanya salah satu permasalahan dibandingkan dengan urusan lain yang pada dasarnya jauh-jauh lebih penting dan sama sekali tidak boleh dilupakan.
Walaupun sayangnya justru permasalahan penting itulah yang pada umumnya secara sadar atau tak sadar telah dilupakan oleh kita, dan kita hanya ingat satu kata "korupsi" belaka. Yang mana dengan begitu Pak Harto akan sungguh senang luar biasa sumringah, menelan ludah dengan lega, bahkan mungkin langsung loncat bangkit dari ranjang kematiannya untuk segera joging pagi supaya sehat dan bugar kembali. Karena kita lupa hal lain yang telah dilakukannya selain "sekadar" korupsi.
Yaitu bahwa Jenderal Soeharto adalah seorang manusia dengan tangan yang berdarah-darah!
Jenderal Besar yang berdiri di atas genangan darah dan tumpukan mayat korban-korbannya, yang bau anyir dan busuknya masih mengawang-awang hingga malam ini di tiap pelosok negeri ini!
Dari Aceh, Riau, Lampung, Tanjung Priuk, Timor Timur, hingga Papua, dan di tempat-tempat lainnya darah berceceran di mana-mana, pembantaian demi pembantaian yang dilakukan dalam nama perampokkan, pembangunan, kestabilan ekonomi, serta persatuan dan kesatuan nasional.
Peluru-peluru ditembakkan ke arah rakyat dan saudara-saudaranya sendiri, yang dikerjakan oleh tentara kebanggaan bangsa - Tentara Nasional Indonesia, yang bertugas memegangi tangan dan kaki Ibu Pertiwi supaya dengan lancar dapat diperkosa secara bergilir oleh modal-modal asing.
Nyawa-nyawa tercerabut dari badannya, agar Exxon dan Freeport dapat datang dengan sambutan paling manis yang dapat diberikan, yang diikuti dengan kerusakan budaya lokal, kehancuran alam, dan sisanya tinggal air mata yang tak kunjung kering.
Hutan dibabat, perkebunan didirikan, perampokan diteruskan, pembantaian yang kembali menjadi penyelesaian, peluru selalu menjadi jalan keluar yang paling cepat dan tok cer. Tanah mereka dirampok, petani-petani dibunuh, agar mayat-mayatnya menyuburkan perkebunan kelapa sawit.
Dan siapapun yang melawan ikut terbantai. Preman-preman adalah jawaban untuk protes buruh, penculikan berikutnya, tidak lupa penyiksaan, dan Marsinah telah mati secara mengenaskan. Mahasiswa ditembaki karena kebanyakan bicara, aktivis-aktivis menghilang menjadi arwah gentayangan, dan Wiji Thukul tak pernah terdengar lagi kabarnya.
Ketika keadaan menjadi kalut dan perlu dilakukan tindakan pencegahan secara kilat, kambing hitam paling sempurna dihadirkan dalam wujud orang-orang etnis Cina. Penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan dalam nama tetap berkuasanya sang Jenderal.
Bahkan lima ratus ribu hingga dua juta nyawa yang dituduh komunis telah dibantai pada awal kekuasaannya! Pembantaian itu dilakukan setelah penyiksaan demi penyiksaan, demi penyiksaan, demi penyiksaan. Pemerkosaan, pentungan, cambuk, listrik, bayonet, silet, penggantungan, penyekapan dalam ruang-ruang sesak, dan entah apa lagi yang telah dilakukan - hingga rumah-rumah tahanan yang digunakan untuk acara rutin ini kemudian dikenal sebagai tempat-tempat horor.
Berapa banyak anggota Gerwani yang disiksa, diperkosa, dan dilabeli cerita palsu penyiksaan para Jenderal Pahlawan Revolusi Kacung Imperialis. Ribuan orang mendekam di Pulau Buru hingga sebagian mampus di sana. Entah berapa banyak keturunannya yang sengsara hingga hari ini.
Semua itu terjadi sejak awal kekuasaannya, semua itu terjadi dalam lindungan dan sepengetahuannya, demi kekuasaannya yang merentang tiga puluh dua tahun, demi mimpi-mimpi pembangunannya, demi hartanya. Bahkan ratusan ribu nyawa dicabut atas perintah sang Jenderal, dalam nama pemulihan keamanan dan ketertiban nasional.
Dan jangan lupakan bahwa Jenderal ini juga yang telah membunuh proses kelahiran sebuah bangsa, mematikan api revolusi yang tengah mulai menyala, menghentikan pertumbuhan karakter dan jati diri, mengembalikannya menjadi bermental kacung dan budak, membuatnya kembali bermental tempe, diinjak-injak modal dan kekuasaan imperialis asing, menyeretnya kembali ke zaman kolonial.
***
Pak Harto memang sekarang ini tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang yang mungkin saja adalah ranjang kematiannya. Selang-selang udara dan infus bergantungan, kepalanya sudah mulai botak dan beruban, bibirnya lunglai, ia lemas tak berdaya. Ia tampak begitu tua.
Tetapi kejahatannya bukanlah hanya "korupsi" belaka. Jangan lupakan. Karena kejahatannya yang utama adalah kejahatan terhadap kemanusiaan! Karena Jenderal Soeharto adalah PENJAHAT KEMANUSIAAN!!
***
Darah
itu
merah,
Jenderal!
23 July 2012
Berita Kebenaran (serius!)
19 Desember 2004 9:47:13
Si setan kurap itu; sang taik anjing budug bajingan laknat keparat bangsat psikopat, jancuk terkutuk jahanam haram jadah, si babi biadab kejam keji yang najis menjijikan dan memuakkan, setan-setan penghuni lubang dubur iblis di dasar pelosok neraka paling busuk. Si setan kurap itu bernama 'komunisme'.
Komunisme adalah sumber dari segala sumber masalah di muka bumi. Komunisme itu kejam, keji, brutal, laknat, biadab, alias tak beradab. Liat aja film G/30-S/PKI! Betapa kejam-keji mereka si Partai Komunis Indonesia taik anjing itu. Betapa mereka bertingkah laku layaknya binatang buas tak berkeprikemanusiaan!
Jendral-jendral itu dibunuh sama PKI. Sukarno juga dikudeta sama PKI. Lantas Sesudah itu pembantaian di mana-mana juga karena PKI. Dari taun 1920, 1948, sampe 1965, PKI selalu jadi biang keladi di mana-mana, PKI selalu jadi sumber masalah dan jadi penjahat kemanusiaan.
Sekarang ini juga PKI mulai bangun lagi. Hati-hati! Bapak Soeharto dari dulu sudah mengingatkan tentang BAHAYA LATEN KOMUNIS. Ini sungguhan, ini berbahaya! Kita harus selalu waspada terhadap komunisme. Bau-bau komunisme mulai tercium lagi. Kita harus waspada, kita harus selalu siap untuk mengganyang komunisme.
Coba liat aja tanda-tandanya. Pemerintahan Indonesia susah jalan itu karena komunis, pemberontakan di mana-mana itu karena komunis, demonstrasi juga karena komunis, ekonomi susah bangkit pasti karena komunis.
Di tingkat dunia juga komunis harus diwaspadai. Komunis mulai menyusup di mana-mana. Anti Islam dan anti Arab itu karena komunis, Zionisme itu komunis, Israel itu komunis, Amerika juga komunis, perang-perang belakangan ini karena komunis mau memerangi agama. Pokoknya bahaya munculnya komunis mulai terasa, sungguh, saat ini kita harus siap-siap sekali lagi mengganyang komunis.
Perhatikan tetangga dan teman-teman, jangan lengah, hati-hati dan waspada. Perhatikan tingkah laku orang di rumah seberang atau kamar kos sebelah, termasuk tukang-tukang becak dan tukang ojek di pengkolan jalan. Jangan lupa juga sama orang-orang yang suka nongkrong-nongkrong, termasuk di Masjid, komunis suka menyamar dan menyusup ke mana-mana. Liat tingkah laku mereka, awasi, selalu awas dan jeli, berjaga sepanjang waktu. Hati-hati. Mungkin salah satu dari orang-orang itu, mungkin salah satu dari teman kita sendiri, atau malah keluarga kita adalah komunis!
Ini namanya tindakan prefentif, berjaga-jaga, mencegah - mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?! Mau tidak mau kita harus seperti ini. Karena komunis mengakar di mana-mana dan berbahaya. Lebih dari itu, komunis juga merusak apapun yang dijamahnya, kalau kita terlambat salah-salah bisa jadi korban komunis sekali lagi. Ganyang sebelum diganyang! Ingat, komunis itu bukan mahluk yang bisa dipercaya, sudah banyak sekali yang jadi korban dan dirusak sama komunis.
Panen gagal itu karena komunis, gempa bumi karena komunis, banjir karena komunis, WTC disruduk kapal terbang itu karena komunis, Pentagon juga, dan perang dunia I dan II juga karena komunis. Perang salib itu karena komunis, Munir dibunuh sama komunis, dan Pangeran Diponegoro juga begitu - dibunuh komunis. Yang ngejajah Indonesia itu Belanda komunis dan Jepang komunis, Hitler itu komunis, Mussolini juga komunis, preman-preman Tanah Abang dan Tanjung Priok itu komunis. Kapal terbang jatuh karena komunis, bom-bom di Jakarta dan Bali itu yang masang komunis, yang bikin binatang pada punah itu komunis, yang bikin laut Jawa jadi kotor itu komunis, yang nyebarin ajaran gereja setan itu komunis.
Menyeramkan sekali kan?! Komunis emang setan kurap biang segala masalah di muka bumi!!
Komunis itu yang bunuh Yesus, Fir'aun itu komunis, uler yang nawarin Adam dan Hawa buah terlarang itu komunis, komunis itu penyembah berhala (maka itu diperangi sama Muhammad), komunis juga yang ngebantai Cina-cina di Kali Angke, komunis yang jatuhin bom atom di atas Jepang, dan komunis yang memproduksi film-film porno. Komunis itu yang bikin tempat perjudian dan maksiat di Las Vegas, begitu juga dengan tempat pelacuran di Kali Jodo, komunis itu penyebab TKW diperkosain, komunis yang bikin politik Apartheid, komunis yang ngebantai penduduk kulit hitam di Amerika, komunis yang diskriminasi suku Aborigin di Australia, dan bahkan orang Mongol yang nyerang Islam dulu itu komunis. Suku-suku Indian kuno pada punah itu karena komunis. Perang Dayak-Madura karena komunis. Kerusuhan Mei 1998 karena komunis. Tragedi Tanjung Priok itu karena komunis. Islam Syiah dan Suni perang karena komunis, Klu Klux Klan itu antek komunis, teroris itu komunis, ubur-ubur beracun juga komunis.
Iklim dan musim jadi acak-acakan juga karena komunis. Malah kalo Godzilla beneran ada, itu juga pasti karena komunis!
Si setan kurap itu; sang taik anjing budug bajingan laknat keparat bangsat psikopat, jancuk terkutuk jahanam haram jadah, si babi biadab kejam keji yang najis menjijikan dan memuakkan, setan-setan penghuni lubang dubur iblis di dasar pelosok neraka paling busuk. Si setan kurap itu bernama 'komunisme'.
Komunisme adalah sumber dari segala sumber masalah di muka bumi. Komunisme itu kejam, keji, brutal, laknat, biadab, alias tak beradab. Liat aja film G/30-S/PKI! Betapa kejam-keji mereka si Partai Komunis Indonesia taik anjing itu. Betapa mereka bertingkah laku layaknya binatang buas tak berkeprikemanusiaan!
Jendral-jendral itu dibunuh sama PKI. Sukarno juga dikudeta sama PKI. Lantas Sesudah itu pembantaian di mana-mana juga karena PKI. Dari taun 1920, 1948, sampe 1965, PKI selalu jadi biang keladi di mana-mana, PKI selalu jadi sumber masalah dan jadi penjahat kemanusiaan.
Sekarang ini juga PKI mulai bangun lagi. Hati-hati! Bapak Soeharto dari dulu sudah mengingatkan tentang BAHAYA LATEN KOMUNIS. Ini sungguhan, ini berbahaya! Kita harus selalu waspada terhadap komunisme. Bau-bau komunisme mulai tercium lagi. Kita harus waspada, kita harus selalu siap untuk mengganyang komunisme.
Coba liat aja tanda-tandanya. Pemerintahan Indonesia susah jalan itu karena komunis, pemberontakan di mana-mana itu karena komunis, demonstrasi juga karena komunis, ekonomi susah bangkit pasti karena komunis.
Di tingkat dunia juga komunis harus diwaspadai. Komunis mulai menyusup di mana-mana. Anti Islam dan anti Arab itu karena komunis, Zionisme itu komunis, Israel itu komunis, Amerika juga komunis, perang-perang belakangan ini karena komunis mau memerangi agama. Pokoknya bahaya munculnya komunis mulai terasa, sungguh, saat ini kita harus siap-siap sekali lagi mengganyang komunis.
Perhatikan tetangga dan teman-teman, jangan lengah, hati-hati dan waspada. Perhatikan tingkah laku orang di rumah seberang atau kamar kos sebelah, termasuk tukang-tukang becak dan tukang ojek di pengkolan jalan. Jangan lupa juga sama orang-orang yang suka nongkrong-nongkrong, termasuk di Masjid, komunis suka menyamar dan menyusup ke mana-mana. Liat tingkah laku mereka, awasi, selalu awas dan jeli, berjaga sepanjang waktu. Hati-hati. Mungkin salah satu dari orang-orang itu, mungkin salah satu dari teman kita sendiri, atau malah keluarga kita adalah komunis!
Ini namanya tindakan prefentif, berjaga-jaga, mencegah - mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?! Mau tidak mau kita harus seperti ini. Karena komunis mengakar di mana-mana dan berbahaya. Lebih dari itu, komunis juga merusak apapun yang dijamahnya, kalau kita terlambat salah-salah bisa jadi korban komunis sekali lagi. Ganyang sebelum diganyang! Ingat, komunis itu bukan mahluk yang bisa dipercaya, sudah banyak sekali yang jadi korban dan dirusak sama komunis.
Panen gagal itu karena komunis, gempa bumi karena komunis, banjir karena komunis, WTC disruduk kapal terbang itu karena komunis, Pentagon juga, dan perang dunia I dan II juga karena komunis. Perang salib itu karena komunis, Munir dibunuh sama komunis, dan Pangeran Diponegoro juga begitu - dibunuh komunis. Yang ngejajah Indonesia itu Belanda komunis dan Jepang komunis, Hitler itu komunis, Mussolini juga komunis, preman-preman Tanah Abang dan Tanjung Priok itu komunis. Kapal terbang jatuh karena komunis, bom-bom di Jakarta dan Bali itu yang masang komunis, yang bikin binatang pada punah itu komunis, yang bikin laut Jawa jadi kotor itu komunis, yang nyebarin ajaran gereja setan itu komunis.
Menyeramkan sekali kan?! Komunis emang setan kurap biang segala masalah di muka bumi!!
Komunis itu yang bunuh Yesus, Fir'aun itu komunis, uler yang nawarin Adam dan Hawa buah terlarang itu komunis, komunis itu penyembah berhala (maka itu diperangi sama Muhammad), komunis juga yang ngebantai Cina-cina di Kali Angke, komunis yang jatuhin bom atom di atas Jepang, dan komunis yang memproduksi film-film porno. Komunis itu yang bikin tempat perjudian dan maksiat di Las Vegas, begitu juga dengan tempat pelacuran di Kali Jodo, komunis itu penyebab TKW diperkosain, komunis yang bikin politik Apartheid, komunis yang ngebantai penduduk kulit hitam di Amerika, komunis yang diskriminasi suku Aborigin di Australia, dan bahkan orang Mongol yang nyerang Islam dulu itu komunis. Suku-suku Indian kuno pada punah itu karena komunis. Perang Dayak-Madura karena komunis. Kerusuhan Mei 1998 karena komunis. Tragedi Tanjung Priok itu karena komunis. Islam Syiah dan Suni perang karena komunis, Klu Klux Klan itu antek komunis, teroris itu komunis, ubur-ubur beracun juga komunis.
Iklim dan musim jadi acak-acakan juga karena komunis. Malah kalo Godzilla beneran ada, itu juga pasti karena komunis!
Menjadi Mantra!
11 Agustus 2004 20:21:14
Kau merintih, kau mengerang.
Sakitkah? Pedihkah?
Kau menangis, kau terisak.
Menangislah: Jangan kau tahan, biarkan lepas.
Menangislah: Menjadi mantra. Menjadi mantra!
Berteriaklah: Murka membakar dan berpijar.
Berteriaklah: Menjadi kutuk, menghujam jantung - mengundang badai.
Biarkanlah dunia tahu; bersaksilah pada dunia: Kau sakit hati.
***
- Untuk semua anak-anak yang dikorbankan demi harta dan kekuasaan.
Kau merintih, kau mengerang.
Sakitkah? Pedihkah?
Kau menangis, kau terisak.
Menangislah: Jangan kau tahan, biarkan lepas.
Menangislah: Menjadi mantra. Menjadi mantra!
Berteriaklah: Murka membakar dan berpijar.
Berteriaklah: Menjadi kutuk, menghujam jantung - mengundang badai.
Biarkanlah dunia tahu; bersaksilah pada dunia: Kau sakit hati.
***
- Untuk semua anak-anak yang dikorbankan demi harta dan kekuasaan.
Kami: Orang-orang yang Kalah
15 Juli 2004 23:05:??
Kami. Adalah orang-orang yang kalah. Yang tersingkirkan menjadi orang-orang pinggiran: Orang buangan tak berguna, sampah masyarakat yang menjijikan; tanpa arti dan tak bernilai, debu jalanan yang mengotori duniamu yang indah penuh keagungan.
Kami. Adalah orang-orang rendahan. Yang terkucil di dasar neraka kehidupan, yang tak mampu menjangkau dunia tanpa cela-Mu; terusir dan terdampar di sini: Di dunia yang penuh kenistaan dan menjijikan sehingga tak layak untuk menyentuh kehidupanmu.
Kami. Adalah orang-orang murahan. Darah dan keringat kami telah kau takdirkan dan kau kutuk menjadi tak berharga. Nyawa kami tak lebih berharga dari kenikmatan yang kau rasakan.
***
Kami: Adalah orang-orang yang kalah. Yang hidup dengan logika dan kesadaran kami sendiri; di dalam dunia kami sendiri. Yang telah meredusir tujuan kehidupan kami menjadi bertahan tetap hidup dan segala tujuan kami yang penuh dengan iri, tamak, dan dengki. Keinginan-keinginan yang hidup di dalam kepala kami, adalah keinginan-keinginan yang jahat dan tanpa moral.
Kami! Adalah jahanam-jahanam yang kalah! Yang suatu hari nanti, akan membongkar dunia dan kehidupan ini!
Kami. Adalah orang-orang yang kalah. Yang tersingkirkan menjadi orang-orang pinggiran: Orang buangan tak berguna, sampah masyarakat yang menjijikan; tanpa arti dan tak bernilai, debu jalanan yang mengotori duniamu yang indah penuh keagungan.
Kami. Adalah orang-orang rendahan. Yang terkucil di dasar neraka kehidupan, yang tak mampu menjangkau dunia tanpa cela-Mu; terusir dan terdampar di sini: Di dunia yang penuh kenistaan dan menjijikan sehingga tak layak untuk menyentuh kehidupanmu.
Kami. Adalah orang-orang murahan. Darah dan keringat kami telah kau takdirkan dan kau kutuk menjadi tak berharga. Nyawa kami tak lebih berharga dari kenikmatan yang kau rasakan.
***
Kami: Adalah orang-orang yang kalah. Yang hidup dengan logika dan kesadaran kami sendiri; di dalam dunia kami sendiri. Yang telah meredusir tujuan kehidupan kami menjadi bertahan tetap hidup dan segala tujuan kami yang penuh dengan iri, tamak, dan dengki. Keinginan-keinginan yang hidup di dalam kepala kami, adalah keinginan-keinginan yang jahat dan tanpa moral.
Kami! Adalah jahanam-jahanam yang kalah! Yang suatu hari nanti, akan membongkar dunia dan kehidupan ini!
Obat Cinta
14 Februari 2005 5:41:00
Suatu hari nanti di masa depan, cinta akan diperjualbelikan dalam bentuk pil. Siapa ingin cinta, belilah sebotol, tenggak sebutir, maka hadirlah cinta. Atau kalau kau benci menelan pil, tinggal kau minta tablet hisap cinta atau ada juga obat cinta dalam bentuk spray dan sirup. Lebih praktis lagi, pesanlah sticker cinta dan tempel di pantat atau ubun-ubunmu, hadirlah cinta di sana. Dengan deras dan lancar. Bisa juga kau beli paket hemat, cinta menggebu plus ngentot tiga hari tiga malam, atau cinta yang lembut disertai grepe-grepe sekitar delapan jam, bisa ditambah dengan obat gosok cinta. Untukmu yang lebih bajingan, tinggal minta kondom rasa cinta, menghadirkan cinta di setiap sodokan penismu ke dalam lubang vagina perempuan yang kau setubuhi atau kau perkosa. Cinta bisa muncul di manapun dan kapanpun, asal kau punya obatnya.
Tapi jangan harap cinta akan hadir tanpa obat-obatan itu. Cinta telah lama mati di dunia. Tidak ada cinta lagi. Di kota atau di desa, di laut atau di dalam rimba, cinta telah mampus, cinta hanya ada di dasar jurang neraka paling jahanam. Terbakar melepuh meleleh dan kemudian gosong menjadi abu, ditiup angin dan lenyap dari alam semesta. Sekali lagi: Cinta telah mati.
Beli sekarang mumpung lagi diskon, hari palentin hari kasih sayang. Lihatlah cinta botolan ini, menjanjikan cinta menggairahkan yang hangat-hangat panas.
Cinta diperjualbelikan, cinta menjadi komoditi. Tak ada cinta di kepala manusia, tak ada cinta di kehidupan manusia, tak ada cinta di dalam kemanusiaan, bahkan mungkin kemanusiaan pun telah minggat dari dirinya sendiri lari mengejar cinta ke alam baka untuk menemaninya di neraka. Getir dan suram, itulah manusia tanpa obat-obatan cinta, tanpa cinta dan tanpa kasih sayang. Karena cinta telah diternak dan kemudian dijagal, ekstraknya dijadikan pil atau tablet hisap, juga jenis obat lain serta paket-paket hemat yang tersedia di pasaran. Tak membeli maka tak ada cinta, cinta tidak lagi ada di dada tapi di laboratorium kimia.
Hari ini cinta mulai diperjualbelikan. Cinta dan kasih sayang mulai dijagal dan terwakili oleh materi, dalam bentuk kertas jantung hati merah muda dan coklat juga barang-barang TOLOL dan GOBLOG lainnya. Besok cinta akan musnah dan mampus diinjak-injak manusia. Carilah cinta di apotik.
Palentines dei? Hari kasih sayang? DUBURMU!!
Suatu hari nanti di masa depan, cinta akan diperjualbelikan dalam bentuk pil. Siapa ingin cinta, belilah sebotol, tenggak sebutir, maka hadirlah cinta. Atau kalau kau benci menelan pil, tinggal kau minta tablet hisap cinta atau ada juga obat cinta dalam bentuk spray dan sirup. Lebih praktis lagi, pesanlah sticker cinta dan tempel di pantat atau ubun-ubunmu, hadirlah cinta di sana. Dengan deras dan lancar. Bisa juga kau beli paket hemat, cinta menggebu plus ngentot tiga hari tiga malam, atau cinta yang lembut disertai grepe-grepe sekitar delapan jam, bisa ditambah dengan obat gosok cinta. Untukmu yang lebih bajingan, tinggal minta kondom rasa cinta, menghadirkan cinta di setiap sodokan penismu ke dalam lubang vagina perempuan yang kau setubuhi atau kau perkosa. Cinta bisa muncul di manapun dan kapanpun, asal kau punya obatnya.
Tapi jangan harap cinta akan hadir tanpa obat-obatan itu. Cinta telah lama mati di dunia. Tidak ada cinta lagi. Di kota atau di desa, di laut atau di dalam rimba, cinta telah mampus, cinta hanya ada di dasar jurang neraka paling jahanam. Terbakar melepuh meleleh dan kemudian gosong menjadi abu, ditiup angin dan lenyap dari alam semesta. Sekali lagi: Cinta telah mati.
Beli sekarang mumpung lagi diskon, hari palentin hari kasih sayang. Lihatlah cinta botolan ini, menjanjikan cinta menggairahkan yang hangat-hangat panas.
Cinta diperjualbelikan, cinta menjadi komoditi. Tak ada cinta di kepala manusia, tak ada cinta di kehidupan manusia, tak ada cinta di dalam kemanusiaan, bahkan mungkin kemanusiaan pun telah minggat dari dirinya sendiri lari mengejar cinta ke alam baka untuk menemaninya di neraka. Getir dan suram, itulah manusia tanpa obat-obatan cinta, tanpa cinta dan tanpa kasih sayang. Karena cinta telah diternak dan kemudian dijagal, ekstraknya dijadikan pil atau tablet hisap, juga jenis obat lain serta paket-paket hemat yang tersedia di pasaran. Tak membeli maka tak ada cinta, cinta tidak lagi ada di dada tapi di laboratorium kimia.
Hari ini cinta mulai diperjualbelikan. Cinta dan kasih sayang mulai dijagal dan terwakili oleh materi, dalam bentuk kertas jantung hati merah muda dan coklat juga barang-barang TOLOL dan GOBLOG lainnya. Besok cinta akan musnah dan mampus diinjak-injak manusia. Carilah cinta di apotik.
Palentines dei? Hari kasih sayang? DUBURMU!!
Studi Banding Sorga Neraka
07 Maret 2005 21:43:08
Tahun dua ribu dua ratus empat belas. Teknologi telah mencapai ketinggian luar biasa tinggi. Manusia mulai beranak-pinak di bulan dan di planet Mars, sementara plesiran ke planet Jupiter sudah biasa. Bangunan tinggi menyentuh awan dan jauh dalam merojok ke dalam perut bumi, kendaraan jarang menyentuh tanah, dan satu teknologi yang maha-penting telah berhasil ditemukan; yaitu Teknologi Komunikasi Jarak Jauh Bumi-Sorga-Neraka (TKJJ BSN).
Layaknya internet yang pada akhir abad 20 membuat tempat-tempat berjauhan di muka dunia menjadi begitu dekat, di awal abad dua puluh tiga ini bukan cuma berbagai tempat yang berserakan di muka dunia yang dibuat menjadi dekat, tapi juga jarak yang tak dapat dihitung antara Bumi, Sorga, dan Neraka - telah dihubungkan dengan sistem komunikasi super-canggih. Sehingga orang di dunia sudah mulai dapat bertangis-tangisan bersama menggunakan telepon atau e-mail dengan kerabat yang telah mampus bertahun-tahun lalu atau sekadar menanyakan kabar kepada sahabat yang baru modhar kemaren sore. Kadang juga dilakukan tele-conference antar kerabat keluarga di dunia, di sorga, dan di neraka.
Kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan dua dunia yang letaknya entah di mana di alam jagad-raya ini akhirnya dilengkapi dengan kemampuan manusia untuk bukan hanya berkomunikasi, bahkan melainkan bepergian mengunjungi sorga dan neraka jahanam; Teknologi Komunikasi dan Transportasi Jarak Jauh Bumi-Sorga-Neraka (TKTJJ BSN). Yang kemarin lusa hanya bertelpon-telponan atau saling berkirim e-mail, sekarang sudah dapat bertemu langsung dengan orang-orang yang telah mati.
***
Indonesia pun sudah menjadi negara yang mampu mengikuti perkembangan teknologi maju. Sudah terdapat perusahaan komunikasi bumi-sorga-neraka, pun sudah didirikan perusahaan jasa transportasi yang menjangkau sorga dan neraka. Malah Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mendirikan kedutaan besarnya di Sorga dan Neraka. Pokoknya Indonesia juga sudah menjadi negara super canggih. Hanya satu saja yang kurang, yaitu utangnya ke IMF dan World Bank masih belum lunas, atau kalau mengutip perkataan seorang pejabat Indonesia di tahun 2167 adalah "sedang dalam masa penyelesaian pembayaran hutang-hutang luar negeri".
Dalam suatu kunjungan pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia ke sorga untuk menjenguk Soeharto dan petinggi-petinggi Indonesia lain yang telah mati, Soeharto menyarankan supaya pemerintah Indonesia mengirimkan delegasinya ke sorga dan neraka untuk melakukan studi banding tentang sistem manajerial, pelayanan umum, birokrasi, kependudukan, keamanan, dan lain-lain hal. Alasannya, karena menurut Soeharto sistem kepengurusan di sorga dan neraka sangat baik adanya.
Maka dikirimlah lima orang pejabat kelas atas dari bidang-bidang yang terkait dengan yang telah disebutkan oleh Soeharto untuk melakukan studi banding selama satu bulan. Lengkap bersama para istri yang menor-menor dari para delegasi, empat belas orang dikirim menuju sorga - dan kemudian neraka. Tapi, empat belas?? Bukan sepuluh? Bukan. Karena ada satu delegasi yang beristri lima.
***
Kunjungan dimulai dari akhirat bagian penerimaan dan pengadilan bagi manusia yang baru mampus.
Sesampainya di akhirat, para delegasi menyaksikan seseorang berbadan besar dan bermata sipit, berpakaian jas lengkap dan bersepatu kinclong, berjalan bersama perutnya yang buncit menuju pintu pengadilan. Senyum disungging di bibir sejadi-jadinya, didampingi langsung oleh malaikat pencabut nyawa. Di ruang pengadilan - yang juga dihadiri oleh para delegasi sebagai bagian dari acara kunjungan resmi - telah duduk hakim ketua, hakim pembantu, dan lain-lain pejabat pengadilan sorga. Semuanya dipersilahkan duduk.
Hakim ketua memulai, "Selama hidup di dunia, anda telah membunuh tiga puluh satu orang secara tidak langsung, merusak seribu seratus tiga tempat tinggal keluarga manusia, menyebabkan empat orang cacat, menyakiti orang lain dengan perbuatan tingkat A seratus delapan kali, tingkat B tiga ratus sepuluh kali, tingkat C lima ratus enam puluh satu kali, berselingkuh tujuh kali, berzinah enam puluh delapan kali, mencuri uang sebanyak empat puluh miliar mata uang rupiah Indonesia, ..."
"Mohon dipertimbangkan juga perbuatan-perbuatan baik yang sudah dilakukan oleh klien saya, yang mulia." - kata pengacara si badan besar memotong pembicaraan hakim.
"Iya itu nanti dulu." Kemudian ia melanjutkan, "... merusak alam seluas lima ratus enam hektar, melanggar sumpah tiga puluh tiga kali, berdusta enam ribu tujuh ratus sebelas kali, ..."
Sang pengacara kembali memotong, "Hakim ketua yang mulia, tolonglah dipertimbangkan bahwa klien saya juga banyak melakukan perbuatan baik dan menjunjung tinggi dunia akhirat dan dunia sorga..."
"Iya, bisa sabar atau tidak?"
"..."
"... menyebabkan rasa takut pada orang lain sebanyak seratus dua puluh sembilan kali dengan total jumlah korban dua puluh empat juta tiga ratus empat belas ribu dua ratus satu orang dan tingkat ketakutan rata-rata 463 Afr [satuan unit tingkat ketakutan manusia bumi] selama total jumlah waktu dua ratus tujuh puluh satu tahun lebih tiga bulan enam hari, menyebabkan enam ratus tujuh puluh tiga orang kelaparan selama total tiga puluh satu hari waktu bumi, memaksakan kehendak kepada..."
"Hakim ketua, saya mohon..." - pengacara sekali lagi memotong, dan kali ini tampak air mukanya sudah tidak terlalu tenang seperti pada awalnya. Kliennya, si tambun pun sudah mulai agak gugup dan senyum di bibirnya tidak lagi disungging selebar sebelum memasukki pintu pengadilan. Pengacara melanjutkan "Pertimbangkanlah perbuatan-perbuatan baik klien saya...", yang terakhir dikatakan sambil mendorong amplop tebal di atas meja menuju ke depan ke arah hakim ketua.
"Oh ya. Ya... ya, ya. Ya, benar. Ya, sebaiknya kita segera membahas perbuatan-perbuatan baik yang sudah dilakukan semasa hidupnya." Hakim ketua kembali bersuara, dan dilanjutkan dengan membahas berbagai macam perbuatan baik yang sudah dilakukan orang yang tengah diadili. Senyumnya kembali mekar berbunga-bunga hingga agak monyong, pengacaranya pun ikut tenang, dan duduknya santai melipat tangan - sambil sesekali mengangguk-anggukan kepala botaknya.
Menjelang akhir persidangan, beberapa saat sebelum hakim ketua menentukan keputusan, ketika sang hakim ketua sedang membaca dalam hati beberapa berkas penting berkaitan dengan persidangan kali ini, pengacara kembali menyorongkan amplop kedua yang jauh lebih tebal dari yang pertama ke arah hakim ketua - sambil berkata "Mohon perbuatan-perbuatan baik yang telah disebutkan benar-benar dipertimbangkan oleh yang mulia."
Hakim ketua tampak tetap berkonsentrasi membaca berkas-berkas di tangannya. Kemudian amplop ketiga yang sama tebalnya meluncur, keempat, kelima, dan tiba-tiba hakim ketua menatap pengacara dan berkata "Baik, keputusan telah saya ambil: Masuk sorga!"
***
Kunjungan dilanjutkan ke sorga itu sendiri. Di sana delegasi disambut oleh para mantan pejabat penting di Indonesia yang telah moksa bin mampus. Soeharto menjadi ketua rombongan penyambut, diikuti oleh orang-orang terkenal seperti Akbar Tandjung, Ginandjar Kartasasmita, Wiranto, Megawati, Susilo Bambang, dan lain-lain banyak sekali jumlahnya. Di sampingnya masih terdapat rombongan para konglomerat yang sudah mamphus. Jauh di belakang rombongan utama, diikuti oleh orang-orang mantan anggota MPR-DPR. Luar biasa ramai sorga ini. Banyak orang Indonesia yang tinggal di sana. Semuanya pernah jadi pejabat penting, gubernur, pimpinan TNI atau ABRI, walikota, wakil rakyat, bisnismen, konglomerat, dan lain-lain posisi yang terhormat. Karena itu pakaian yang mereka kenakan pun mentereng kinclong aduhai keren-keren.
Selesai acara pertemuan antara anggota delegasi dengan rombongan penyambut, mereka berjalan keluar dari gedung pertemuan, dan tiba-tiba terjadi ribut-ribut di luar. Ribut cukup keras dan tampaknya mulai terjadi kepanikan di antara keramaian. Anggota delegasi dan sebagian rombongan penyambut segera pergi meninggalkan gedung pertemuan melalui jalan lain. Setelah terbebas dari hiruk pikuk dan tengah dalam perjalanan menuju kantor administrasi sorga, seorang anggota delegasi bertanya kepada Sutiyoso mantan gubernur Jakarta yang juga ada di sorga "Tadi itu ada apa, pak?"
Sutiyoso tersenyum dan menjawab, "Oh biasa, ada penduduk sorga yang ilegal..."
"Oooh..." anggota delegasi manggut-manggut dan menerawang, lantas tiba-tiba kembali bertanya, "Eh iya pak, ngomong-ngomong, apa sih rahasianya masuk ke sorga...?"
Sutiyoso lagi-lagi tersenyum manis - manis sekali hingga matanya tenggelam tak terlihat - dan berkata "Yah, banyak-banyak saja beramal. Itu saja."
***
Anggota delegasi telah sampai di kantor administrasi sorga, sebuah kantor yang santai, tidak banyak kesibukan yang terjadi. Para pegawai saling bercengkrama - kadang hingga terbahak. Hanya ada sebagian pegawai yang tampak sedang sibuk menyeleksi tabel-tabel panjang bergulung-gulung, itupun sambil sesekali ikut berkomentar dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Anggota delegasi bertanya kepada staf pimpinan bagian humas dari kantor administrasi sorga, "Sedang apa mereka - kok keliatannya sibuk sekali?"
"Iya, sedang menyortir daftar penghuni sorga yang harus diusir."
"Lho kok diusir??"
"Lah iya, kalu engga, lama-lama sorga bisa full dong. Setiap setengah bulan kita tinjau lagi daftar penduduk sorga, melihat yang semasa hidup di dunia paling sedikit memberikan amal sumbangan. Nah mereka itu kita usir, supaya orang yang beramal sumbangan yang baru dateng bisa dapet tempat di sorga."
"Oooh... Lantas terus mereka dikemanain?"
"Lah terserah mau ke mana, mau ke neraka boleh, mau ke akherat tidur di emperan pengadilan akherat juga boleh, mau balik ke dunia jadi setan hantu gentayangan juga terserah. Paling banyak sih mereka jadi penduduk ilegal di sorga ini, karena itu tiap setengah taun juga kita lakukan pembersihan penduduk ilegal. Huh, bikin sesak dan kumuh aja mereka itu."
Sang anggota delegasi kemudian kembali teringat tentang apa yang dikatakan oleh Sutiyoso beberapa saat sebelumnya. Tanpa sadar dia bergumam sambil bengong, "... berarti yang Sutiyoso bilang emang bener... cuma yang beramal sumbangan paling banyak yang bakal dapet tempat di sorga..."
Kepala staf pimpinan bagian humas kantor administrasi sorga yang ternyata masih ada di sebelahnya mendengar perkataan itu dan berkata, "Iya benar. Ini adalah keputusan dewan perwakilan masyarakat penghuni sorga, tahun lalu malah udah ditegaskan dengan peraturan pemimpin sorga. Ini sudah menjadi hukum dan peraturan di sorga, ya harus ditaati."
Terkaget karena komentar orang yang mengantarnya berkeliling, si anggota delegasi menjadi gugup sesaat, melihat sekeliling dan kemudian berkata - "Oooh..."
***
Studi banding ini dilanjutkan dengan mengunjungi neraka. Setelah melalui perjalanan yang cukup lama, akhirnya keempat belas anggota delegasi tiba juga di neraka. Disambut oleh koordinator pengelola neraka di pelataran parkir neraka, tampaklah antrian panjang menuju pintu utama neraka. Sebagian besar mengenakan pakaian seadanya atau bahkan compang-camping, beberapa malah tidak berpakaian sama sekali. Wajah mereka semua kuyu dan kusam. Banyak yang dalam keadaan cacat fisik, beberapa lagi tampak menderita penyakit jiwa. Jarang terdapat orang yang tampak normal. Anggota delegasi memasuki neraka melalui pintu samping.
Di dalam kantor administrasi neraka, telah menunggu kepala biro penerangan neraka, ia segera menerangkan berbagai macam hal kepada anggota delegasi. Bahwa semakin hari neraka menerima semakin banyak penduduk baru, bahwa semakin hari neraka semakin padat dan penuh sesak, bahwa dikarenakan oleh hal-hal itu wilayah neraka kini telah semakin melebar dari keberadaannya semula, bahwa sebagian dari penduduk neraka adalah buangan dari sorga, dan berbagai macam hal lain.
Seperti kantor administrasi sorga, di neraka pun kantor administrasi merupakan kantor yang santai tidak sibuk sama sekali walaupun ada banyak sekali pegawai yang bekerja di kantor itu. Pegawai administrasi hanya perlu menyocokan data yang ada dengan orang-orang yang baru datang - entah itu orang yang baru mati, atau orang operan dari sorga. Pegawai lainnya hanya perlu melakukan pencatatan-pencatatan berkaitan dengan penghuni neraka yang telah ada. Lalu ada pula pegawai yang mengurus perihal sarana-sarana yang bisa didapatkan penduduk neraka. Dan beberapa hal yang harus diurus lainnya. Lantas sisanya cukup hadir ke kantor, melakukan absensi kehadiran, dan kemudian bebas melakukan apa saja - nonton tv, bergosip, membaca koran atau buku, tidur, atau apa saja. Terserah.
Anggota delegasi mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan seorang penghuni neraka. Tampak bahwa ia cukup merasa tidak bahagia di dalam neraka. Badannya kurus kering, ada beberapa luka-luka di badannya, tampak haus, dan konsentrasinya tidak terfokus. "Bapak kenapa bisa masuk ke neraka?" tanya seorang anggota delegasi.
"Saya pencuri."
"Emang bapak nyuri apa?"
"Nyuri ayam sama duit majikan."
"Lah kenapa sampe mencuri?"
"Abisnya anak saya sakit, istri saya hamil, saya sendiri di-PHK. Malah terus harga BBM naik pula."
"Oooh..." Lalu dengan rasa ingin tahu yang menggelitik, pelan-pelan anggota delegasi itu bertanya "Bapak tidak pernah beramal sumbangan...?"
"... Amal sumbangan apaan?! Untuk ngurus anak dan istri sendiri saja saya kerepotan, mau beramal pake apaan?!" bentak penduduk neraka yang ditanyai, kemudian ia langsung pergi sambil memaki-maki.
Anggota delegasi yang lain sedang menanyai seorang penghuni neraka yang lain pula, "Ibu kenapa ada di neraka?"
"Tadinya saya masuk sorga, pak."
"Oooh... lalu kenapa ibu dipindahkan ke neraka?"
"Soalnya kata mereka saya tidak banyak beramal semasa hidup. Yah, emang saya hampir tidak pernah beramal sih..."
"Emang pekerjaan ibu sewaktu masih hidup apa sih?"
"Saya tukang jahit."
"Waktu masih hidup ibu pernah berbuat dosa?"
"Satu aja yang saya paling nyesel... waktu saya ingkar janji untuk membelikan anak saya mobil-mobilan... tapi mau begimana lagi, saya gak punya uang waktu itu. Dari hasil ngejahit cuma cukup buat makan dan kontrak rumah. Suami saya udah lebih dulu meninggal..."
"Oooh... sekarang ibu tinggal sama suami ibu di neraka?"
"Engga. Suami saya masih gentayangan di dunia. Dia kuli bangunan, jatuh dari lantai empat belas."
"Oooh..."
***
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di neraka, akhirnya anggota delegasi kembali pulang menuju tanah air. Anggota delegasi tampak telah belajar banyak dari sistem manajerial dan lain-lain yang mereka saksikan sendiri di sorga dan neraka, juga di pengadilan akherat. Istri-istri mereka pun banyak membawa oleh-oleh untuk kerabat di dunia, membawakan baju yang lagi mode di sorga, kenang-kenangan dari neraka, cinderamata dari akherat, dan lain-lain.
Dalam laporan singkat anggota delegasi kepada presiden Republik Indonesia, seorang anggota delegasi mengatakan "Setelah melakukan studi banding, ... dari apa yang kami saksikan dan pelajari dari sistem manajerial dan lain-lain di sorga dan neraka dan akherat, ... dapat kami katakan, sistem yang kita gunakan di tanah air sekarang sudah cukup sebanding dan sesuai dengan sistem yang digunakan di ketiga tempat itu... sudah cukup memuaskan."
Tahun dua ribu dua ratus empat belas. Teknologi telah mencapai ketinggian luar biasa tinggi. Manusia mulai beranak-pinak di bulan dan di planet Mars, sementara plesiran ke planet Jupiter sudah biasa. Bangunan tinggi menyentuh awan dan jauh dalam merojok ke dalam perut bumi, kendaraan jarang menyentuh tanah, dan satu teknologi yang maha-penting telah berhasil ditemukan; yaitu Teknologi Komunikasi Jarak Jauh Bumi-Sorga-Neraka (TKJJ BSN).
Layaknya internet yang pada akhir abad 20 membuat tempat-tempat berjauhan di muka dunia menjadi begitu dekat, di awal abad dua puluh tiga ini bukan cuma berbagai tempat yang berserakan di muka dunia yang dibuat menjadi dekat, tapi juga jarak yang tak dapat dihitung antara Bumi, Sorga, dan Neraka - telah dihubungkan dengan sistem komunikasi super-canggih. Sehingga orang di dunia sudah mulai dapat bertangis-tangisan bersama menggunakan telepon atau e-mail dengan kerabat yang telah mampus bertahun-tahun lalu atau sekadar menanyakan kabar kepada sahabat yang baru modhar kemaren sore. Kadang juga dilakukan tele-conference antar kerabat keluarga di dunia, di sorga, dan di neraka.
Kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan dua dunia yang letaknya entah di mana di alam jagad-raya ini akhirnya dilengkapi dengan kemampuan manusia untuk bukan hanya berkomunikasi, bahkan melainkan bepergian mengunjungi sorga dan neraka jahanam; Teknologi Komunikasi dan Transportasi Jarak Jauh Bumi-Sorga-Neraka (TKTJJ BSN). Yang kemarin lusa hanya bertelpon-telponan atau saling berkirim e-mail, sekarang sudah dapat bertemu langsung dengan orang-orang yang telah mati.
***
Indonesia pun sudah menjadi negara yang mampu mengikuti perkembangan teknologi maju. Sudah terdapat perusahaan komunikasi bumi-sorga-neraka, pun sudah didirikan perusahaan jasa transportasi yang menjangkau sorga dan neraka. Malah Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mendirikan kedutaan besarnya di Sorga dan Neraka. Pokoknya Indonesia juga sudah menjadi negara super canggih. Hanya satu saja yang kurang, yaitu utangnya ke IMF dan World Bank masih belum lunas, atau kalau mengutip perkataan seorang pejabat Indonesia di tahun 2167 adalah "sedang dalam masa penyelesaian pembayaran hutang-hutang luar negeri".
Dalam suatu kunjungan pejabat-pejabat pemerintahan Republik Indonesia ke sorga untuk menjenguk Soeharto dan petinggi-petinggi Indonesia lain yang telah mati, Soeharto menyarankan supaya pemerintah Indonesia mengirimkan delegasinya ke sorga dan neraka untuk melakukan studi banding tentang sistem manajerial, pelayanan umum, birokrasi, kependudukan, keamanan, dan lain-lain hal. Alasannya, karena menurut Soeharto sistem kepengurusan di sorga dan neraka sangat baik adanya.
Maka dikirimlah lima orang pejabat kelas atas dari bidang-bidang yang terkait dengan yang telah disebutkan oleh Soeharto untuk melakukan studi banding selama satu bulan. Lengkap bersama para istri yang menor-menor dari para delegasi, empat belas orang dikirim menuju sorga - dan kemudian neraka. Tapi, empat belas?? Bukan sepuluh? Bukan. Karena ada satu delegasi yang beristri lima.
***
Kunjungan dimulai dari akhirat bagian penerimaan dan pengadilan bagi manusia yang baru mampus.
Sesampainya di akhirat, para delegasi menyaksikan seseorang berbadan besar dan bermata sipit, berpakaian jas lengkap dan bersepatu kinclong, berjalan bersama perutnya yang buncit menuju pintu pengadilan. Senyum disungging di bibir sejadi-jadinya, didampingi langsung oleh malaikat pencabut nyawa. Di ruang pengadilan - yang juga dihadiri oleh para delegasi sebagai bagian dari acara kunjungan resmi - telah duduk hakim ketua, hakim pembantu, dan lain-lain pejabat pengadilan sorga. Semuanya dipersilahkan duduk.
Hakim ketua memulai, "Selama hidup di dunia, anda telah membunuh tiga puluh satu orang secara tidak langsung, merusak seribu seratus tiga tempat tinggal keluarga manusia, menyebabkan empat orang cacat, menyakiti orang lain dengan perbuatan tingkat A seratus delapan kali, tingkat B tiga ratus sepuluh kali, tingkat C lima ratus enam puluh satu kali, berselingkuh tujuh kali, berzinah enam puluh delapan kali, mencuri uang sebanyak empat puluh miliar mata uang rupiah Indonesia, ..."
"Mohon dipertimbangkan juga perbuatan-perbuatan baik yang sudah dilakukan oleh klien saya, yang mulia." - kata pengacara si badan besar memotong pembicaraan hakim.
"Iya itu nanti dulu." Kemudian ia melanjutkan, "... merusak alam seluas lima ratus enam hektar, melanggar sumpah tiga puluh tiga kali, berdusta enam ribu tujuh ratus sebelas kali, ..."
Sang pengacara kembali memotong, "Hakim ketua yang mulia, tolonglah dipertimbangkan bahwa klien saya juga banyak melakukan perbuatan baik dan menjunjung tinggi dunia akhirat dan dunia sorga..."
"Iya, bisa sabar atau tidak?"
"..."
"... menyebabkan rasa takut pada orang lain sebanyak seratus dua puluh sembilan kali dengan total jumlah korban dua puluh empat juta tiga ratus empat belas ribu dua ratus satu orang dan tingkat ketakutan rata-rata 463 Afr [satuan unit tingkat ketakutan manusia bumi] selama total jumlah waktu dua ratus tujuh puluh satu tahun lebih tiga bulan enam hari, menyebabkan enam ratus tujuh puluh tiga orang kelaparan selama total tiga puluh satu hari waktu bumi, memaksakan kehendak kepada..."
"Hakim ketua, saya mohon..." - pengacara sekali lagi memotong, dan kali ini tampak air mukanya sudah tidak terlalu tenang seperti pada awalnya. Kliennya, si tambun pun sudah mulai agak gugup dan senyum di bibirnya tidak lagi disungging selebar sebelum memasukki pintu pengadilan. Pengacara melanjutkan "Pertimbangkanlah perbuatan-perbuatan baik klien saya...", yang terakhir dikatakan sambil mendorong amplop tebal di atas meja menuju ke depan ke arah hakim ketua.
"Oh ya. Ya... ya, ya. Ya, benar. Ya, sebaiknya kita segera membahas perbuatan-perbuatan baik yang sudah dilakukan semasa hidupnya." Hakim ketua kembali bersuara, dan dilanjutkan dengan membahas berbagai macam perbuatan baik yang sudah dilakukan orang yang tengah diadili. Senyumnya kembali mekar berbunga-bunga hingga agak monyong, pengacaranya pun ikut tenang, dan duduknya santai melipat tangan - sambil sesekali mengangguk-anggukan kepala botaknya.
Menjelang akhir persidangan, beberapa saat sebelum hakim ketua menentukan keputusan, ketika sang hakim ketua sedang membaca dalam hati beberapa berkas penting berkaitan dengan persidangan kali ini, pengacara kembali menyorongkan amplop kedua yang jauh lebih tebal dari yang pertama ke arah hakim ketua - sambil berkata "Mohon perbuatan-perbuatan baik yang telah disebutkan benar-benar dipertimbangkan oleh yang mulia."
Hakim ketua tampak tetap berkonsentrasi membaca berkas-berkas di tangannya. Kemudian amplop ketiga yang sama tebalnya meluncur, keempat, kelima, dan tiba-tiba hakim ketua menatap pengacara dan berkata "Baik, keputusan telah saya ambil: Masuk sorga!"
***
Kunjungan dilanjutkan ke sorga itu sendiri. Di sana delegasi disambut oleh para mantan pejabat penting di Indonesia yang telah moksa bin mampus. Soeharto menjadi ketua rombongan penyambut, diikuti oleh orang-orang terkenal seperti Akbar Tandjung, Ginandjar Kartasasmita, Wiranto, Megawati, Susilo Bambang, dan lain-lain banyak sekali jumlahnya. Di sampingnya masih terdapat rombongan para konglomerat yang sudah mamphus. Jauh di belakang rombongan utama, diikuti oleh orang-orang mantan anggota MPR-DPR. Luar biasa ramai sorga ini. Banyak orang Indonesia yang tinggal di sana. Semuanya pernah jadi pejabat penting, gubernur, pimpinan TNI atau ABRI, walikota, wakil rakyat, bisnismen, konglomerat, dan lain-lain posisi yang terhormat. Karena itu pakaian yang mereka kenakan pun mentereng kinclong aduhai keren-keren.
Selesai acara pertemuan antara anggota delegasi dengan rombongan penyambut, mereka berjalan keluar dari gedung pertemuan, dan tiba-tiba terjadi ribut-ribut di luar. Ribut cukup keras dan tampaknya mulai terjadi kepanikan di antara keramaian. Anggota delegasi dan sebagian rombongan penyambut segera pergi meninggalkan gedung pertemuan melalui jalan lain. Setelah terbebas dari hiruk pikuk dan tengah dalam perjalanan menuju kantor administrasi sorga, seorang anggota delegasi bertanya kepada Sutiyoso mantan gubernur Jakarta yang juga ada di sorga "Tadi itu ada apa, pak?"
Sutiyoso tersenyum dan menjawab, "Oh biasa, ada penduduk sorga yang ilegal..."
"Oooh..." anggota delegasi manggut-manggut dan menerawang, lantas tiba-tiba kembali bertanya, "Eh iya pak, ngomong-ngomong, apa sih rahasianya masuk ke sorga...?"
Sutiyoso lagi-lagi tersenyum manis - manis sekali hingga matanya tenggelam tak terlihat - dan berkata "Yah, banyak-banyak saja beramal. Itu saja."
***
Anggota delegasi telah sampai di kantor administrasi sorga, sebuah kantor yang santai, tidak banyak kesibukan yang terjadi. Para pegawai saling bercengkrama - kadang hingga terbahak. Hanya ada sebagian pegawai yang tampak sedang sibuk menyeleksi tabel-tabel panjang bergulung-gulung, itupun sambil sesekali ikut berkomentar dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Anggota delegasi bertanya kepada staf pimpinan bagian humas dari kantor administrasi sorga, "Sedang apa mereka - kok keliatannya sibuk sekali?"
"Iya, sedang menyortir daftar penghuni sorga yang harus diusir."
"Lho kok diusir??"
"Lah iya, kalu engga, lama-lama sorga bisa full dong. Setiap setengah bulan kita tinjau lagi daftar penduduk sorga, melihat yang semasa hidup di dunia paling sedikit memberikan amal sumbangan. Nah mereka itu kita usir, supaya orang yang beramal sumbangan yang baru dateng bisa dapet tempat di sorga."
"Oooh... Lantas terus mereka dikemanain?"
"Lah terserah mau ke mana, mau ke neraka boleh, mau ke akherat tidur di emperan pengadilan akherat juga boleh, mau balik ke dunia jadi setan hantu gentayangan juga terserah. Paling banyak sih mereka jadi penduduk ilegal di sorga ini, karena itu tiap setengah taun juga kita lakukan pembersihan penduduk ilegal. Huh, bikin sesak dan kumuh aja mereka itu."
Sang anggota delegasi kemudian kembali teringat tentang apa yang dikatakan oleh Sutiyoso beberapa saat sebelumnya. Tanpa sadar dia bergumam sambil bengong, "... berarti yang Sutiyoso bilang emang bener... cuma yang beramal sumbangan paling banyak yang bakal dapet tempat di sorga..."
Kepala staf pimpinan bagian humas kantor administrasi sorga yang ternyata masih ada di sebelahnya mendengar perkataan itu dan berkata, "Iya benar. Ini adalah keputusan dewan perwakilan masyarakat penghuni sorga, tahun lalu malah udah ditegaskan dengan peraturan pemimpin sorga. Ini sudah menjadi hukum dan peraturan di sorga, ya harus ditaati."
Terkaget karena komentar orang yang mengantarnya berkeliling, si anggota delegasi menjadi gugup sesaat, melihat sekeliling dan kemudian berkata - "Oooh..."
***
Studi banding ini dilanjutkan dengan mengunjungi neraka. Setelah melalui perjalanan yang cukup lama, akhirnya keempat belas anggota delegasi tiba juga di neraka. Disambut oleh koordinator pengelola neraka di pelataran parkir neraka, tampaklah antrian panjang menuju pintu utama neraka. Sebagian besar mengenakan pakaian seadanya atau bahkan compang-camping, beberapa malah tidak berpakaian sama sekali. Wajah mereka semua kuyu dan kusam. Banyak yang dalam keadaan cacat fisik, beberapa lagi tampak menderita penyakit jiwa. Jarang terdapat orang yang tampak normal. Anggota delegasi memasuki neraka melalui pintu samping.
Di dalam kantor administrasi neraka, telah menunggu kepala biro penerangan neraka, ia segera menerangkan berbagai macam hal kepada anggota delegasi. Bahwa semakin hari neraka menerima semakin banyak penduduk baru, bahwa semakin hari neraka semakin padat dan penuh sesak, bahwa dikarenakan oleh hal-hal itu wilayah neraka kini telah semakin melebar dari keberadaannya semula, bahwa sebagian dari penduduk neraka adalah buangan dari sorga, dan berbagai macam hal lain.
Seperti kantor administrasi sorga, di neraka pun kantor administrasi merupakan kantor yang santai tidak sibuk sama sekali walaupun ada banyak sekali pegawai yang bekerja di kantor itu. Pegawai administrasi hanya perlu menyocokan data yang ada dengan orang-orang yang baru datang - entah itu orang yang baru mati, atau orang operan dari sorga. Pegawai lainnya hanya perlu melakukan pencatatan-pencatatan berkaitan dengan penghuni neraka yang telah ada. Lalu ada pula pegawai yang mengurus perihal sarana-sarana yang bisa didapatkan penduduk neraka. Dan beberapa hal yang harus diurus lainnya. Lantas sisanya cukup hadir ke kantor, melakukan absensi kehadiran, dan kemudian bebas melakukan apa saja - nonton tv, bergosip, membaca koran atau buku, tidur, atau apa saja. Terserah.
Anggota delegasi mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan seorang penghuni neraka. Tampak bahwa ia cukup merasa tidak bahagia di dalam neraka. Badannya kurus kering, ada beberapa luka-luka di badannya, tampak haus, dan konsentrasinya tidak terfokus. "Bapak kenapa bisa masuk ke neraka?" tanya seorang anggota delegasi.
"Saya pencuri."
"Emang bapak nyuri apa?"
"Nyuri ayam sama duit majikan."
"Lah kenapa sampe mencuri?"
"Abisnya anak saya sakit, istri saya hamil, saya sendiri di-PHK. Malah terus harga BBM naik pula."
"Oooh..." Lalu dengan rasa ingin tahu yang menggelitik, pelan-pelan anggota delegasi itu bertanya "Bapak tidak pernah beramal sumbangan...?"
"... Amal sumbangan apaan?! Untuk ngurus anak dan istri sendiri saja saya kerepotan, mau beramal pake apaan?!" bentak penduduk neraka yang ditanyai, kemudian ia langsung pergi sambil memaki-maki.
Anggota delegasi yang lain sedang menanyai seorang penghuni neraka yang lain pula, "Ibu kenapa ada di neraka?"
"Tadinya saya masuk sorga, pak."
"Oooh... lalu kenapa ibu dipindahkan ke neraka?"
"Soalnya kata mereka saya tidak banyak beramal semasa hidup. Yah, emang saya hampir tidak pernah beramal sih..."
"Emang pekerjaan ibu sewaktu masih hidup apa sih?"
"Saya tukang jahit."
"Waktu masih hidup ibu pernah berbuat dosa?"
"Satu aja yang saya paling nyesel... waktu saya ingkar janji untuk membelikan anak saya mobil-mobilan... tapi mau begimana lagi, saya gak punya uang waktu itu. Dari hasil ngejahit cuma cukup buat makan dan kontrak rumah. Suami saya udah lebih dulu meninggal..."
"Oooh... sekarang ibu tinggal sama suami ibu di neraka?"
"Engga. Suami saya masih gentayangan di dunia. Dia kuli bangunan, jatuh dari lantai empat belas."
"Oooh..."
***
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di neraka, akhirnya anggota delegasi kembali pulang menuju tanah air. Anggota delegasi tampak telah belajar banyak dari sistem manajerial dan lain-lain yang mereka saksikan sendiri di sorga dan neraka, juga di pengadilan akherat. Istri-istri mereka pun banyak membawa oleh-oleh untuk kerabat di dunia, membawakan baju yang lagi mode di sorga, kenang-kenangan dari neraka, cinderamata dari akherat, dan lain-lain.
Dalam laporan singkat anggota delegasi kepada presiden Republik Indonesia, seorang anggota delegasi mengatakan "Setelah melakukan studi banding, ... dari apa yang kami saksikan dan pelajari dari sistem manajerial dan lain-lain di sorga dan neraka dan akherat, ... dapat kami katakan, sistem yang kita gunakan di tanah air sekarang sudah cukup sebanding dan sesuai dengan sistem yang digunakan di ketiga tempat itu... sudah cukup memuaskan."
Ini Kemiskinan
03 September 2005 15:53:31
Asap di atas kali. Di atas air penuh limbah dan sampah, hijau menebar bau, diramaikan tikus-tikus sebesar kucing. Rumah-rumah berjejer, batu bata hingga papan lapuk dan seng berkarat, berhimpitan bertumpukan menyempil terdesak, kumuh menyerupai kandang kambing. Udara panas menandingi neraka jahanam, keringat menetes mengalir deras, asap rokok dan metromini bersiteru bergulungan. Suara-suara tak sudi berhenti, mobil motor dan bus PPD, kondektur gendeng disambut pedagang kaki lima. Hari demi hari tetap seperti ini, semerbak tinja dan kencing siang malam, mengundang seringai orang-orang hilang ingatan: Hari ini masih menganggur.
Asap di atas kali. Di atas air penuh limbah dan sampah, hijau menebar bau, diramaikan tikus-tikus sebesar kucing. Rumah-rumah berjejer, batu bata hingga papan lapuk dan seng berkarat, berhimpitan bertumpukan menyempil terdesak, kumuh menyerupai kandang kambing. Udara panas menandingi neraka jahanam, keringat menetes mengalir deras, asap rokok dan metromini bersiteru bergulungan. Suara-suara tak sudi berhenti, mobil motor dan bus PPD, kondektur gendeng disambut pedagang kaki lima. Hari demi hari tetap seperti ini, semerbak tinja dan kencing siang malam, mengundang seringai orang-orang hilang ingatan: Hari ini masih menganggur.
Sunyi yang Mengerikan
24 Agustus 2006 03:37:20
Di suatu tempat, tepat di saat ini. Ada yang sedang terbaring menerawang kosong. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa yang dilihatnya, kita tak akan pernah tau karena ia akan segera pergi. Kesakitan mendera tubuhnya, siksa yang tak terperi, lalu sunyi yang mengerikan - ia meregang hidup. Mati. Persis di detik ini. Mati karena kelaparan yang telah mengisi hidupnya selama berbulan-bulan terakhir, mati karena tidak ada lagi yang dimasukkan ke dalam perutnya, mati setelah lima atau enam tahun hidup di muka bumi. Ya, orang, anak-anak yang mati karena kelaparan. Manusia, yang sama seperti aku dan kau.
Kesunyian demi kesunyian, bertumpukkan, berderet. Setiap hari. Setiap jam. Dan saat ini. Ratusan ribu setiap tahun. Teror kenyataan yang enggan dihadapi oleh umat manusia. Lupakan, tak perlu dipikirkan. Terlalu luas, tak realistis, memang seharusnya begitu. Tak ada apapun yang dapat dilakukan, kemudian alam yang disalahkan.
Memang. Kita mungkin baru akan perduli, ketika kitalah yang berada di balik tempurung kepala, menerawang kosong dalam berbulan siksa kesakitan, menatap kesunyian, dan meregang nyawa. Ketika saat itu tiba, jangan kita lupa untuk mengatakan; memang seharusnya begitu.
Di suatu tempat, tepat di saat ini. Ada yang sedang terbaring menerawang kosong. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa yang dilihatnya, kita tak akan pernah tau karena ia akan segera pergi. Kesakitan mendera tubuhnya, siksa yang tak terperi, lalu sunyi yang mengerikan - ia meregang hidup. Mati. Persis di detik ini. Mati karena kelaparan yang telah mengisi hidupnya selama berbulan-bulan terakhir, mati karena tidak ada lagi yang dimasukkan ke dalam perutnya, mati setelah lima atau enam tahun hidup di muka bumi. Ya, orang, anak-anak yang mati karena kelaparan. Manusia, yang sama seperti aku dan kau.
Kesunyian demi kesunyian, bertumpukkan, berderet. Setiap hari. Setiap jam. Dan saat ini. Ratusan ribu setiap tahun. Teror kenyataan yang enggan dihadapi oleh umat manusia. Lupakan, tak perlu dipikirkan. Terlalu luas, tak realistis, memang seharusnya begitu. Tak ada apapun yang dapat dilakukan, kemudian alam yang disalahkan.
Memang. Kita mungkin baru akan perduli, ketika kitalah yang berada di balik tempurung kepala, menerawang kosong dalam berbulan siksa kesakitan, menatap kesunyian, dan meregang nyawa. Ketika saat itu tiba, jangan kita lupa untuk mengatakan; memang seharusnya begitu.
Aku Bertemu Tuhan!
07 Agustus 2006 12:54:09
Sebenarnya aku lebih suka bicara langsung denganmu, muka berhadapan dengan muka, supaya kau dengar apa yang kukatakan langsung dari mulutku. Tapi apa mau dikata, aku ada di sini dan kau ada entah di mana, sementara apa yang mau kukatakan jelas sudah harus kukatakan sekarang juga. Maka sekarang kau sedang baca tulisanku. Anggaplah ini kata-kataku, walaupun jelas beda dan orang tolol manapun mesti bisa membedakan antara tulisan dan perkataan. Tapi anggaplah ini kata-kataku, karena aku tak bisa mengatakannya langsung padamu, sementara apa yang mau kukatakan sudah sangat mendesak sifatnya.
Begini. Aku bertemu Tuhan!
Ya. Tuhan. Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, yang maha tau, maha adil, dan maha segalanya. Tuhan yang menciptakanmu, menciptakan aku, dan menciptakan segalanya. Sungguh-sungguh Tuhan yang sesungguhnya Tuhan.
Aku bertemu denganNya dua hari yang lalu ketika pagi subuh-buta. Pukul berapa tepatnya aku tak ingat lagi, yang jelas ayam tetangga belum mulai meracau dan keponakan induk semangku belum mulai menyapu lantai. Mungkin sekitar pukul empat, tapi sudah kubilang aku tak tau pasti. Langit waktu itu masih gelap dan udara kota terkutuk ini sedang dingin-dinginnya, tidak ada siapapun yang masih atau sudah melek sepagi itu. Hanya aku sendirian di dalam kamarku, membaca buku, dan sedikit terkantuk-kantuk.
Masih ingat betul, aku baru saja mulai membaca halaman seratus tujuh puluh dua waktu itu, ketika tiba-tiba seekor kutu buku muncul di antara lipatan di bagian tengah buku. Merayap-rayap menuju halaman seratus tujuh puluh tiga. Tidak ada yang aneh dengan kutu itu, persis sama seperti kutu-kutu lainnya yang pernah kulihat. Baru saja aku hendak menyentilnya, tiba-tiba ia bersuara. Awalnya aku tak mengerti apa bunyinya, kukira cuma sekadar suara, walaupun aneh juga seekor kutu bisa bersuara seperti itu. Setelah mencoba mendengarkan lebih teliti baru aku mengerti, ia berkata "tunggu! Tunggu dulu! Hei! Aku ini Tuhan!"
Jangan salah sangka, aku tidak langsung begitu saja percaya pada apa yang dikatakannya. Bahkan aku tidak langsung percaya pada apa yang kudengar. Bahwa seekor kutu bisa berbicara. Seekor kutu, berbicara? Mengaku Tuhan pula? Aku justru mengira aku sudah terlalu mengantuk dan linglung sampai bisa mendengar seekor kutu berbicara denganku.
Tetapi ia mengajakku bicara lagi. "Woi. Dungu! Kau tak dengar? Aku Tuhan!"
Aku langsung tersentak dan secara reflek menutup buku yang sedang kupegang, menjepit si kutu di antara halaman seratus tujuh puluh dua dan seratus tujuh puluh tiga. Rasa kantukku langsung menghilang, bahkan menjadi sangat segar. Setelah yakin aku memang sungguh-sungguh sadar dan tidak sedang bermimpi, kubuka lagi buku itu.
Maka muncullah sang kutu yang tampak kejengkang tak karuan. Ia segera berdiri dan pertama-tama menghardikku dengan keras, "goblok!" Aku hanya terbengong-bengong memperhatikan kutu yang kemudian celingak-celinguk memeriksa bagian samping dan belakang tubuhnya, persis seperti orang yang merasa ada permen karet menempel di pantat celananya. Setelah selesai baru ia menengadah lagi tepat ke arah mataku, bagaikan bertolak pinggang ia memperkenalkan diri "aku Tuhan. Siapa namamu? Santai aja, gak perlu tegang begitu."
Yakinlah aku, bahwa kutu itu memang berbicara, ia berbicara padaku. Tetapi ia mengaku Tuhan. Kutu yang berbicara, walaupun tidak masuk akal, akhirnya bisa kuterima karena bagaimanapun aku memang mendengarnya berbicara. Tapi ia mengaku Tuhan. Kutu buku yang mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan! Sungguh di luar akal sehat manusia yang sehat lahir dan batin seperti diriku.
Kuputuskan untuk mengajaknya berbicara, karena aku menjadi sangat ingin tau, kutu macam manakah yang bukan saja - sekali lagi di luar akal sehat - dapat berbicara, melainkan juga mengaku sebagai Tuhan.
***
"Kau Tuhan?" Aku memulai perkataanku. Dan aku sungguh merasa sangat tolol ketika memulai pembicaraan itu. Bayangkan saja, berbicara dengan seekor kutu, yang mengaku Tuhan pula! Orang gila pun mungkin tak sudi melakukannya. Tapi kutu ini memang berbicara, dan ia memang mengaku Tuhan. Maka walaupun rasa ketolol-tololan itu menyengatku hingga ke ubun-ubun, kulanjutkan juga pembicaraan itu. "Ke mana saja kau selama ini? Mengapa baru sekarang kau muncul lagi?"
Dengan suara yang datar dan berkesan dilambatkan kutu itu justru berkata, "tadi kutanya siapa namamu. Dan kau belum menjawabku." Kujawab dengan suara yang datar pula karena, kau tau, memberitahu namaku ke seekor kutu adalah puncak dari ketololan yang kurasakan. Setelah itu baru sepertinya ia merasa puas dan melanjutkan kembali.
"Aku ini Tuhan. Aku ada dan selalu ada. Aku tidak pernah pergi. Dan aku pun selalu berusaha berkomunikasi dengan orang-orang, tapi pada umumnya mereka terlalu dungu, atau banyak dari mereka segera dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa."
Pantas saja mereka segera dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa. Bagaimana tidak, di mana di dunia ini ada orang waras yang berbicara dengan seekor kutu yang mengaku Tuhan. Tetapi tampaknya itu sebuah kesalahan. Karena tepat di pagi hari itu ternyata aku sedang berbicara dengan seekor kutu, yang nyata-nyata mengaku bahwa dirinya Tuhan. Dan jelas aku adalah seorang waras.
"Mengapa kali ini kau memilihku untuk berkomunikasi, kutu - maksudku Tuhan?"
Sambil mengusap tangan-tangannya, kepala, dan badannya secara bergantian, yang mana membuatku sekilas berpikir, bahwa kutu yang mengaku Tuhan ini pesolek juga sifatnya, ia menjawab enteng, "sederhana saja, karena kau tak terlalu dungu. Tapi juga tak terlalu cerdas."
Setelah menjawab, ia mulai berjalan ke tepian buku, menengok ke belakang ke arahku dan berkata "turunkan aku."
"Ha?" Aku tidak mengerti, jelas jidatku berkerut dan mulutku celangap sambil menatap si kutu yang masih menengok ke arahku. Dengan tidak sabar dan hampir memotong ucapanku ia berkata "turunkan aku. Ke lantai!"
Maka kuturunkan buku yang sejak awal tadi masih kupegang di depan dadaku. Ia mulai merayap turun dan menjauh dari buku yang kini tergeletak di lantai di depanku. Setelah berjarak kira-kira satu meter dari tempatku duduk ia mulai berhenti dan merapat ke tepi lemari pakaianku, kemudian dalam satu kejapan mata yang kulakukan, telah muncul seorang manusia di tempat itu menggantikan sang kutu.
Aku terkaget-kaget dan terperanjat, mundur dari tempatku duduk di lantai, dan hampir bangun karena ternyata di belakangku adalah dinding. Di depanku duduk seorang manusia yang berusia kurang lebih sama denganku. Rambutnya kering dan tidak terlalu tercukur rapi, kulitnya coklat, matanya tampak agak lelah, pakaiannya berupa jubah hitam - seperti jubah yang digunakan oleh pendeta-pendeta Kristen zaman dulu, berlengan panjang dan bagian bawahnya menerus hingga kaki seperti daster.
Ia menatapi pakaiannya sendiri seperti menimbang-nimbang, kemudian menatapku yang masih membeku dalam posisi setengah jongkok dan setengah duduk. "Maaf. Salah." Ia tersenyum singkat, dan ketika mataku berkejap sekali lagi, pada saat mataku membuka ia telah berganti pakaian. Ia mengenakan kaos oblong dan celana panjang katun polos berwarna putih. Sekali lagi ia menatapi pakaiannya, tampak puas, dan balik menatapku. "Ada rokok?"
Setelah menelan ludah dan mengambil rokok di sampingku tanpa melepaskan pandangan darinya, kusodorkan rokok sekaligus dengan koreknya. Ia ambil sebatang, menyalakannya dengan sebuah isapan panjang, menariknya ke dalam paru-paru, dan menghembuskannya dengan puas sambil menyandarkan punggungnya ke lemariku. Kakinya diselonjorkan, yang kanan diletakkan di atas yang kiri. Aku perlahan-lahan mulai duduk kembali, tetapi tetap tidak melepaskan pandanganku yang jelas dipenuhi dengan keheranan. Ia hisap lagi rokoknya dan menghembuskan asapnya sambil mengambil asbak yang ada di antara kami berdua, kemudian ia kembali pada posisinya semula dan menatapku sambil tersenyum tipis. "Nah. Sepertinya ada yang hendak kau tanyakan?"
***
Mulutku masih celangap, tetapi perlahan-lahan aku mulai menguasai diriku. Baik, kutu - yang mana sekarang telah berubah menjadi seorang manusia - di hadapanku ini adalah Tuhan. Menyaksikan apa yang dilakukanNya, aku tak dapat berpikir lain selain bahwa Ia memanglah Tuhan yang sesungguhnya. Hanya saja hal ini terlalu tiba-tiba, dan tidak perlu dipertanyakan lagi, aku tidak terbiasa untuk - karena memang aku tidak pernah - duduk berhadap-hadapan dan bicara langsung dengan Tuhan, yang kini sedang duduk selonjoran sambil asik merokok di hadapanku. Dan tingkah lakuNya itu membuatku ragu kalau Ia adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan yang selama ini dibicarakan orang-orang. Yang jelas aku tau, di kitab suci manapun tidak pernah diceritakan tentang Tuhan yang merokok dan berkaos oblong, terlebih lagi Tuhan yang menyamar menjadi kutu.
"Baik. Kau Tuhan. Apakah Kau Tuhan yang dikenal selama ini?" Agak terbata-bata aku menanyakannya sesudah beberapa kali menelan ludah dan mencoba untuk membuat otot-ototku menjadi lebih santai.
Seakan-akan Ia benar-benar tidak mengerti, Ia langsung menjawab, "Tuhan yang mana? Tidak ada Tuhan yang lain. Tuhan ya cuma aku."
"Maksudku Tuhan yang sekarang ini diimani oleh orang-orang beragama."
"Ah, bohong itu! Nggak bener. Wong Tuhannya aku."
Sedikit bingung karena seakan-akan menjadi ada dua Tuhan yang mengaku dirinya adalah Tuhan, atau bahkan lebih dari dua Tuhan yang mengaku Tuhan, aku terdiam sambil berusaha berpikir tentang hal itu. Kemudian mataku terarah kepadaNya lagi ketika Ia kembali menyambar, "yang Tuhan itu aku. Yang lain bohongan. Maksudmu yang disembah-sembah oleh orang-orang dari zaman dulu sampai sekarang, di dalam rumah-rumah ibadah itu toh?" Aku menganggukan kepala tapi tak berkata apa-apa. "Ya itu dia. Bohong itu. Aku ndak pernah minta disembah kok. Aku juga nggak ngerasa aku disembah. Entah apaan yang mereka sembah, yang jelas bukan aku."
Aku berusaha berpikir lagi, meneruskan pikiranku yang terpotong oleh kata-kataNya. Tapi yang terpikirkan cuma bahwa agama-agama itu mengatakan mereka menyembah Tuhan, kalau sekarang Tuhan ada di hadapanku, seharusnya tentu saja yang mereka - orang-orang agama itu - sembah adalah Tuhan yang ada di hadapanku ini. Tuhan. Maka kukatakan pikiranku itu, "tetapi mereka bilang mereka menyembah Tuhan," aku terdiam sebentar, "kalau Kau adalah Tuhan, berarti mereka menyembahMu. Kan?"
"Enggak. Udah kubilang aku nggak minta disembah. Dan yang mereka sembah itu bukan aku. Lagipula aku nggak seperti yang mereka omongin dan nggak seperti yang mereka tulis-tulis itu kok."
"Tapi mereka bilang mereka menyembah ..." belum selesai kata-kataku Ia sudah berkata "mereka bilang begitu. Tapi mereka tau dari mana kalo mereka bener-bener nyembah aku?"
"Kitab suci bilang begitu. Semua kitab suci bilang agamanya menyembah Tuhan."
"Lha ya tau dari mana itu kitab suci isinya bener?"
"Nabi-nabi penulisnya mendapat wahyu...," sempat sedikit ragu untuk meneruskannya, "dariMu..."
"Kukasih tau, aku tidak memberi wahyu apa-apa pada mereka! Kenalpun tidak. Jadi mereka bukan bicara tentang aku."
Aku terbengong-bengong. Walaupun aku bukan seorang religius, tetapi tetap saja kenyataan ini membuatku terbengong-bengong. "Berarti... apa yang dikatakan kitab suci itu bohong, nabi-nabinya pun bohong, agamanya bohong, dan umat-umatnya semua dibohongi...?"
"Ada kemungkinan apa lagi? Kalau bukan bohong ya gila."
Sejujur-jujurnya aku masih bingung juga. Logikaku sulit untuk langsung menyocokkan apa yang dikatakanNya dengan apa yang selama ini dikatakan oleh orang-orang. Setelah berpikir sebentar, aku bertanya lagi, "apakah Tuhan memang cuma Kau, atau masing-masing agama itu menyembah Tuhan yang lain, tetapi bukan Kau?"
"Aduh! Jangan-jangan semua manusia memang dungu. Kau pun mulai menjadi dungu. Kukatakan Tuhan itu cuma aku. Tidak ada Tuhan yang lain selain aku. Begitu ada orang yang mengaku menyembah Tuhan, berarti dia bohong, atau tertipu, karena dia bukan menyembah aku. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang menyembahku." Ia menghisap rokoknya, menjentikkan abunya di asbak dan meneruskan, "lagi pula kau tak melihat kekonyolan itu? Orang-orang dungu itu punya banyak agama untuk menyembah Tuhan, lantas maksudnya ada banyak Tuhan dengan banyak cara menyembah, atau ada banyak Tuhan dengan cuma satu cara menyembah yang benar, ..." Ia berhenti, menghisap rokok lagi, "atau ada satu Tuhan dengan banyak cara menyembah, atau ada satu Tuhan dengan cuma satu cara menyembah yang benar?"
Asap rokok keluar dari mulutNya ketika Ia mengucapkan potongan kalimat yang terakhir itu, dan sesudah selesai berucap Ia hembuskan semuanya sambil menatapku dengan dalam, membuatku kembali berpikir-pikir. Lagi-lagi, belum selesai aku berpikir Ia sudah meneruskan, "bagaimanapun yang sesungguhnya, tau dari mana kau bahwa apa yang dikatakan oleh agama-agama itu, dengan kitab-kitab mereka, adalah benar adanya? Lebih tepatnya, tau dari mana kau, bahwa apa yang tertulis di kitab itu adalah sebuah kebenaran? Kitab-kitab yang ditulis ribuan taun lalu, oleh orang-orang yang sama sekali tak kau kenal, yang hanya mengatakan bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Kau tau dari mana?"
Aku hanya dapat mengangguk-angguk, sambil perlahan-lahan mencerna apa yang dikatakanNya barusan, satu demi satu, sambil berharap kali ini pikiranku tidak Ia potong lagi.
***
Kalau Tuhan yang sesungguhnya, yang sedang duduk selonjoran di hadapanku ini bukanlah Tuhan seperti yang dikatakan oleh agama-agama, maka Tuhan seperti apakah Dia? Rasa ingin tahuku tergelitik karena menyadari bahwa ternyata manusia, selama entah berapa ribu tahun, telah mengenal Tuhan yang sama sekali salah, dan Tuhan yang sesungguhnya tepat berada di hadapanku. Kalau cerita yang dikatakan oleh agama-agama itu tidak benar, maka bagaimana cerita yang sesungguhnya?
"Tuhan, apakah Kau yang menciptakan Adam dan Hawa?", mulai kupancing Ia agar bercerita.
"Siapa lagi itu? Manusia dungu lainnya?"
"... dua manusia pertama yang... katanya... diciptakan oleh Tuhan..."
"Kalau Tuhan yang disebut-sebut oleh agama-agama itu sudah salah, maka yang lain-lainnya yang dikatkannya juga pun mesti salah. Jadi siapa itu Adam dan Hawa aku tidak tau menahu, tepatnya tidak ada itu dua manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan. Aku tidak pernah menciptakan dua manusia dungu pertama itu."
"Berarti cerita penciptaan alam semesta selama tujuh hari pun tidak benar?"
"Tentu saja tidak. Mungkin itu cuma dongeng sebelum tidur untuk anak-anak kecil dua atau tiga ribu tahun lalu, yang kemudian diadaptasi menjadi cerita resmi, oleh orang-orang cerdas yang penipu. Atau gila. Dan diimani oleh orang-orang dungu, yang saling mendungui orang lainnya."
Baru saja aku hendak menanyakan hal yang lainnya, Ia melanjutkan, "Bahkan bahwa dunia ini bulat dan matahari adalah pusat tata surya saja orang-orang dungu itu tidak tau. Apa yang kau harapkan dari mereka, suatu pengetahuan tentang asal muasal dunia? Non sense!"
Sesudah Ia berhenti berbicara baru kukatakan, "cerita tentang buah terlarang juga dongeng...? Dan dosa asal juga dongeng...?" Sedapat-dapatnya kuusahakan supaya apa yang kuucapkan itu tidak terdengar seperti pertanyaan, karena semestinya memang itu tidak perlu ditanyakan lagi. Tetapi aku ingin dengar dari mulutNya sendiri, aku ingin sungguh-sungguh mendengar suatu konfirmasi bahwa itu memang bohong.
"Itu kau tau!" Ia berkata sambil menunjuk singkat ke arahku dengan rokok yang tinggal setengah di tanganNya dan menghembuskan asap dari mulutNya. "Jelas dongeng. Manusia yang dungu-dungu saja bisa menciptakan lemari besi, kalau aku yang sungguh berada di sana waktu itu, tentu saja buah jahanam itu sudah kumasukkan ke dalam lemari besi. Apa susahnya? Lebih masuk akal lagi kalau aku tidak usah repot-repot menciptakan buah yang tidak boleh dimakan, dipajang mentereng di tempat umum pula. Tuhan yang ada di dongeng itu mesti dimaksudkan sebagai Tuhan yang dungu seperti kalian-kalian manusia ini." MataNya dialihkan dari arahku ke arah yang lain sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ngaku Tuhan kok dungu... setidaknya aku tak akan sedungu itu."
Seperti teringat akan sesuatu, Ia tiba-tiba melanjutkan lagi. "Dan soal dosa asal. Itu pun gila. Yang makan buah kan cuma dua manusia dungu itu, tapi semua anak-cucu-cicitnya ikut kena akibat, sampai kau yang dungu itu di hari ini pun kena akibat buah sinting itu. Sungguh dongeng yang dungu tentang Tuhan yang dungu, yang dipercayai oleh orang-orang dungu."
Berarti Ia sesungguhnya tau tentang cerita-cerita itu, tetapi dari nada bicara dan gerak-gerikNya, aku merasa Ia menjadi semakin dan semakin emosional. Seperti mengeluarkan suatu ketidaksukaan yang telah lama dipendamNya. Dan oleh karena itu aku tidak dapat berkata-kata, Ia menjadi seperti orang tua yang sedang ngedumel pada anaknya. Terlebih lagi kalimat yang Ia ucapkan sesudahnya, terdengar lebih pelan, seperti berbicara dengan diriNya sendiri, tetapi jelas Ia ingin aku mendengarkannya.
"... katanya maha tau, mestinya udah tau itu buah bakal dimakan, ya tetep aja diciptain, tetep aja dipajang di depan idung manusia dungu... Mana ada Tuhan sontoloyo kayak begitu... Cerita bohong. Cerita bohong tentang Tuhan yang dungu..."
***
Kubiarkan dulu Ia menenangkan emosiNya yang mungkin baru sekarang dapat Ia keluarkan setelah sekian lama. Aku duduk diam memperhatikanNya tanpa terlepas, perlahan-lahan bergerak mengambil rokok dan korekku yang ada di sampingNya. Ia melirik dan kemudian menatapku sekilas, Ia dorong benda itu ke arahku. Kuambil sebatang dan kunyalakan. Kami berdua merokok sekarang. Bayangkan! Aku merokok bersama Tuhan, di kamar kosku.
"Ada makanan apa di sini?" Ia tiba-tiba bertanya sambil menatapku. Ia tampak lebih tenang sekarang, tidak dikuasai lagi oleh emosiNya. Pikiranku bergerak lambat mengingat makanan apa yang masih tersisa. Hanya sebungkus biskuit coklat yang sebagian sudah kumakan. Aku bangun dari dudukku, berjalan melintas di depanNya untuk mengambil biskuit itu. Aku berjalan dengan agak kikuk, perasaanku aneh, menyadari aku tengah berjalan berdiri lebih tinggi di depan Tuhan yang kini duduk termenung-menung di lantai. Persis aku biasanya duduk, persis seperti bagaimana manusia pada umumnya duduk.
Biskuit dan sebotol air minum kuletakkan di lantai di dekatNya. "Cuma ini yang ada, sebagian sudah kumakan pula," berhenti sebentar kutambahkan, "maaf..." "Oh tenang aja. Gak apa-apa. Aku nggak lapar kok." Ia mulai membuka bungkusnya yang kulipat dan kurekatkan dengan solatip bening. Meletakkan isinya di lantai, mengambil sebongkah biskuit coklat, dan mulai makan.
Pertama Ia seekor kutu, kemudian manusia, lantas merokok, sekarang Ia makan biskuit coklat yang tinggal setengah bungkus. Pikiranku sulit berkonsentrasi melihat dan memikirkannya. Ini sungguh ajaib. Sungguh tidak masuk di akal. Tetapi Ia memang di sana di depanku, sedang makan sambil memegang rokokNya yang tinggal sedikit di tangan yang satunya. Manusia paling gila pun mungkin akan mengutukiku dan menganggapku gila jika kuceritakan tentang ini. Tapi sungguh, Ia ada di depanku, Ia sedang makan, dan aku sadar-sesadar-sadarnya. Kuharap kau pun tidak ikut menganggapku gila, aku menaruh harapan padamu, maka kutuliskan hal ini, supaya kau dapat membacanya. Aku harap kau mengerti, walaupun ini sulit dipercaya, dan aku pun mungkin tidak percaya jika kau yang menceritakan hal ini padaku. Tetapi tolonglah untuk percaya.
Jika kukatakan aku bertemu Tuhan yang sungguh agung bersinar-sinar dengan jubah putih berkilauan, berjanggut putih berambut gondrong yang juga putih, dengan tongkat di tangannya serta lingkaran halo di belakang kepalanya, kau boleh curiga bahwa aku cuma berbohong atau sedang ngelindur ketika aku mengalaminya. Tetapi justru yang bertemu denganku bukanlah Tuhan semacam itu, bukan Tuhan yang selama ini digambarkan atau tergambarkan oleh orang-orang. Ternyata Tuhan hadir sebagai seekor kutu, dan sekarang Ia manusia yang sedang makan biskuit coklatku, mengunyahnya perlahan-lahan, menelannya, dan menghisap lagi rokoknya.
Tuhan yang selama ini digambarkan, tuhan berjenggot dan berkilauan itu, sesungguhnya memang, tau dari mana para nabi-nabi itu bahwa Tuhan memang berwujud seperti itu, terlebih lagi, tau dari mana mereka bahwa yang mereka kenal adalah memang sungguh Tuhan. Seperti yang Tuhan - yang sesungguhnya - katakan padaku. Melihat tingkah lakuNya, mendengar ucapanNya, aku justru mulai percaya bahwa Dia yang duduk di depanku itu adalah Tuhan. Tuhan yang sebenarnya.
Melihat Ia sudah tenang kembali dan bahkan sedikit terhibur karena biskuit coklatku, aku mulai bertanya lagi, "Tuhan, apakah Kau menciptakan takdir?"
"Aku tak akan repot-repot mentakdirkanmu menjadi seorang pembunuh hanya untuk kemudian memasukkanmu ke dalam neraka. Aku yang mentakdirkanmu, tetapi aku juga yang menghukummu atas takdir yang kuberikan. Itu namanya nggak ada kerjaan. Perbuatan bodoh."
"Berarti manusia bebas melakukan apa yang diinginkannya?"
"Sederhananya begitu. Intinya aku tidak mau repot-repot menciptakan takdir untuk masing-masing daripadamu." Ia menutup ucapannya sambil mematikan rokok di dalam asbak.
Pikiranku serentak melayang-layang, membayangkan apa yang selama ini telah dipercaya oleh manusia sebagai takdir. Mulai dari tetanggaku yang percaya ia ditakdirkan untuk tidak lulus pada semester kemarin, kawan masa kecilku yang orang-orang percaya ia memang telah ditakdirkan seperti itu ketika ia meninggal tertabrak truk tronton, para presiden dan raja-raja yang percaya pada takdirnya sebagai raja, hingga bangsa-bangsa yang percaya pada takdir bangsanya masing-masing. Rupanya memang semua orang pun gila. Dan aku menjadi tidak terlalu khawatir kalau ternyata aku memang gila.
Terutama semua orang yang percaya takdir, memang sekarang menjadi nyata buatku bahwa mereka gila. Pamanku ditakdirkan jadi seorang pengedar obat-obatan, dan sesudah mati nanti ia akan diadili atas perbuatan yang telah ditakdirkan untuk ia lakukan. Itu sungguh konyol. Bagaimana pula dengan bangsa Israel yang selama ribuan tahun mempercayai bahwa ialah bangsa yang ditakdirkan untuk terpilih. Kalau bukan kegilaan mereka, berarti sekadar kebohongan belaka. Tetapi bagaimanapun, kata Tuhan, maksudku Tuhan yang sebenarnya yang sekarang duduk di depanku, Tuhan yang katanya memilih mereka itu adalah Tuhan bohongan. Berarti seperti apa pun ceritanya, mereka pasti pembohong, atau sekali lagi, gila.
Nah sekarang Tuhan yang sesungguhnya ada di depanku, ... apakah mungkin Ia kini ada di hadapanku karena Ia telah memilih bangsa ini? Aku membelalak sekilas karena memikirkannya. "Apakah bangsaku adalah bangsa yang terpilih, Tuhan?"
"Maksudmu? Aku tak memilih bangsamu. Kalau dapat memilih, aku memilih untuk meminta sebatang rokok lagi."
Aku tidak langsung mengerti dengan ucapanNya. Setelah mencernanya sejenak dan mengerti, langsung kusodorkan lagi rokok ke arahNya, dengan korek apinya sekaligus.
"Maksudku seperti cerita tentang bangsa Israel..."
Ia tak langsung menjawab, melainkan mengambil sebatang rokok dari dalam bungkus, memasangnya di mulut, dan menyalakannya. Kali ini dengan isapan-isapan pendek. Asap mulai mengepul-ngepul, menatap sekilas pada rokoknya, baru Ia menjawab. "Tuhan kok memilih satu bangsa di antara bangsa-bangsa lainnya. Yang kayak begitu itu ya cuma Tuhan karangan bangsa itu dhéwék, atau kalo emang ada yang seperti itu ya artinya itu Tuhan fasis!" Cara bicara dan mimik mukaNya benar-benar suatu ekspresi penghinaan. Seketika mimikNya berubah dan bertanya dengan nada rendah, "kau mau punya Tuhan fasis? Atau jadi korban fasisme Tuhan?"
Aku tak dapat menjawabnya. Lagi pula kupikir itu memang cuma sebuah pertanyaan retorik dariNya. PertanyaanNya kemudian Ia jawab sendiri, "kurasa kau tak akan mau. Dan aku pun tak mau menjadi Tuhan yang fasis, Tuhan yang keji."
***
Jadi sudah jelas, yang di hadapanku ini adalah Tuhan yang sesungguhnya, dan Ia tadi katakan bahwa cerita yang sesungguhnya bukanlah seperti cerita yang selama ini kita ketahui atau dengar. Bahkan Ia, Tuhan, bukanlah Tuhan seperti yang orang-orang katakan tentang Tuhan. Atau biar kukatakan begini, yang selama ini kita ketahui tentang Tuhan adalah salah, dan orang-orang agama itu selama ini tinggal menjadi objek penipuan para nabi-nabi mereka. Yang mereka omongin tentang Tuhan adalah salah, mereka tidak mengenal Tuhan yang sesungguhnya, dan cerita yang sebenarnya tidak seperti cerita-cerita di dalam kitab suci itu.
Lucu juga, bahwa manusia telah selama ribuan tahun berputar-putar dalam lingkaran kebohongan dan kegilaan akan Tuhan yang ternyata sama sekali salah. Sementara para nabi-nabi di zaman dahulu itu berbohong atau mengidap kegilaan, memang, manusia manakah yang akan tau bahwa mereka dulu berbohong, setelah ribuan tahun seperti sekarang. Kita tak akan tau apakah nabi-nabi itu berbohong, kita tinggal cuma bisa baca dari tulisan-tulisan di dalam kitab suci, tanpa tau apakah yang tertulis di dalamnya adalah kebenaran. Hanya percaya. Tidak lebih dari itu. Aku jadi tersenyum-senyum membayangkannya. Dan semakin bertanya-tanya, Tuhan seperti apakah itu Tuhan yang sebenarnya, yang ada di hadapanku ini? "Apakah Kau pendendam, Tuhan?"
"Aku bisa mendendam. Tentu saja. Tapi aku bukan pendendam." Ia tertawa kecil setelah jawabanNya itu. Sepertinya ada yang lucu di sana, sepertinya ada yang menggelitikNya tentang cerita itu. "apa kau mau punya Tuhan yang pemarah sekaligus pendendam, yang membunuh ribuan bayi-bayi kecil di Mesir hanya untuk mendatangkan seorang nabi? Yang marah-marah lantas menenggelamkan seisi dunia dalam air bah? Atau yang mengutuk manusia yang satu sementara meninggikan manusia yang lain? Keji sekali Tuhan seperti itu. Aku bukan Tuhan semacam itu."
Setelah tertawa halus, Ia teruskan lagi, "Kuberitahu padamu, Tuhan yang kau kenal itu, sungguh keji. Dan dia bukanlah Tuhan yang sesungguhnya. Akulah Tuhan. Tetapi bukan Tuhan yang keji seperti itu. Aku bukan Tuhan yang menuntut seisi alam semesta untuk menyembahku, aku tidak gila hormat, aku tak akan kirim orang yang menghujatku ke dalam api neraka jahanam seperti yang katanya dilakukan oleh Tuhan dongeng itu."
Ia tersenyum-senyum ketika mengatakannya. Rupanya cerita tentang betapa pendendam dan pemarahnya Tuhan, maksudku Tuhan yang bohongan, yang dipercayai oleh umat manusia, membuatNya merasa geli. Memang aku pun merasa, akan menjadi tontonan yang lucu, seandainya ada seonggok boneka yang orang-orang anggap adalah diriku. Tetapi, "apakah Kau Tuhan yang pencemburu?"
Singkat, jelas, dan padat, Ia menjawab sederhana, "kalau aku pencemburu, sudah kumusnahkan semua manusia seisi dunia yang bebal dan tak tau adat ini!" Lalu Ia tertawa cukup lepas. Rupanya tidak, Ia sama sekali bukan Tuhan pencemburu seperti yang dikatakan orang. Bahkan Tuhan yang sebenarnya memandang tragedi kesalahkaprahan manusia menyembah Tuhan-Tuhan palsu menjadi hal lucu untukNya.
***
Melihat Ia tertawa lepas aku langsung kembali dari perjalananku dalam pemikiran. Aku langsung menyadari keberadaanku, kembali lagi ke dalam diriku yang tengah terduduk di lantai bersama Tuhan. Bersama Tuhan! Ada Tuhan di hadapanku. Benar-benar Tuhan dan bukan sekadar tulisan, patung, ukir-ukiran, ataupun segala rupa hal lain yang terwakilkan oleh bentuk atau cuap-cuap para pemuka agama. Tuhan ada di sini bersamaku. Aku menjadi sedikit merasa konyol dan menjadi canggung lagi. Bagaimana sikapku seharusnya pada Tuhan? Apakah memberi setengah bungkus biskuit coklat, rokok, dan air putih sudah cukup sopan untuk menyambut kedatangan Tuhan? Atau harus kulakukan yang lain? "Apakah aku, dan manusia lain, ... perlu berdoa kepadaMu, Tuhan?"
"Untuk apa? Manusia sendiri yang mengatakan bahwa aku maha tau. Tentu, kalau aku mau, aku tau apa yang ingin kau ucapkan dalam doa."
"Memang... tapi berdoa padaMu kan belum tentu berarti meminta sesuatu. Bisa juga manusia berdoa untuk berterimakasih kepadaMu... mengekspresikan..."
Sekali lagi kata-kataku dipotong ketika aku belum selesai bicara, "tetap saja, untuk apa? Kau mau meminta, berterimakasih, curhat, atau mengutukku sekalipun, aku toh sudah tau apa yang hendak kau katakan. Lalu untuk apa lagi kalian membuatku sibuk dengan segala ocehan kau dan semua mahluk manusia di dunia? Bisa dikatakan kalian justru menghinaku kalau masih tetap saja berdoa padaku. Seperti memberitahukan sesuatu kepada seseorang bahwa besok matahari akan terbit di Timur, yang mana jelas-jelas sudah diketahui oleh orang itu. Apakah orang yang memberitahu itu menganggap yang diberitahu sedemikian gobloknya sehingga tidak tau apa yang diberitahukannya?"
Kata-kataNya menyeretku kembali ke dalam jalan-jalan pemikiran yang membuatku termenung-menung. Benar juga apa yang diucapkanNya, memang tidak perlu berdoa. Tetapi kalau begitu, kalau Tuhan sungguh maha tau sehingga kita tidak perlu lagi berdoa padaNya untuk memberitahukan apa yang jelas semestinya sudah diketahuiNya, mengapa ia masih perlu memberi ujian atau cobaan kepada manusia? Tetapi tunggu, apakah Ia memang mencobai manusia? "Tuhan, apakah Kau mencobai manusia?"
"Mencobai? Kata-kata macam apa itu?? Apa maksudmu?"
Ia mengatakan 'mencobai' dengan nada dan ekspresi yang menunjukkan kejijikan. Tiba-tiba aku heran juga, bagaimana Ia dapat mengaku bahwa Ia maha tau, sementara Ia tidak mengerti apa yang kukatakan ini, sepotong kata sederhana sesederhana 'mencobai'? Tetapi biarlah itu nanti saja akan kutanyakan. Satu per satu.
"Maksudku memberi ujian, memberi cobaan pada manusia...?"
"Sepertinya kau yang sedang ... mencobai ... aku. Kan sudah kukatakan aku maha tau. Tanpa ... mencobai dirimu pun aku sudah tau bagaimana itu dirimu, dari ujung kuku jempol kakimu, hingga sejentik ketombe di pucuk rambutmu. Kau jangan bawa-bawa ajaran sesat tentang Tuhan agama-agama itu, itu semua kebohongan. Tuhan yang dikatakan nabi-nabi itu mesti saja sungguh dablek, apa gunanya lagi mencobai manusia yang - katanya - ia ciptakan sendiri kalau ia memang benar-benar maha tau, sehingga semestinya ia tau segala sesuatu tentang manusia itu. Iya kan?"
Sebelum sempat aku mulai berpikir lagi, Ia sudah menambahkan, "dan Tuhan palsu itu, yang sekarang dikenal, merasa perlu menyuruh seorang nabi membantai anaknya sendiri, hanya untuk mengetahui kadar iman dan kesetiaannya. Dan Tuhan palsu itu juga mengirimkan azabnya kepada berjuta-juta manusia di muka bumi, dalam bentuk kelaparan, penyakit-penyakit, kematian, kemelaratan, penderitaan, semua itu hanya untuk sekadar 'mencobai'? Aku tak habis pikir bagaimana Tuhan yang semacam itu dapat disebut Tuhan? Yang maha tau pula!" Terdengar ekspresi kejijikan yang sama setiap kali Ia mengucapkan kata 'mencobai'.
Selain tidak membutuhkan doa-doa dari manusia, rupanya Tuhan yang tampak nyenterik ini tidak juga memberi cobaan pada manusia. Karena Ia maha tau, katanya. Tapi tadi Ia sendiri kebingungan tentang kata 'mencobai' yang kuucapkan. Bagaimana mungkin Ia maha tau, kalau begitu? Tapi sekali lagi itu nanti saja, ada satu hal lain yang harus kutanyakan dulu kepadaNya. Tuhan, yang sesungguhnya, memang tidak ... mencobai (aku pun menjadi agak jijik dengan kata itu) manusia, tetapi bagaimana dengan setan dan iblis yang melakukan dan menyebabkan segala yang jahat di muka bumi? "Apakah setan dan iblis itu ada, Tuhan?"
"Ah itu pun bohong, para nabi-nabi yang dungu itu cuma membutuhkan kambing hitam saja untuk segala keburukan. Mereka mati-matian berusaha untuk menjaga supaya nama Tuhannya, yang palsu itu, tetap bersih suci, maka mereka limpahkan segala yang buruk kepada setan dan iblis. Sesungguhnya justru, berbeda dengan yang dikatakan oleh para nabi-nabimu, semestinya aku dan iblis adalah satu, tidak terlepas dan terpecah menjadi dua seperti yang mereka percaya."
Ia ambil botol air mineral, membuka tutupnya, dan menempelkan lobangnya ke mulut. Seperti kehausan karena telah tanpa henti berbicara menjawab pertanyaan demi pertanyaanku, Ia minum cukup banyak, berteguk-teguk air meluncur melalui tenggorokanNya dengan bersuara. Aku dapat mendengarnya.
Setelah selesai, sambil menutup kembali botol air minumku, Ia seka mulutNya dengan lengan kaos oblongNya, dan segera melanjutkan, "aku ini Tuhan, dan karena aku Tuhan, aku mesti mencakupi segala sifat dan keadaan yang ada, baik atau buruk. Aku bukan hanya maha yang positif, maka aku pun mesti maha yang negatif, demikian barulah aku dapat dikatakan sebagai Tuhan. Manusia sendiri yang mengatakan, Tuhan adalah maha segalanya. Jadi jika salah satu sisi telah dipecah dan dipisahkan kepada pihak yang lainnya, maka jadilah aku Tuhan yang cacat, yang tidak lagi maha segalanya, dan oleh karena itu bukan lagi merupakan Tuhan." Ia berhenti sebentar seperti memeriksa kembali apa yang sudah dikatakanNya, kemudian baru berkata "kau mengerti tidak?"
Aku mengangguk-angguk mendengarkan jawabanNya, bahkan sesudah Ia selesai bicara pun aku masih mengangguk-angguk, dengan hanya sekilas mengucap "ya... ya..." karena disibukkan oleh pikiran yang tengah mengaduk pikiranku. Pemikiran tentang Tuhan yang baru saja diperkenalkan kepadaku oleh Tuhan sendiri. Bahwa Tuhan yang maha segalanya semestinya juga mencakupi baik dan buruk, positif dan negatif, besar dan kecil, segalanya, dan oleh karena itu pemisahan segala sifat yang negatif ke dalam diri iblis, setan, atau siapapun itu justru akan membuat Tuhan itu sendiri menjadi tidak lagi sempurna, tidak lagi maha segalanya. Hampir tanpa sadar, mengikuti pikiranku itu, aku menggumam, "jadi, ... Kau maha segalanya?"
Dan Ia hanya menjawab dengan penuh optimisme, "Kalau tidak demikian aku tidak disebut Tuhan!"
***
Dengan segera topik tentang kemahaanNya itu membuatku terpikir, semestinya Ia juga maha adil! Lalu bagaimana dapat segala ketidakadilan dan kehancuran dunia sekarang ini terjadi? Mengapa Ia tidak memperbaikinya, atau setidaknya membuatnya jadi lebih baik, atau menunjukkan batang hidungnya dan mengatakan dengan tegas apa yang Ia kehendaki? Aku memutuskan untuk menanyakan hal itu kepadaNya, tetapi dengan perlahan-lahan.
"Tuhan, berarti Kau maha adil juga?"
"Perlu ditanya? Tentu saja!"
"Lalu... maaf... tapi kalau Kau maha adil, bagaimana dunia ini dapat menjadi dunia yang sangat tidak adil seperti sekarang? Yang dipenuhi dengan kejahatan dan pembunuhan, yang rusak berantakan, dan sangat amburadul...?"
Aku mengatakannya dengan sedikit hati-hati, secara tidak sadar aku takut Ia sampai marah atau tersinggung karena pertanyaanku. Tetapi ternyata Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalaNya dengan ringan, dan kemudian sambil berkata "ck.. ck.. ck.. kau belum mengerti juga ya?"
Ia menatap ke lantai dan mematikan rokok yang sejak tadi sudah tidak lagi dihisapNya, lantas berbicara "justru itu intinya. Aku ini maha adil, dan oleh karena itu aku tidak dan tidak dibenarkan dan tidak dapat memihak kepada pihak yang manapun yang ada. Aku harus membiarkan segalanya terjadi tanpa campur tanganku, keadilanku adalah keadilan yang utama, keadilanku benar-benar merupakan suatu kenetralan absolut, di mana aku tak menghadirkan diriku di mana pun, bahkan aku tak ambil peduli terhadap apapun, bagaikan bahwa aku ini tidak ada."
Kali ini apa yang dikatakanNya agak sulit untuk kucerna, tetapi perlahan-lahan dapat juga kumengerti. Ia maha adil justru karena Ia tidak memihak kepada apapun, entah itu baik atau pun buruk, maka dengan demikian segalanya terbebas dan mesti Ia bebaskan dari campur tanganNya, membiarkan segalanya mengalir dan terjadi tanpa Ia perlu dan boleh ambil perduli. Ia maha adil karena Ia maha segalanya, dan dengan demikian Ia menjadi sungguh netral secara absolut dalam arti yang sesungguhnya.
***
Berarti semestinya... "Tuhan... kalau Kau tidak memihak kepada sisi yang manapun, berarti Kau pun tidak memaksakan... atau katakanlah meminta manusia untuk melakukan perbuatan baik?"
"Tentu saja tidak. Itu kan Tuhan dongeng, yang dikatakan para nabi-nabi itu. Sementara aku nggak begitu. Aku nggak ngancem, juga nggak minta-minta kau melakukan perbuatan apapun. Sakarepmu dhéwék!"
"Bagaimana dengan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan manusia, Tuhan? Seperti memperkosa, merampok, membunuh, ... perang, penindasan, dan lain-lain... apakah Kau akan menghukumnya?"
"Kau sebut apa itu tadi segala macem memperkosa, merampok, membunuh, dan lain-lain?"
Kujawab "... perbuatan buruk..." dengan sedikit ragu dan sekaligus dengan nada yang seperti sebuah nada untuk bertanya.
"Nah itu udah tau. Buruk. Semestinya yang buruk ndak usah dilakukan, toh? Aku ngga ambil pusing dengan apa yang kalian lakukan di sini. Sabodo teuing."
Setelah mengatakan yang terakhir itu, tiba-tiba Ia mengangkat punggungNya yang sebelumnya disenderkan di lemari. Ia ambil botol air mineral dan minum kembali. Kali ini sedikit. Setelah selesai minum, sambil menutup botol Ia berkata "sudah ya, aku mau tidur dulu. Capek nih!"
Aku tergagap-gagap melihatnya perlahan-lahan meletakkan botol air mineral ke lantai. Ada sesuatu yang belum kutanyakan, tetapi aku agak sulit untuk mengingatnya. Ada yang terlupakan yang kutunda sebelum aku sempat bertanya. Aku merasakan keterburu-buruan untuk mengingat, hingga tiba-tiba aku teringat dan berkata dengan cukup keras "Oh! ... Tuhan! Ada yang belum kutanyakan... kalau Kau maha tau, kenapa sepanjang percakapan kita sepertinya Kau... tidak maha tau... setidaknya Kau tidak tau tentang kata 'mencobai'...?" Keningku terasa berkerut ketika menanyakannya.
"Ah. Kau tak punya rasa humor!" Hanya itu jawaban yang kemudian Ia berikan, sebelum tiba-tiba setelah mataku terbuka dari sebuah kedipan yang amat singkat, Ia telah menghilang, berubah bentuk menjadi seekor kecoak di sudut lemari pakaianku, di atas lantai.
Aku merangkak ke depan perlahan-lahan, dan bertanya, "Tuhan, apakah kita akan bertemu lagi?"
Sambil membalik arah tubuhNya menuju ke almari, dan entah bagaimana menurutku Ia tengah tersenyum lebar, Ia menjawab, "itu rahasia ilahi."
Setelah itu Ia mulai bergerak perlahan, dengan tanpa suara menyelip masuk ke kolong lemari pakaianku, menghilang di dalamnya.
***
Itulah pertama dan terakhir kalinya aku bertemu dengan Tuhan. Ketika Ia berjalan memasuki kolong lemari pakaianku, sebagai seekor kecoak, adalah terakhir kalinya aku melihatNya.
Sekarang telah berselang dua hari sejak kejadian itu. Sepanjang dua hari ini aku sering sekali terbengong-bengong memikirkan apa yang terjadi di subuh hari dua hari kemarin, yaitu bahwa Tuhan telah datang ke dalam kamarku, sebagai seekor kutu, yang kemudian menjadi manusia, dan terakhir menjadi kecoak. Tuhan bukan hanya datang, tetapi juga berbicara dan mengobrol denganku, menghisap dua batang rokokku, minum dari botol air mineral milikku, Ia juga bahkan makan biskuit coklatku, yang tinggal setengah bungkus itu.
Selama dua hari ini aku hampir-hampir tidak dapat percaya pada apa yang kualami. Tetapi bagaimana aku dapat tidak percaya, jika ada tiga batang puntung rokok yang tergeletak di dalam asbakku, dan juga kini biskuit coklatku telah habis tanpa sisa. Dan yang membuatnya demikian, maksudku yang menghisap rokok yang dua batang, dan yang memakan biskuit coklatku, siapa lagi kalau bukan Tuhan.
Aku sungguh-sungguh bingung. Aku tak tau harus bagaimana. Bahkan aku tidak tau apakah sebaiknya kuceritakan hal ini kepada orang lain. Kepada pacarku sendiri aku belum menceritakannya. Tidak juga kuceritakan tentang berbagai macam hal yang Tuhan ceritakan kepadaku. Tetapi bagaimanapun aku harus menceritakan hal ini kepada seseorang. Seseorang yang kupercayai dan dapat memberiku pendapat yang benar.
Setelah berpikir demikian, aku segera menghubungimu lewat telepon, aku akan membuat janji untuk bertemu denganmu. Tetapi ternyata kau sedang pergi dan baru akan kembali tiga hari ke depan. Maka kuputuskan untuk menuliskan terlebih dahulu semua ini, agar ingatan-ingatanku tentang perjumpaan dengan Tuhan dua hari yang lalu itu masih jernih di dalam benakku.
Yang kuharapkan adalah profesimu sebagai psikiater dapat memberi masukan-masukan dan pendapat yang berharga untuk apa yang kualami. Setelah ini aku akan meletakkan surat ini di meja kerjamu di Rumah Sakit Grogol, mohon kau dapat menghubungiku dengan segera setelah kau pulang dan kembali bekerja. Terimakasih.
Kawanmu.
Sebenarnya aku lebih suka bicara langsung denganmu, muka berhadapan dengan muka, supaya kau dengar apa yang kukatakan langsung dari mulutku. Tapi apa mau dikata, aku ada di sini dan kau ada entah di mana, sementara apa yang mau kukatakan jelas sudah harus kukatakan sekarang juga. Maka sekarang kau sedang baca tulisanku. Anggaplah ini kata-kataku, walaupun jelas beda dan orang tolol manapun mesti bisa membedakan antara tulisan dan perkataan. Tapi anggaplah ini kata-kataku, karena aku tak bisa mengatakannya langsung padamu, sementara apa yang mau kukatakan sudah sangat mendesak sifatnya.
Begini. Aku bertemu Tuhan!
Ya. Tuhan. Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, yang maha tau, maha adil, dan maha segalanya. Tuhan yang menciptakanmu, menciptakan aku, dan menciptakan segalanya. Sungguh-sungguh Tuhan yang sesungguhnya Tuhan.
Aku bertemu denganNya dua hari yang lalu ketika pagi subuh-buta. Pukul berapa tepatnya aku tak ingat lagi, yang jelas ayam tetangga belum mulai meracau dan keponakan induk semangku belum mulai menyapu lantai. Mungkin sekitar pukul empat, tapi sudah kubilang aku tak tau pasti. Langit waktu itu masih gelap dan udara kota terkutuk ini sedang dingin-dinginnya, tidak ada siapapun yang masih atau sudah melek sepagi itu. Hanya aku sendirian di dalam kamarku, membaca buku, dan sedikit terkantuk-kantuk.
Masih ingat betul, aku baru saja mulai membaca halaman seratus tujuh puluh dua waktu itu, ketika tiba-tiba seekor kutu buku muncul di antara lipatan di bagian tengah buku. Merayap-rayap menuju halaman seratus tujuh puluh tiga. Tidak ada yang aneh dengan kutu itu, persis sama seperti kutu-kutu lainnya yang pernah kulihat. Baru saja aku hendak menyentilnya, tiba-tiba ia bersuara. Awalnya aku tak mengerti apa bunyinya, kukira cuma sekadar suara, walaupun aneh juga seekor kutu bisa bersuara seperti itu. Setelah mencoba mendengarkan lebih teliti baru aku mengerti, ia berkata "tunggu! Tunggu dulu! Hei! Aku ini Tuhan!"
Jangan salah sangka, aku tidak langsung begitu saja percaya pada apa yang dikatakannya. Bahkan aku tidak langsung percaya pada apa yang kudengar. Bahwa seekor kutu bisa berbicara. Seekor kutu, berbicara? Mengaku Tuhan pula? Aku justru mengira aku sudah terlalu mengantuk dan linglung sampai bisa mendengar seekor kutu berbicara denganku.
Tetapi ia mengajakku bicara lagi. "Woi. Dungu! Kau tak dengar? Aku Tuhan!"
Aku langsung tersentak dan secara reflek menutup buku yang sedang kupegang, menjepit si kutu di antara halaman seratus tujuh puluh dua dan seratus tujuh puluh tiga. Rasa kantukku langsung menghilang, bahkan menjadi sangat segar. Setelah yakin aku memang sungguh-sungguh sadar dan tidak sedang bermimpi, kubuka lagi buku itu.
Maka muncullah sang kutu yang tampak kejengkang tak karuan. Ia segera berdiri dan pertama-tama menghardikku dengan keras, "goblok!" Aku hanya terbengong-bengong memperhatikan kutu yang kemudian celingak-celinguk memeriksa bagian samping dan belakang tubuhnya, persis seperti orang yang merasa ada permen karet menempel di pantat celananya. Setelah selesai baru ia menengadah lagi tepat ke arah mataku, bagaikan bertolak pinggang ia memperkenalkan diri "aku Tuhan. Siapa namamu? Santai aja, gak perlu tegang begitu."
Yakinlah aku, bahwa kutu itu memang berbicara, ia berbicara padaku. Tetapi ia mengaku Tuhan. Kutu yang berbicara, walaupun tidak masuk akal, akhirnya bisa kuterima karena bagaimanapun aku memang mendengarnya berbicara. Tapi ia mengaku Tuhan. Kutu buku yang mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan! Sungguh di luar akal sehat manusia yang sehat lahir dan batin seperti diriku.
Kuputuskan untuk mengajaknya berbicara, karena aku menjadi sangat ingin tau, kutu macam manakah yang bukan saja - sekali lagi di luar akal sehat - dapat berbicara, melainkan juga mengaku sebagai Tuhan.
***
"Kau Tuhan?" Aku memulai perkataanku. Dan aku sungguh merasa sangat tolol ketika memulai pembicaraan itu. Bayangkan saja, berbicara dengan seekor kutu, yang mengaku Tuhan pula! Orang gila pun mungkin tak sudi melakukannya. Tapi kutu ini memang berbicara, dan ia memang mengaku Tuhan. Maka walaupun rasa ketolol-tololan itu menyengatku hingga ke ubun-ubun, kulanjutkan juga pembicaraan itu. "Ke mana saja kau selama ini? Mengapa baru sekarang kau muncul lagi?"
Dengan suara yang datar dan berkesan dilambatkan kutu itu justru berkata, "tadi kutanya siapa namamu. Dan kau belum menjawabku." Kujawab dengan suara yang datar pula karena, kau tau, memberitahu namaku ke seekor kutu adalah puncak dari ketololan yang kurasakan. Setelah itu baru sepertinya ia merasa puas dan melanjutkan kembali.
"Aku ini Tuhan. Aku ada dan selalu ada. Aku tidak pernah pergi. Dan aku pun selalu berusaha berkomunikasi dengan orang-orang, tapi pada umumnya mereka terlalu dungu, atau banyak dari mereka segera dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa."
Pantas saja mereka segera dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa. Bagaimana tidak, di mana di dunia ini ada orang waras yang berbicara dengan seekor kutu yang mengaku Tuhan. Tetapi tampaknya itu sebuah kesalahan. Karena tepat di pagi hari itu ternyata aku sedang berbicara dengan seekor kutu, yang nyata-nyata mengaku bahwa dirinya Tuhan. Dan jelas aku adalah seorang waras.
"Mengapa kali ini kau memilihku untuk berkomunikasi, kutu - maksudku Tuhan?"
Sambil mengusap tangan-tangannya, kepala, dan badannya secara bergantian, yang mana membuatku sekilas berpikir, bahwa kutu yang mengaku Tuhan ini pesolek juga sifatnya, ia menjawab enteng, "sederhana saja, karena kau tak terlalu dungu. Tapi juga tak terlalu cerdas."
Setelah menjawab, ia mulai berjalan ke tepian buku, menengok ke belakang ke arahku dan berkata "turunkan aku."
"Ha?" Aku tidak mengerti, jelas jidatku berkerut dan mulutku celangap sambil menatap si kutu yang masih menengok ke arahku. Dengan tidak sabar dan hampir memotong ucapanku ia berkata "turunkan aku. Ke lantai!"
Maka kuturunkan buku yang sejak awal tadi masih kupegang di depan dadaku. Ia mulai merayap turun dan menjauh dari buku yang kini tergeletak di lantai di depanku. Setelah berjarak kira-kira satu meter dari tempatku duduk ia mulai berhenti dan merapat ke tepi lemari pakaianku, kemudian dalam satu kejapan mata yang kulakukan, telah muncul seorang manusia di tempat itu menggantikan sang kutu.
Aku terkaget-kaget dan terperanjat, mundur dari tempatku duduk di lantai, dan hampir bangun karena ternyata di belakangku adalah dinding. Di depanku duduk seorang manusia yang berusia kurang lebih sama denganku. Rambutnya kering dan tidak terlalu tercukur rapi, kulitnya coklat, matanya tampak agak lelah, pakaiannya berupa jubah hitam - seperti jubah yang digunakan oleh pendeta-pendeta Kristen zaman dulu, berlengan panjang dan bagian bawahnya menerus hingga kaki seperti daster.
Ia menatapi pakaiannya sendiri seperti menimbang-nimbang, kemudian menatapku yang masih membeku dalam posisi setengah jongkok dan setengah duduk. "Maaf. Salah." Ia tersenyum singkat, dan ketika mataku berkejap sekali lagi, pada saat mataku membuka ia telah berganti pakaian. Ia mengenakan kaos oblong dan celana panjang katun polos berwarna putih. Sekali lagi ia menatapi pakaiannya, tampak puas, dan balik menatapku. "Ada rokok?"
Setelah menelan ludah dan mengambil rokok di sampingku tanpa melepaskan pandangan darinya, kusodorkan rokok sekaligus dengan koreknya. Ia ambil sebatang, menyalakannya dengan sebuah isapan panjang, menariknya ke dalam paru-paru, dan menghembuskannya dengan puas sambil menyandarkan punggungnya ke lemariku. Kakinya diselonjorkan, yang kanan diletakkan di atas yang kiri. Aku perlahan-lahan mulai duduk kembali, tetapi tetap tidak melepaskan pandanganku yang jelas dipenuhi dengan keheranan. Ia hisap lagi rokoknya dan menghembuskan asapnya sambil mengambil asbak yang ada di antara kami berdua, kemudian ia kembali pada posisinya semula dan menatapku sambil tersenyum tipis. "Nah. Sepertinya ada yang hendak kau tanyakan?"
***
Mulutku masih celangap, tetapi perlahan-lahan aku mulai menguasai diriku. Baik, kutu - yang mana sekarang telah berubah menjadi seorang manusia - di hadapanku ini adalah Tuhan. Menyaksikan apa yang dilakukanNya, aku tak dapat berpikir lain selain bahwa Ia memanglah Tuhan yang sesungguhnya. Hanya saja hal ini terlalu tiba-tiba, dan tidak perlu dipertanyakan lagi, aku tidak terbiasa untuk - karena memang aku tidak pernah - duduk berhadap-hadapan dan bicara langsung dengan Tuhan, yang kini sedang duduk selonjoran sambil asik merokok di hadapanku. Dan tingkah lakuNya itu membuatku ragu kalau Ia adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan yang selama ini dibicarakan orang-orang. Yang jelas aku tau, di kitab suci manapun tidak pernah diceritakan tentang Tuhan yang merokok dan berkaos oblong, terlebih lagi Tuhan yang menyamar menjadi kutu.
"Baik. Kau Tuhan. Apakah Kau Tuhan yang dikenal selama ini?" Agak terbata-bata aku menanyakannya sesudah beberapa kali menelan ludah dan mencoba untuk membuat otot-ototku menjadi lebih santai.
Seakan-akan Ia benar-benar tidak mengerti, Ia langsung menjawab, "Tuhan yang mana? Tidak ada Tuhan yang lain. Tuhan ya cuma aku."
"Maksudku Tuhan yang sekarang ini diimani oleh orang-orang beragama."
"Ah, bohong itu! Nggak bener. Wong Tuhannya aku."
Sedikit bingung karena seakan-akan menjadi ada dua Tuhan yang mengaku dirinya adalah Tuhan, atau bahkan lebih dari dua Tuhan yang mengaku Tuhan, aku terdiam sambil berusaha berpikir tentang hal itu. Kemudian mataku terarah kepadaNya lagi ketika Ia kembali menyambar, "yang Tuhan itu aku. Yang lain bohongan. Maksudmu yang disembah-sembah oleh orang-orang dari zaman dulu sampai sekarang, di dalam rumah-rumah ibadah itu toh?" Aku menganggukan kepala tapi tak berkata apa-apa. "Ya itu dia. Bohong itu. Aku ndak pernah minta disembah kok. Aku juga nggak ngerasa aku disembah. Entah apaan yang mereka sembah, yang jelas bukan aku."
Aku berusaha berpikir lagi, meneruskan pikiranku yang terpotong oleh kata-kataNya. Tapi yang terpikirkan cuma bahwa agama-agama itu mengatakan mereka menyembah Tuhan, kalau sekarang Tuhan ada di hadapanku, seharusnya tentu saja yang mereka - orang-orang agama itu - sembah adalah Tuhan yang ada di hadapanku ini. Tuhan. Maka kukatakan pikiranku itu, "tetapi mereka bilang mereka menyembah Tuhan," aku terdiam sebentar, "kalau Kau adalah Tuhan, berarti mereka menyembahMu. Kan?"
"Enggak. Udah kubilang aku nggak minta disembah. Dan yang mereka sembah itu bukan aku. Lagipula aku nggak seperti yang mereka omongin dan nggak seperti yang mereka tulis-tulis itu kok."
"Tapi mereka bilang mereka menyembah ..." belum selesai kata-kataku Ia sudah berkata "mereka bilang begitu. Tapi mereka tau dari mana kalo mereka bener-bener nyembah aku?"
"Kitab suci bilang begitu. Semua kitab suci bilang agamanya menyembah Tuhan."
"Lha ya tau dari mana itu kitab suci isinya bener?"
"Nabi-nabi penulisnya mendapat wahyu...," sempat sedikit ragu untuk meneruskannya, "dariMu..."
"Kukasih tau, aku tidak memberi wahyu apa-apa pada mereka! Kenalpun tidak. Jadi mereka bukan bicara tentang aku."
Aku terbengong-bengong. Walaupun aku bukan seorang religius, tetapi tetap saja kenyataan ini membuatku terbengong-bengong. "Berarti... apa yang dikatakan kitab suci itu bohong, nabi-nabinya pun bohong, agamanya bohong, dan umat-umatnya semua dibohongi...?"
"Ada kemungkinan apa lagi? Kalau bukan bohong ya gila."
Sejujur-jujurnya aku masih bingung juga. Logikaku sulit untuk langsung menyocokkan apa yang dikatakanNya dengan apa yang selama ini dikatakan oleh orang-orang. Setelah berpikir sebentar, aku bertanya lagi, "apakah Tuhan memang cuma Kau, atau masing-masing agama itu menyembah Tuhan yang lain, tetapi bukan Kau?"
"Aduh! Jangan-jangan semua manusia memang dungu. Kau pun mulai menjadi dungu. Kukatakan Tuhan itu cuma aku. Tidak ada Tuhan yang lain selain aku. Begitu ada orang yang mengaku menyembah Tuhan, berarti dia bohong, atau tertipu, karena dia bukan menyembah aku. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang menyembahku." Ia menghisap rokoknya, menjentikkan abunya di asbak dan meneruskan, "lagi pula kau tak melihat kekonyolan itu? Orang-orang dungu itu punya banyak agama untuk menyembah Tuhan, lantas maksudnya ada banyak Tuhan dengan banyak cara menyembah, atau ada banyak Tuhan dengan cuma satu cara menyembah yang benar, ..." Ia berhenti, menghisap rokok lagi, "atau ada satu Tuhan dengan banyak cara menyembah, atau ada satu Tuhan dengan cuma satu cara menyembah yang benar?"
Asap rokok keluar dari mulutNya ketika Ia mengucapkan potongan kalimat yang terakhir itu, dan sesudah selesai berucap Ia hembuskan semuanya sambil menatapku dengan dalam, membuatku kembali berpikir-pikir. Lagi-lagi, belum selesai aku berpikir Ia sudah meneruskan, "bagaimanapun yang sesungguhnya, tau dari mana kau bahwa apa yang dikatakan oleh agama-agama itu, dengan kitab-kitab mereka, adalah benar adanya? Lebih tepatnya, tau dari mana kau, bahwa apa yang tertulis di kitab itu adalah sebuah kebenaran? Kitab-kitab yang ditulis ribuan taun lalu, oleh orang-orang yang sama sekali tak kau kenal, yang hanya mengatakan bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Kau tau dari mana?"
Aku hanya dapat mengangguk-angguk, sambil perlahan-lahan mencerna apa yang dikatakanNya barusan, satu demi satu, sambil berharap kali ini pikiranku tidak Ia potong lagi.
***
Kalau Tuhan yang sesungguhnya, yang sedang duduk selonjoran di hadapanku ini bukanlah Tuhan seperti yang dikatakan oleh agama-agama, maka Tuhan seperti apakah Dia? Rasa ingin tahuku tergelitik karena menyadari bahwa ternyata manusia, selama entah berapa ribu tahun, telah mengenal Tuhan yang sama sekali salah, dan Tuhan yang sesungguhnya tepat berada di hadapanku. Kalau cerita yang dikatakan oleh agama-agama itu tidak benar, maka bagaimana cerita yang sesungguhnya?
"Tuhan, apakah Kau yang menciptakan Adam dan Hawa?", mulai kupancing Ia agar bercerita.
"Siapa lagi itu? Manusia dungu lainnya?"
"... dua manusia pertama yang... katanya... diciptakan oleh Tuhan..."
"Kalau Tuhan yang disebut-sebut oleh agama-agama itu sudah salah, maka yang lain-lainnya yang dikatkannya juga pun mesti salah. Jadi siapa itu Adam dan Hawa aku tidak tau menahu, tepatnya tidak ada itu dua manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan. Aku tidak pernah menciptakan dua manusia dungu pertama itu."
"Berarti cerita penciptaan alam semesta selama tujuh hari pun tidak benar?"
"Tentu saja tidak. Mungkin itu cuma dongeng sebelum tidur untuk anak-anak kecil dua atau tiga ribu tahun lalu, yang kemudian diadaptasi menjadi cerita resmi, oleh orang-orang cerdas yang penipu. Atau gila. Dan diimani oleh orang-orang dungu, yang saling mendungui orang lainnya."
Baru saja aku hendak menanyakan hal yang lainnya, Ia melanjutkan, "Bahkan bahwa dunia ini bulat dan matahari adalah pusat tata surya saja orang-orang dungu itu tidak tau. Apa yang kau harapkan dari mereka, suatu pengetahuan tentang asal muasal dunia? Non sense!"
Sesudah Ia berhenti berbicara baru kukatakan, "cerita tentang buah terlarang juga dongeng...? Dan dosa asal juga dongeng...?" Sedapat-dapatnya kuusahakan supaya apa yang kuucapkan itu tidak terdengar seperti pertanyaan, karena semestinya memang itu tidak perlu ditanyakan lagi. Tetapi aku ingin dengar dari mulutNya sendiri, aku ingin sungguh-sungguh mendengar suatu konfirmasi bahwa itu memang bohong.
"Itu kau tau!" Ia berkata sambil menunjuk singkat ke arahku dengan rokok yang tinggal setengah di tanganNya dan menghembuskan asap dari mulutNya. "Jelas dongeng. Manusia yang dungu-dungu saja bisa menciptakan lemari besi, kalau aku yang sungguh berada di sana waktu itu, tentu saja buah jahanam itu sudah kumasukkan ke dalam lemari besi. Apa susahnya? Lebih masuk akal lagi kalau aku tidak usah repot-repot menciptakan buah yang tidak boleh dimakan, dipajang mentereng di tempat umum pula. Tuhan yang ada di dongeng itu mesti dimaksudkan sebagai Tuhan yang dungu seperti kalian-kalian manusia ini." MataNya dialihkan dari arahku ke arah yang lain sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ngaku Tuhan kok dungu... setidaknya aku tak akan sedungu itu."
Seperti teringat akan sesuatu, Ia tiba-tiba melanjutkan lagi. "Dan soal dosa asal. Itu pun gila. Yang makan buah kan cuma dua manusia dungu itu, tapi semua anak-cucu-cicitnya ikut kena akibat, sampai kau yang dungu itu di hari ini pun kena akibat buah sinting itu. Sungguh dongeng yang dungu tentang Tuhan yang dungu, yang dipercayai oleh orang-orang dungu."
Berarti Ia sesungguhnya tau tentang cerita-cerita itu, tetapi dari nada bicara dan gerak-gerikNya, aku merasa Ia menjadi semakin dan semakin emosional. Seperti mengeluarkan suatu ketidaksukaan yang telah lama dipendamNya. Dan oleh karena itu aku tidak dapat berkata-kata, Ia menjadi seperti orang tua yang sedang ngedumel pada anaknya. Terlebih lagi kalimat yang Ia ucapkan sesudahnya, terdengar lebih pelan, seperti berbicara dengan diriNya sendiri, tetapi jelas Ia ingin aku mendengarkannya.
"... katanya maha tau, mestinya udah tau itu buah bakal dimakan, ya tetep aja diciptain, tetep aja dipajang di depan idung manusia dungu... Mana ada Tuhan sontoloyo kayak begitu... Cerita bohong. Cerita bohong tentang Tuhan yang dungu..."
***
Kubiarkan dulu Ia menenangkan emosiNya yang mungkin baru sekarang dapat Ia keluarkan setelah sekian lama. Aku duduk diam memperhatikanNya tanpa terlepas, perlahan-lahan bergerak mengambil rokok dan korekku yang ada di sampingNya. Ia melirik dan kemudian menatapku sekilas, Ia dorong benda itu ke arahku. Kuambil sebatang dan kunyalakan. Kami berdua merokok sekarang. Bayangkan! Aku merokok bersama Tuhan, di kamar kosku.
"Ada makanan apa di sini?" Ia tiba-tiba bertanya sambil menatapku. Ia tampak lebih tenang sekarang, tidak dikuasai lagi oleh emosiNya. Pikiranku bergerak lambat mengingat makanan apa yang masih tersisa. Hanya sebungkus biskuit coklat yang sebagian sudah kumakan. Aku bangun dari dudukku, berjalan melintas di depanNya untuk mengambil biskuit itu. Aku berjalan dengan agak kikuk, perasaanku aneh, menyadari aku tengah berjalan berdiri lebih tinggi di depan Tuhan yang kini duduk termenung-menung di lantai. Persis aku biasanya duduk, persis seperti bagaimana manusia pada umumnya duduk.
Biskuit dan sebotol air minum kuletakkan di lantai di dekatNya. "Cuma ini yang ada, sebagian sudah kumakan pula," berhenti sebentar kutambahkan, "maaf..." "Oh tenang aja. Gak apa-apa. Aku nggak lapar kok." Ia mulai membuka bungkusnya yang kulipat dan kurekatkan dengan solatip bening. Meletakkan isinya di lantai, mengambil sebongkah biskuit coklat, dan mulai makan.
Pertama Ia seekor kutu, kemudian manusia, lantas merokok, sekarang Ia makan biskuit coklat yang tinggal setengah bungkus. Pikiranku sulit berkonsentrasi melihat dan memikirkannya. Ini sungguh ajaib. Sungguh tidak masuk di akal. Tetapi Ia memang di sana di depanku, sedang makan sambil memegang rokokNya yang tinggal sedikit di tangan yang satunya. Manusia paling gila pun mungkin akan mengutukiku dan menganggapku gila jika kuceritakan tentang ini. Tapi sungguh, Ia ada di depanku, Ia sedang makan, dan aku sadar-sesadar-sadarnya. Kuharap kau pun tidak ikut menganggapku gila, aku menaruh harapan padamu, maka kutuliskan hal ini, supaya kau dapat membacanya. Aku harap kau mengerti, walaupun ini sulit dipercaya, dan aku pun mungkin tidak percaya jika kau yang menceritakan hal ini padaku. Tetapi tolonglah untuk percaya.
Jika kukatakan aku bertemu Tuhan yang sungguh agung bersinar-sinar dengan jubah putih berkilauan, berjanggut putih berambut gondrong yang juga putih, dengan tongkat di tangannya serta lingkaran halo di belakang kepalanya, kau boleh curiga bahwa aku cuma berbohong atau sedang ngelindur ketika aku mengalaminya. Tetapi justru yang bertemu denganku bukanlah Tuhan semacam itu, bukan Tuhan yang selama ini digambarkan atau tergambarkan oleh orang-orang. Ternyata Tuhan hadir sebagai seekor kutu, dan sekarang Ia manusia yang sedang makan biskuit coklatku, mengunyahnya perlahan-lahan, menelannya, dan menghisap lagi rokoknya.
Tuhan yang selama ini digambarkan, tuhan berjenggot dan berkilauan itu, sesungguhnya memang, tau dari mana para nabi-nabi itu bahwa Tuhan memang berwujud seperti itu, terlebih lagi, tau dari mana mereka bahwa yang mereka kenal adalah memang sungguh Tuhan. Seperti yang Tuhan - yang sesungguhnya - katakan padaku. Melihat tingkah lakuNya, mendengar ucapanNya, aku justru mulai percaya bahwa Dia yang duduk di depanku itu adalah Tuhan. Tuhan yang sebenarnya.
Melihat Ia sudah tenang kembali dan bahkan sedikit terhibur karena biskuit coklatku, aku mulai bertanya lagi, "Tuhan, apakah Kau menciptakan takdir?"
"Aku tak akan repot-repot mentakdirkanmu menjadi seorang pembunuh hanya untuk kemudian memasukkanmu ke dalam neraka. Aku yang mentakdirkanmu, tetapi aku juga yang menghukummu atas takdir yang kuberikan. Itu namanya nggak ada kerjaan. Perbuatan bodoh."
"Berarti manusia bebas melakukan apa yang diinginkannya?"
"Sederhananya begitu. Intinya aku tidak mau repot-repot menciptakan takdir untuk masing-masing daripadamu." Ia menutup ucapannya sambil mematikan rokok di dalam asbak.
Pikiranku serentak melayang-layang, membayangkan apa yang selama ini telah dipercaya oleh manusia sebagai takdir. Mulai dari tetanggaku yang percaya ia ditakdirkan untuk tidak lulus pada semester kemarin, kawan masa kecilku yang orang-orang percaya ia memang telah ditakdirkan seperti itu ketika ia meninggal tertabrak truk tronton, para presiden dan raja-raja yang percaya pada takdirnya sebagai raja, hingga bangsa-bangsa yang percaya pada takdir bangsanya masing-masing. Rupanya memang semua orang pun gila. Dan aku menjadi tidak terlalu khawatir kalau ternyata aku memang gila.
Terutama semua orang yang percaya takdir, memang sekarang menjadi nyata buatku bahwa mereka gila. Pamanku ditakdirkan jadi seorang pengedar obat-obatan, dan sesudah mati nanti ia akan diadili atas perbuatan yang telah ditakdirkan untuk ia lakukan. Itu sungguh konyol. Bagaimana pula dengan bangsa Israel yang selama ribuan tahun mempercayai bahwa ialah bangsa yang ditakdirkan untuk terpilih. Kalau bukan kegilaan mereka, berarti sekadar kebohongan belaka. Tetapi bagaimanapun, kata Tuhan, maksudku Tuhan yang sebenarnya yang sekarang duduk di depanku, Tuhan yang katanya memilih mereka itu adalah Tuhan bohongan. Berarti seperti apa pun ceritanya, mereka pasti pembohong, atau sekali lagi, gila.
Nah sekarang Tuhan yang sesungguhnya ada di depanku, ... apakah mungkin Ia kini ada di hadapanku karena Ia telah memilih bangsa ini? Aku membelalak sekilas karena memikirkannya. "Apakah bangsaku adalah bangsa yang terpilih, Tuhan?"
"Maksudmu? Aku tak memilih bangsamu. Kalau dapat memilih, aku memilih untuk meminta sebatang rokok lagi."
Aku tidak langsung mengerti dengan ucapanNya. Setelah mencernanya sejenak dan mengerti, langsung kusodorkan lagi rokok ke arahNya, dengan korek apinya sekaligus.
"Maksudku seperti cerita tentang bangsa Israel..."
Ia tak langsung menjawab, melainkan mengambil sebatang rokok dari dalam bungkus, memasangnya di mulut, dan menyalakannya. Kali ini dengan isapan-isapan pendek. Asap mulai mengepul-ngepul, menatap sekilas pada rokoknya, baru Ia menjawab. "Tuhan kok memilih satu bangsa di antara bangsa-bangsa lainnya. Yang kayak begitu itu ya cuma Tuhan karangan bangsa itu dhéwék, atau kalo emang ada yang seperti itu ya artinya itu Tuhan fasis!" Cara bicara dan mimik mukaNya benar-benar suatu ekspresi penghinaan. Seketika mimikNya berubah dan bertanya dengan nada rendah, "kau mau punya Tuhan fasis? Atau jadi korban fasisme Tuhan?"
Aku tak dapat menjawabnya. Lagi pula kupikir itu memang cuma sebuah pertanyaan retorik dariNya. PertanyaanNya kemudian Ia jawab sendiri, "kurasa kau tak akan mau. Dan aku pun tak mau menjadi Tuhan yang fasis, Tuhan yang keji."
***
Jadi sudah jelas, yang di hadapanku ini adalah Tuhan yang sesungguhnya, dan Ia tadi katakan bahwa cerita yang sesungguhnya bukanlah seperti cerita yang selama ini kita ketahui atau dengar. Bahkan Ia, Tuhan, bukanlah Tuhan seperti yang orang-orang katakan tentang Tuhan. Atau biar kukatakan begini, yang selama ini kita ketahui tentang Tuhan adalah salah, dan orang-orang agama itu selama ini tinggal menjadi objek penipuan para nabi-nabi mereka. Yang mereka omongin tentang Tuhan adalah salah, mereka tidak mengenal Tuhan yang sesungguhnya, dan cerita yang sebenarnya tidak seperti cerita-cerita di dalam kitab suci itu.
Lucu juga, bahwa manusia telah selama ribuan tahun berputar-putar dalam lingkaran kebohongan dan kegilaan akan Tuhan yang ternyata sama sekali salah. Sementara para nabi-nabi di zaman dahulu itu berbohong atau mengidap kegilaan, memang, manusia manakah yang akan tau bahwa mereka dulu berbohong, setelah ribuan tahun seperti sekarang. Kita tak akan tau apakah nabi-nabi itu berbohong, kita tinggal cuma bisa baca dari tulisan-tulisan di dalam kitab suci, tanpa tau apakah yang tertulis di dalamnya adalah kebenaran. Hanya percaya. Tidak lebih dari itu. Aku jadi tersenyum-senyum membayangkannya. Dan semakin bertanya-tanya, Tuhan seperti apakah itu Tuhan yang sebenarnya, yang ada di hadapanku ini? "Apakah Kau pendendam, Tuhan?"
"Aku bisa mendendam. Tentu saja. Tapi aku bukan pendendam." Ia tertawa kecil setelah jawabanNya itu. Sepertinya ada yang lucu di sana, sepertinya ada yang menggelitikNya tentang cerita itu. "apa kau mau punya Tuhan yang pemarah sekaligus pendendam, yang membunuh ribuan bayi-bayi kecil di Mesir hanya untuk mendatangkan seorang nabi? Yang marah-marah lantas menenggelamkan seisi dunia dalam air bah? Atau yang mengutuk manusia yang satu sementara meninggikan manusia yang lain? Keji sekali Tuhan seperti itu. Aku bukan Tuhan semacam itu."
Setelah tertawa halus, Ia teruskan lagi, "Kuberitahu padamu, Tuhan yang kau kenal itu, sungguh keji. Dan dia bukanlah Tuhan yang sesungguhnya. Akulah Tuhan. Tetapi bukan Tuhan yang keji seperti itu. Aku bukan Tuhan yang menuntut seisi alam semesta untuk menyembahku, aku tidak gila hormat, aku tak akan kirim orang yang menghujatku ke dalam api neraka jahanam seperti yang katanya dilakukan oleh Tuhan dongeng itu."
Ia tersenyum-senyum ketika mengatakannya. Rupanya cerita tentang betapa pendendam dan pemarahnya Tuhan, maksudku Tuhan yang bohongan, yang dipercayai oleh umat manusia, membuatNya merasa geli. Memang aku pun merasa, akan menjadi tontonan yang lucu, seandainya ada seonggok boneka yang orang-orang anggap adalah diriku. Tetapi, "apakah Kau Tuhan yang pencemburu?"
Singkat, jelas, dan padat, Ia menjawab sederhana, "kalau aku pencemburu, sudah kumusnahkan semua manusia seisi dunia yang bebal dan tak tau adat ini!" Lalu Ia tertawa cukup lepas. Rupanya tidak, Ia sama sekali bukan Tuhan pencemburu seperti yang dikatakan orang. Bahkan Tuhan yang sebenarnya memandang tragedi kesalahkaprahan manusia menyembah Tuhan-Tuhan palsu menjadi hal lucu untukNya.
***
Melihat Ia tertawa lepas aku langsung kembali dari perjalananku dalam pemikiran. Aku langsung menyadari keberadaanku, kembali lagi ke dalam diriku yang tengah terduduk di lantai bersama Tuhan. Bersama Tuhan! Ada Tuhan di hadapanku. Benar-benar Tuhan dan bukan sekadar tulisan, patung, ukir-ukiran, ataupun segala rupa hal lain yang terwakilkan oleh bentuk atau cuap-cuap para pemuka agama. Tuhan ada di sini bersamaku. Aku menjadi sedikit merasa konyol dan menjadi canggung lagi. Bagaimana sikapku seharusnya pada Tuhan? Apakah memberi setengah bungkus biskuit coklat, rokok, dan air putih sudah cukup sopan untuk menyambut kedatangan Tuhan? Atau harus kulakukan yang lain? "Apakah aku, dan manusia lain, ... perlu berdoa kepadaMu, Tuhan?"
"Untuk apa? Manusia sendiri yang mengatakan bahwa aku maha tau. Tentu, kalau aku mau, aku tau apa yang ingin kau ucapkan dalam doa."
"Memang... tapi berdoa padaMu kan belum tentu berarti meminta sesuatu. Bisa juga manusia berdoa untuk berterimakasih kepadaMu... mengekspresikan..."
Sekali lagi kata-kataku dipotong ketika aku belum selesai bicara, "tetap saja, untuk apa? Kau mau meminta, berterimakasih, curhat, atau mengutukku sekalipun, aku toh sudah tau apa yang hendak kau katakan. Lalu untuk apa lagi kalian membuatku sibuk dengan segala ocehan kau dan semua mahluk manusia di dunia? Bisa dikatakan kalian justru menghinaku kalau masih tetap saja berdoa padaku. Seperti memberitahukan sesuatu kepada seseorang bahwa besok matahari akan terbit di Timur, yang mana jelas-jelas sudah diketahui oleh orang itu. Apakah orang yang memberitahu itu menganggap yang diberitahu sedemikian gobloknya sehingga tidak tau apa yang diberitahukannya?"
Kata-kataNya menyeretku kembali ke dalam jalan-jalan pemikiran yang membuatku termenung-menung. Benar juga apa yang diucapkanNya, memang tidak perlu berdoa. Tetapi kalau begitu, kalau Tuhan sungguh maha tau sehingga kita tidak perlu lagi berdoa padaNya untuk memberitahukan apa yang jelas semestinya sudah diketahuiNya, mengapa ia masih perlu memberi ujian atau cobaan kepada manusia? Tetapi tunggu, apakah Ia memang mencobai manusia? "Tuhan, apakah Kau mencobai manusia?"
"Mencobai? Kata-kata macam apa itu?? Apa maksudmu?"
Ia mengatakan 'mencobai' dengan nada dan ekspresi yang menunjukkan kejijikan. Tiba-tiba aku heran juga, bagaimana Ia dapat mengaku bahwa Ia maha tau, sementara Ia tidak mengerti apa yang kukatakan ini, sepotong kata sederhana sesederhana 'mencobai'? Tetapi biarlah itu nanti saja akan kutanyakan. Satu per satu.
"Maksudku memberi ujian, memberi cobaan pada manusia...?"
"Sepertinya kau yang sedang ... mencobai ... aku. Kan sudah kukatakan aku maha tau. Tanpa ... mencobai dirimu pun aku sudah tau bagaimana itu dirimu, dari ujung kuku jempol kakimu, hingga sejentik ketombe di pucuk rambutmu. Kau jangan bawa-bawa ajaran sesat tentang Tuhan agama-agama itu, itu semua kebohongan. Tuhan yang dikatakan nabi-nabi itu mesti saja sungguh dablek, apa gunanya lagi mencobai manusia yang - katanya - ia ciptakan sendiri kalau ia memang benar-benar maha tau, sehingga semestinya ia tau segala sesuatu tentang manusia itu. Iya kan?"
Sebelum sempat aku mulai berpikir lagi, Ia sudah menambahkan, "dan Tuhan palsu itu, yang sekarang dikenal, merasa perlu menyuruh seorang nabi membantai anaknya sendiri, hanya untuk mengetahui kadar iman dan kesetiaannya. Dan Tuhan palsu itu juga mengirimkan azabnya kepada berjuta-juta manusia di muka bumi, dalam bentuk kelaparan, penyakit-penyakit, kematian, kemelaratan, penderitaan, semua itu hanya untuk sekadar 'mencobai'? Aku tak habis pikir bagaimana Tuhan yang semacam itu dapat disebut Tuhan? Yang maha tau pula!" Terdengar ekspresi kejijikan yang sama setiap kali Ia mengucapkan kata 'mencobai'.
Selain tidak membutuhkan doa-doa dari manusia, rupanya Tuhan yang tampak nyenterik ini tidak juga memberi cobaan pada manusia. Karena Ia maha tau, katanya. Tapi tadi Ia sendiri kebingungan tentang kata 'mencobai' yang kuucapkan. Bagaimana mungkin Ia maha tau, kalau begitu? Tapi sekali lagi itu nanti saja, ada satu hal lain yang harus kutanyakan dulu kepadaNya. Tuhan, yang sesungguhnya, memang tidak ... mencobai (aku pun menjadi agak jijik dengan kata itu) manusia, tetapi bagaimana dengan setan dan iblis yang melakukan dan menyebabkan segala yang jahat di muka bumi? "Apakah setan dan iblis itu ada, Tuhan?"
"Ah itu pun bohong, para nabi-nabi yang dungu itu cuma membutuhkan kambing hitam saja untuk segala keburukan. Mereka mati-matian berusaha untuk menjaga supaya nama Tuhannya, yang palsu itu, tetap bersih suci, maka mereka limpahkan segala yang buruk kepada setan dan iblis. Sesungguhnya justru, berbeda dengan yang dikatakan oleh para nabi-nabimu, semestinya aku dan iblis adalah satu, tidak terlepas dan terpecah menjadi dua seperti yang mereka percaya."
Ia ambil botol air mineral, membuka tutupnya, dan menempelkan lobangnya ke mulut. Seperti kehausan karena telah tanpa henti berbicara menjawab pertanyaan demi pertanyaanku, Ia minum cukup banyak, berteguk-teguk air meluncur melalui tenggorokanNya dengan bersuara. Aku dapat mendengarnya.
Setelah selesai, sambil menutup kembali botol air minumku, Ia seka mulutNya dengan lengan kaos oblongNya, dan segera melanjutkan, "aku ini Tuhan, dan karena aku Tuhan, aku mesti mencakupi segala sifat dan keadaan yang ada, baik atau buruk. Aku bukan hanya maha yang positif, maka aku pun mesti maha yang negatif, demikian barulah aku dapat dikatakan sebagai Tuhan. Manusia sendiri yang mengatakan, Tuhan adalah maha segalanya. Jadi jika salah satu sisi telah dipecah dan dipisahkan kepada pihak yang lainnya, maka jadilah aku Tuhan yang cacat, yang tidak lagi maha segalanya, dan oleh karena itu bukan lagi merupakan Tuhan." Ia berhenti sebentar seperti memeriksa kembali apa yang sudah dikatakanNya, kemudian baru berkata "kau mengerti tidak?"
Aku mengangguk-angguk mendengarkan jawabanNya, bahkan sesudah Ia selesai bicara pun aku masih mengangguk-angguk, dengan hanya sekilas mengucap "ya... ya..." karena disibukkan oleh pikiran yang tengah mengaduk pikiranku. Pemikiran tentang Tuhan yang baru saja diperkenalkan kepadaku oleh Tuhan sendiri. Bahwa Tuhan yang maha segalanya semestinya juga mencakupi baik dan buruk, positif dan negatif, besar dan kecil, segalanya, dan oleh karena itu pemisahan segala sifat yang negatif ke dalam diri iblis, setan, atau siapapun itu justru akan membuat Tuhan itu sendiri menjadi tidak lagi sempurna, tidak lagi maha segalanya. Hampir tanpa sadar, mengikuti pikiranku itu, aku menggumam, "jadi, ... Kau maha segalanya?"
Dan Ia hanya menjawab dengan penuh optimisme, "Kalau tidak demikian aku tidak disebut Tuhan!"
***
Dengan segera topik tentang kemahaanNya itu membuatku terpikir, semestinya Ia juga maha adil! Lalu bagaimana dapat segala ketidakadilan dan kehancuran dunia sekarang ini terjadi? Mengapa Ia tidak memperbaikinya, atau setidaknya membuatnya jadi lebih baik, atau menunjukkan batang hidungnya dan mengatakan dengan tegas apa yang Ia kehendaki? Aku memutuskan untuk menanyakan hal itu kepadaNya, tetapi dengan perlahan-lahan.
"Tuhan, berarti Kau maha adil juga?"
"Perlu ditanya? Tentu saja!"
"Lalu... maaf... tapi kalau Kau maha adil, bagaimana dunia ini dapat menjadi dunia yang sangat tidak adil seperti sekarang? Yang dipenuhi dengan kejahatan dan pembunuhan, yang rusak berantakan, dan sangat amburadul...?"
Aku mengatakannya dengan sedikit hati-hati, secara tidak sadar aku takut Ia sampai marah atau tersinggung karena pertanyaanku. Tetapi ternyata Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalaNya dengan ringan, dan kemudian sambil berkata "ck.. ck.. ck.. kau belum mengerti juga ya?"
Ia menatap ke lantai dan mematikan rokok yang sejak tadi sudah tidak lagi dihisapNya, lantas berbicara "justru itu intinya. Aku ini maha adil, dan oleh karena itu aku tidak dan tidak dibenarkan dan tidak dapat memihak kepada pihak yang manapun yang ada. Aku harus membiarkan segalanya terjadi tanpa campur tanganku, keadilanku adalah keadilan yang utama, keadilanku benar-benar merupakan suatu kenetralan absolut, di mana aku tak menghadirkan diriku di mana pun, bahkan aku tak ambil peduli terhadap apapun, bagaikan bahwa aku ini tidak ada."
Kali ini apa yang dikatakanNya agak sulit untuk kucerna, tetapi perlahan-lahan dapat juga kumengerti. Ia maha adil justru karena Ia tidak memihak kepada apapun, entah itu baik atau pun buruk, maka dengan demikian segalanya terbebas dan mesti Ia bebaskan dari campur tanganNya, membiarkan segalanya mengalir dan terjadi tanpa Ia perlu dan boleh ambil perduli. Ia maha adil karena Ia maha segalanya, dan dengan demikian Ia menjadi sungguh netral secara absolut dalam arti yang sesungguhnya.
***
Berarti semestinya... "Tuhan... kalau Kau tidak memihak kepada sisi yang manapun, berarti Kau pun tidak memaksakan... atau katakanlah meminta manusia untuk melakukan perbuatan baik?"
"Tentu saja tidak. Itu kan Tuhan dongeng, yang dikatakan para nabi-nabi itu. Sementara aku nggak begitu. Aku nggak ngancem, juga nggak minta-minta kau melakukan perbuatan apapun. Sakarepmu dhéwék!"
"Bagaimana dengan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan manusia, Tuhan? Seperti memperkosa, merampok, membunuh, ... perang, penindasan, dan lain-lain... apakah Kau akan menghukumnya?"
"Kau sebut apa itu tadi segala macem memperkosa, merampok, membunuh, dan lain-lain?"
Kujawab "... perbuatan buruk..." dengan sedikit ragu dan sekaligus dengan nada yang seperti sebuah nada untuk bertanya.
"Nah itu udah tau. Buruk. Semestinya yang buruk ndak usah dilakukan, toh? Aku ngga ambil pusing dengan apa yang kalian lakukan di sini. Sabodo teuing."
Setelah mengatakan yang terakhir itu, tiba-tiba Ia mengangkat punggungNya yang sebelumnya disenderkan di lemari. Ia ambil botol air mineral dan minum kembali. Kali ini sedikit. Setelah selesai minum, sambil menutup botol Ia berkata "sudah ya, aku mau tidur dulu. Capek nih!"
Aku tergagap-gagap melihatnya perlahan-lahan meletakkan botol air mineral ke lantai. Ada sesuatu yang belum kutanyakan, tetapi aku agak sulit untuk mengingatnya. Ada yang terlupakan yang kutunda sebelum aku sempat bertanya. Aku merasakan keterburu-buruan untuk mengingat, hingga tiba-tiba aku teringat dan berkata dengan cukup keras "Oh! ... Tuhan! Ada yang belum kutanyakan... kalau Kau maha tau, kenapa sepanjang percakapan kita sepertinya Kau... tidak maha tau... setidaknya Kau tidak tau tentang kata 'mencobai'...?" Keningku terasa berkerut ketika menanyakannya.
"Ah. Kau tak punya rasa humor!" Hanya itu jawaban yang kemudian Ia berikan, sebelum tiba-tiba setelah mataku terbuka dari sebuah kedipan yang amat singkat, Ia telah menghilang, berubah bentuk menjadi seekor kecoak di sudut lemari pakaianku, di atas lantai.
Aku merangkak ke depan perlahan-lahan, dan bertanya, "Tuhan, apakah kita akan bertemu lagi?"
Sambil membalik arah tubuhNya menuju ke almari, dan entah bagaimana menurutku Ia tengah tersenyum lebar, Ia menjawab, "itu rahasia ilahi."
Setelah itu Ia mulai bergerak perlahan, dengan tanpa suara menyelip masuk ke kolong lemari pakaianku, menghilang di dalamnya.
***
Itulah pertama dan terakhir kalinya aku bertemu dengan Tuhan. Ketika Ia berjalan memasuki kolong lemari pakaianku, sebagai seekor kecoak, adalah terakhir kalinya aku melihatNya.
Sekarang telah berselang dua hari sejak kejadian itu. Sepanjang dua hari ini aku sering sekali terbengong-bengong memikirkan apa yang terjadi di subuh hari dua hari kemarin, yaitu bahwa Tuhan telah datang ke dalam kamarku, sebagai seekor kutu, yang kemudian menjadi manusia, dan terakhir menjadi kecoak. Tuhan bukan hanya datang, tetapi juga berbicara dan mengobrol denganku, menghisap dua batang rokokku, minum dari botol air mineral milikku, Ia juga bahkan makan biskuit coklatku, yang tinggal setengah bungkus itu.
Selama dua hari ini aku hampir-hampir tidak dapat percaya pada apa yang kualami. Tetapi bagaimana aku dapat tidak percaya, jika ada tiga batang puntung rokok yang tergeletak di dalam asbakku, dan juga kini biskuit coklatku telah habis tanpa sisa. Dan yang membuatnya demikian, maksudku yang menghisap rokok yang dua batang, dan yang memakan biskuit coklatku, siapa lagi kalau bukan Tuhan.
Aku sungguh-sungguh bingung. Aku tak tau harus bagaimana. Bahkan aku tidak tau apakah sebaiknya kuceritakan hal ini kepada orang lain. Kepada pacarku sendiri aku belum menceritakannya. Tidak juga kuceritakan tentang berbagai macam hal yang Tuhan ceritakan kepadaku. Tetapi bagaimanapun aku harus menceritakan hal ini kepada seseorang. Seseorang yang kupercayai dan dapat memberiku pendapat yang benar.
Setelah berpikir demikian, aku segera menghubungimu lewat telepon, aku akan membuat janji untuk bertemu denganmu. Tetapi ternyata kau sedang pergi dan baru akan kembali tiga hari ke depan. Maka kuputuskan untuk menuliskan terlebih dahulu semua ini, agar ingatan-ingatanku tentang perjumpaan dengan Tuhan dua hari yang lalu itu masih jernih di dalam benakku.
Yang kuharapkan adalah profesimu sebagai psikiater dapat memberi masukan-masukan dan pendapat yang berharga untuk apa yang kualami. Setelah ini aku akan meletakkan surat ini di meja kerjamu di Rumah Sakit Grogol, mohon kau dapat menghubungiku dengan segera setelah kau pulang dan kembali bekerja. Terimakasih.
Kawanmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)